After Married

After Married
HARI H



Tujuan lain dari tradisi pingitan ini di antaranya untuk memupuk rasa rindu bagi kedua calon mempelai, membangun rasa saling percaya, melatih kesabaran, dan menjauhkan dari segala mara bahaya.


...🌿 Keesokan harinya 🌿...


Ahirnya hari yang ditunggu telah tiba. Pagi ini Nisa dan Zein akan melakukan prosesi siraman di tempat yang berbeda, yaitu di kediaman masing-masing.


Karena Nisa dan Zein sama sama berdarah Jawa, maka prosesi yamg dilakukan pun menurut adat Jawa. Dan yang pertama mereka lakukan adalah proses siraman. Hal ini dilakukan untuk membersihkan jiwa pengantin.


Pertama tama Nisa memohon doa restu kepada kedua orangtuanya, kemudian ia pun duduk di tikar pandan yang sudah disediakan dan mulailah ia disiram oleh pinisepuh, yakni orang yang ‘dituakan’ yaitu nenek Nisa dan beberapa kerabat yg telah ditunjuk. Lalu sesudahnya ia disiram air kendi oleh ibu dan ayahnya.


Secara harafiah, siraman berarti mandi dengan air. Pada ritual ini, akan ada tujuh orang yang menyiramkan air ke sang pengantin. Dan yang paling akhir adalah Ayah Nisa yang akan menyelesaikan ritual, yang dilambangkan sebagai pembersihan diri sebelum menjalankan ritual selanjutnya yang lebih sakral. Selain bertugas mengakhiri siraman tersebut, Ayah Nisa juga akan menggendong Nisa menuju kamar pengantinnya.


Proses selanjutnya adalah paes atau ngerik. Persis sehabis upacara siraman, upacara paes dilakukan di kamar Nisa. Bukan hanya diikuti Nisa, tapi upacara ini diikuti juga oleh ibu Nisa, dan beberapa ibu-ibu sepuh lainnya.


Yang dimaksud dengan ngerik ialah mengerik atau menghilangkan rambut-rambut halus di wajah calon mempelai perempuan agar nampak bersih dan wajahnya jadi bercahaya.


Lalu prosesi selanjutnya adalah adol dawet.


Kemudian, kedua orang tua Nisa menyelenggarakan acara menjual dawet sebagai hidangan kepada para tamu undangan yang telah hadir menyaksikan prosesi yang telah berjalan.


Tetapi, penjualan dawet ini tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan kreweng atau pecahan tembikar dari tanah liat sebagai tanda bahwa pokok kehidupan berasal dari bumi.


Di sini, Ibu Nisa akan melayani para pembeli, sedangkan Ayah Nisa akan memayungi sang ibu. Artinya adalah untuk memberikan contoh kepada anak-anaknya di kemudian hari bahwa mereka harus saling bergotong royong dalam membina rumah tangga.


Kemudian acara selanjutnya adalah potong tumpeng.Tumpeng merupakan sajian nasi berbentuk kerucut dengan aneka lauk pauk yang ditata mengelilinginya di atas nampan bulat yang terbuat dari anyaman bambu.


Dalam ritual Jawa, tumpeng identik dengan simbol kemakmuran dan kesejahteraan karena bentuknya menyerupai gunung. Prosesi pemotongan tumpeng ini akan dilakukan oleh ayah dan ibu Nisa dengan mengambil bagian puncak tumpeng dan lauk pauknya.


Lalu acara berikutnya adalah acara dulangan pungkasan yaitu prosesi suapan terakhir yg dilakukan oleh ayah dan ibu Nisa kepada putrinya sebagai tanda tanggung jawab terakhir dari orang tua kepada anaknya yang akan menikah.


Lalu acara tersebut dilanjutkan dengan tanam rambut dan lepas ayam. Menanamkan potongan rambut kedua calon mempelai bermaksud agar segala hal buruk dijauhkan dari rumah tangga kedua anaknya. Setelahnya akan dilanjutkan dengan pelepasan ayam jantan hitam yang menandai bahwa kedua orang tua telah mengikhlaskan anaknya hidup mandiri bagaikan seekor ayam yang sudah dapat mencari makanan sendiri.


Setelah semua proses tersebut selesai hampir seharian penuh, malamnya Nisa akan menjalani proses " Midodareni ".


