
...............................
"Kalau begitu mas istirahat saja, Nisa dan yg lainnya akan menunggu mas disini."
"Baiklah." Ucap Zein dengan terpaksa. Ia tak tega menyuruh istrinya untuk menunggunya disitu, tapi ia juga masih sedikit lemah untuk berdebat. Ahirnya ia pun menyetujui usul Nisa.
βBeberapa hari kemudian
Nisa dan Zein sudah diperbolehkan pulang 1 jam yg lalu. Bayi Zi mereka juga ikut serta pulang. Suasana haru masih menyelimuti keluarga kecil Nisa.
Persalinan yg ia impikan tak seindah bayangan, tapi ia bersyukur suaminya masih bisa selamat dari kecelakaan kali ini.
Sekarang mereka mulai menata hidup mereka kembali. Kedua orangtua Nisa dan Zein masih tinggal di kota J. Sedangkan kakak Nisa sudah pamit pulang terlebih dahulu. Sebab ia hanya bisa mengambil cuti 4 hari. Jadi sebelum Nisa dan Zein keluar rumah sakit, ia sudah terlebih dulu ijin pulang ke rumahnya.
Oek ... oek ... oek ....
Terdengar suara tangis dari bayi Zi, ibu mertua Nisa pun segera menghampiri cucu pertamanya tersebut. Lalu beliau menimang nimang cucunya tersebut agar tidak menangis. Sedangkan Nisa masih mandi.
Karena Nisa tidak menyediakan susu formula buat bayi Zi, maka semua asupan gizi buat bayi Zi semuanya berasal dari ASI Nisa.
Nisa yg sedang mandi segera bergegas, tapi ia juga tidak mau terburu-buru, karena bagaimanapun tenaganya belum pulih pasca melahirkan. Sedangkan ibu Nisa masih setia menunggu di depan pintu kamar mandi Nisa untuk membantu Nisa berbenah.
Sedangkan Zein masih harus istirahat agar cepat sembuh. Ayah dan ayah mertua Nisa sedang mengobrol di depan teras.
5 menit kemudian. Nisa sudah selesai, ibu mertuanya pun segera memberikan bayi Zi pada Nisa untuk menyusu.
"Aduh cucu nenek, gemoy sekali ya ..." Ucap ibu Nisa.
"Ho oh, ganteng pisan ... jadi gemes deh nenek" Ucap ibu mertua Nisa tak kalah heboh.
"Sudah-sudah, biar mik cucu dulu ya sayang ..." Ucap ibu Nisa menengahi, sudah bisa dipastikan kalau ia menanggapi besannya, maka kasihan bayi Zi kelamaan menunggu.
"Maaf ya Nis, ibu suka lupa kalau udah gendong cucu." Ucap ibu mertua Nisa.
"Iya gapapa buk."
Lalu Nisa pun mulai menyusui bayi Zi. Bayi Zi pun melahap nutrisi pentingnya. Untung saja selama ini bayi Zi selalu anteng, mungkin karena banyak keluarga disini, ia tidak rewel.
Selama masa nifas, ibu dan ibu mertuanya akan menjaga Nisa dan bayinya. Begitu pula dengan Zein yg tak keberatan keluarganya tinggal sementara disini. Ia pun tak bisa berbuat banyak, karena kecelakaan kali ini cukup membuatnya sadar, bahwa kelalaian sedikit saja, bisa membuatnya jauh dari keluarga kecilnya.
Apalagi perkataan dokter Richard kapan hari, membuatnya sedikit was-was. Ia tak menyangka kalau kecelakaan kali ini bisa terjadi lagi, padahal ia sudah berhati-hati, tapi takdir berkata lain.
Yang harus ia jaga kali ini adalah malaikat kecil yg sudah ia impikan sedari dulu, bayi Zi penerus keluarganya. Meskipun ia belum boleh menggendongnya tapi ia cukup bahagia melihat tumbuh kembangnya, mata bulatnya, pipi gembulnya, membuatnya ingin selalu di dekatnya.
βDi sudut kota
Fadhil tampak memandang sekeliling kantornya. Ia tampak memikirkan sesuatu. Ya, di kembali mengingat wajah Nisa dan bayinya.
Beberapa hari lalu, setelah ia menyelesaikan rapatnya, ia bergegas kembali ke rumah sakit tempat Nisa dan Zein dirawat. Tetapi saat ia masuk kamar Zein, ia melihat ruangannya itu penuh orang, dan ada Nisa disana, Zein juga sudah siuman, ia pun tak jadi melanjutkan masuk. Ia memilih kembali pulang karena tak mau menganggu.
Beberapa hari kemudian ia pun kembali ke sana, tapi Nisa dan Zein sudah pulang, ia mendapat kabar dari dokter Richard, dan ia pun kembali ke kantornya dengan kecewa. Takdir sungguh aneh, disaat ia sudah berhasil melupakannya, tapi ia membawa mereka kembali bertemu.
~π~π~π~π~π~
Dear Cinta,
Saat engkau datang kepadaku
Aku sungguh tak tahu apa itu cinta
Tapi semakin lama aku mengenalnya
Aku semakin terpuruk ke dalam
Ke dalam lubang yg semakin dalam
Disaat aku menyerahkan seluruh asa dan harapanku padamu
Engkau meninggalkanku
Meninggalkan dengan semua seluruh kenangan indah
Lalu aku pun mencoba bangkit saat itu
Melupakan dan membuang semua asaku
Membuang kenangan indah bersama
Disaat aku berhasil bangkit
Engkau datang kembali dengan segala pertanyaan
Aku bahkan datang disaat nyawa lain hadir
Dan aku hanya bisa memandangmu
Memandang ditempat yg sama
Rasa ini masih sama seperti dulu
Bahkan tak pernah berkurang meski engkau pergi
Sekarang aku semakin mencintaimu
Terimalah semua kasih sayangku padamu
I love you
~π~π~π~π~π~
Dret
Dret
Dret
Sering telpon membuyarkan lamunan Fadhil saat itu, ia pun mengambil HP dari sakunya.
"Dokter Richard" Gumamnya dalam hati.
"Hai ...." Ucapnya dari seberang sana.
"Hai dokter, apakabar?"
"Kau masih mengingatku rupanya, ha ... ha ... ha ...."
"Tentu saja aku mengingatmu dokter." Ucap Fadhil basa basi.
"Begini, kamu masih ingat Nisa dan suaminya bukan?"
"Tentu aku mengingat mereka, ada apa dok?"
"Mereka memintaku untuk memberi tahumu, kalau mereka mengundangmu untuk makan malam di rumahnya, sebagai ucapan terimakasih mereka karena sudah menolong mereka tempo hari."
"Ehmmm ... kapan itu dok?"
"Besok malam, bagaimana? apa kau masih banyak pekerjaan?"
"Tidak, bukan begitu maksudku, hanya saja aku gak tahu alamat rumah mereka."
"Kalau begitu, nanti aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu, tapi maaf besok aku tidak bisa hadir, karena aku ada shift malam."
"Jadi aku sendirian dok?"
"Iya, tak apa kan? tenang keluarga mereka baik semuanya, aku sudah kenal dekat dengan mereka."
"Tapi ...?"
"Tapi kenapa?"
"Ehm ... sudahlah, tak apa dok, akan saya usahakan datang kesana besok malam."
"Baiklah terimakasih Fadhil, aku pamit dulu, masih banyak tugas yg menantiku." Pamit dokter Richard pada Fadhil.
"Terimakasih dok, untuk undangannya."
"Sama-sama."
Lalu sambungan telepon mereka terputus. Fadhil pun kembali berkutat dengan pekerjaannya. Lalu setengah jam kemudian ia pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya terganggu akan sosok Nisa yg selalu membayanginya beberapa hari terakhir. Ia pun bingung bagaimana nanti ia memposisikan dirinya saat berkunjung ke rumah mereka.
Alamat rumah mereka pun tak jauh dari rumahnya, tapi ia tak menyangka, takdirnya begitu rumit. Sosok yg ia hindari selama ini kembali muncul dan menyibak luka lama yg sudah terpendam didalam hatinya.
Ia pun menghembuskan nafas dengan kasar sambil terus fokus pada stir kemudinya. Tiga puluh menit kemudian ia pun sampai di rumahnya. Sudah setahun terakhir ini ia tinggal sendiri di rumah kontrakannya ini. Ia sebenarnya sudah membeli sebuah rumah disalah satu sudut kota J, tapi ia masih belum menempatinya. Ia masih nyaman dengan rumah kontrakannya ini.
Tapi mungkin jika ia sudah menemukan tambatan hati atau lebih tepatnya calon istri, ia akan pindah ke rumah barunya itu.
.
.
.
Bersambung.