Kata midodaren sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu 'widodari' atau bidadari dalam bahasa Indonesia.


Arti kata midodareni sendiri adalah bidadari, sehingga harapan dari ritual malam sebelum melepas masa lajang ini adalah sang pengantin wanita akan terlihat cantik esok harinya bak bidadari dari surga. Tak lain dan tak bukan yg dimaksud adalah Nisa.


Pada malam ini, pengantin wanita akan ditemani oleh pihak keluarga saja dan dilarang bertemu oleh calon suaminya karena ia akan menerima nasehat-nasehat yang berkaitan dengan pernikahan.


...🌿 Lalu keesokan harinya 🌿...


Setelah Nisa dimake up sejak pukul 05.00 pagi, ahirnya ia selesai juga dimake up dengan adat jawa. Ia terlihat sangat cantik.



Lalu selesai berganti baju, ia duduk di tempat yang telah disiapkan sambil menunggu Zein mengucap ijab qobulnya.


Tepat jam 08.00 WIB, Zein yang sudah datang dengan seluruh keluarganya sudah duduk di depan menghulu.



Yang duduk di depannya kini adalah wali nikah Nisa yg tak lain adalah ayah Nisa sendiri dan ada pak penghulu dan para petugas KUA juga dibelakang mereka telah duduk para saksi yang sudah hadir.


Setelah semuanya siap, ayah Nisa pun membacakan lafal ijab. Suasana tampak hening seketika, lalu ayah Nisa berkata sambil menjabat tangan Zein.


"Saya nikahkan engkau Ananda Muhammad Zein bin Abimanyu dengan Annisa Faiha binti Abdul Nadzar dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas 18 carat dibayar tunai."


Lalu Zein dengan satu tarikan nafas ia mengucap lafal kabul...


"Saya terima nikahnya Annisa Faiha binti Abdul Nadzar dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas 18 carat dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah," ucap semua hadirin dan para saksi.


"Alhamdulillah," ucapnya.


Lalu mereka membaca doa bersama sama.


Nisa yang mendengarkan diseberang sana pun mengucap alhamdulillah disertai rasa haru bahagia. Lalu ia pun diapit ibunya dan periasnya untuk mendekati suaminya untuk menandatangani surat nikah.


Kemudian setelah menandatangani surat nikah, Zein memasangkan cincin di jemari Nisa. Nisa pun mencium tangan Zein dan Zein membalasnya dengan mencium kening Nisa.


Keduanya tampak haru bercampur bahagia melewati semuanya. Kini tinggal mereka berdua melewati proses adat selanjutnya.


Kemudian mereka melanjutkan dengan Upacara panggih.


Prosesi dimulai dengan datangnya Zein dan rombongan ke kediaman calon mempelai perempuan, mereka berhenti di depan pintu masuk rumah.


Pada sisi rombongan mempelai laki-laki, ada dua orang lelaki muda atau dua orang ibu membawa masing-masing serangkaian bunga yang disebut kembar mayang.


Salah satunya membawa sanggan yang dibungkus daun pisang dan ditaruh di atas nampan. Sanggan diserahkan kepada ibu mempelai perempuan.


Sedangkan kembar mayang dibawa keluar area rumah dan dibuang ke jalan di dekatnya, dengan maksud agar upacara pernikahan selalu berjalan lancar tanpa gangguan.


Setelah itu mereka melakukan "Balangan gantal"


Dalam proses temu manten ini, gantal atau sirih yang diikat oleh benang putih akan saling dilempar oleh kedua pasangan. Jarak antar mempelai kurang lebih lima langkah.


Zein akan melemparkan gantal ke dada pengantin wanita sebagai tanda bahwa ia telah mengambil hati sang kekasih, dan Nisa akan menujukan gantal ke lutut Zein sebagai tanda bakti kepada suami.


Menurut kepercayaan kuno, daun sirih punya daya untuk mengusir roh jahat dalam diri masing-masing calon mempelai juga.


Lalu sesudahnya Nisa dan Zein menjalani adat berikutnya yaitu "Ngidak tagan/nincak endog"


Ritual menginjak sebutir telur ayam mentah oleh Zein dan itu dilaksanakan sebagai harapan bahwa ia akan mendapatkan keturunan karena keduanya telah bersatu. Kemudian, Nisa akan membasuh kaki Zein sebagai tanda kasih sayangnya.