After Married

After Married
PERTENGKARAN KECIL



Saat itu Nisa juga konsultasi tentang kondisinya saat itu, terlebih ia merasa aneh ketika ia didekati suaminya ia bisa merasakan mual dan bertanya bagaimana mengatasi hal tersebut.


"Nah bener itu dokter, kenapa hal itu bisa terjadi?" tanya Fadhil penasaran.


"Ehem, jadi begini pak, hal itu terjadi karena sedang terjadi perubahan hormon di tubuh istri anda, akibatnya pun bisa bermacam-macam. Bahkan ada yang tidak mau melihat kehadiran suaminya loh."


"Hah, maksud dokter apa?" Ucap Fadhil lemas.


"Iya Pak, jadi memang perubahan hormon itu bisa mengakibatkan berbagai macam hal. Tetapi seiring perjalanan waktu, semuanya akan kembali normal, bapak enggak usah hawatir."


"Alhamdulillah kalau begitu dokter."


Fadhil pun merasa lega karena artinya ia tidak akan selamanya jauh dari istrinya itu. Sedangkan Nisa masih setia memandangi suami dan anaknya. Mulai dari sekarang ia pun harus bisa mendekatkan Zi dengan Fadhil agar saat si kecil lahir, ia tidak akan kerepotan.


"Sudah tidak ada yang ditanyakan lagi?" tanya dokter Wenny.


"InsyaAllah enggak dokter, nanti kalau ada hal yang emergency biar kita hubungi dokter saja," jawab Nisa.


"Baik kalau begitu ini saya resepkan beberapa obat dan vitamin buat Ibu Nisa, jangan lupa diminum dan jaga asupan nutrisi yang masuk ya Bu."


"Baik dokter, terimakasih banyak dokter, kami permisi."


Lalu mereka bertiga meninggalkan ruangan dokter Wenny dan menuju apotek untuk menebus obat. Saat diperjalanan Zi terlihat murung kembali.


"Kamu kenapa sayang?"


"Aku gak pengen ngeliat Mommy menderita."


"Mommy enggak menderita sayang, justru Moms baik-baik saja, apa yang perlu dihawatirkan?"


"Tapi adik bayi menyakiti Moms?"


Nisa berdiam ia pun berjongkok untuk kembali menyamakan tingginya pada Zi.


"Kenapa kamu bisa berkata begitu?"


"Tadi kata dokter Moms dan Daddy tidak bisa bersama selama Moms masih mengalami mual karena adik bayi, Moms jadi sakit seperti ini."


Nisa tertawa akan sikap polos putranya. Ia tau Zi sangat menyayangi dirinya dan tak suka bila dirinya sampai terluka.


"Engga begitu kok sayang, adik enggak menyakiti Moms, justru dia lagi adaptasi dengan tubuh Moms, ahirnya jadi seperti ini."


Fadhil yang menemukan Nisa dan Zi tertinggal jauh dari dirinya segera menghampiri istri dan anaknya tersebut.


"Kamu enggak kenapa-napa kan sayang?"


"Enggak kenapa-napa kok, kita hanya mengobrol sebentar aja."


"Ya sudah kita pulang dulu yuk," ajaknya.


Lalu mereka bertiga segera meninggalkan rumah sakit dengan segera.


...***...


Hari berganti begitu cepat, kini sudah lebih dari seminggu dari pemeriksaan kandungan Nisa yang pertama kali kemarin. Tetapi kondisi Nisa masih belum stabil, setiap pagi ia masih mengalami morning sickness yang parah.


Perutnya sama sekali tidak bisa tersentuh oleh nasi putih. Hanya beberapa buah segar dan susu ibu hamil yang bisa ia konsumsi setiap harinya.


Fadhil yang melihat penderitaan istrinya semakin tidak tega, bahkan ia menyarankan agar Nisa mengguggurkan kandungannya saja daripada melihatnya terluka dan kesakitan setiap harinya.


Seperti pagi itu.


"Sayang bila kamu terus kesakitan seperti itu lebih baik kamu gugurkan saja kandungannya." Ucap Fadhil sudah putus asa.


"Mas! kamu bicara apa? jangan pernah memintaku untuk seperti itu. Itu hal yang amat dibenci Allah mas."


"Tapi aku tidak tega melihatmu terus seperti itu sayang," ucapnya lemas.


"Bagaimanapun ini buah hati kita mas, mas tau sendiri mas sangat menginginkan anak ini bukan?"


"Iya, aku mengerti tapi aku tidak tega sayang."


"Mas dengerin aku, dulu saat aku hamil Zi, aku juga mengalami hal ini, bahkan lebih parah dari ini, tapi aku tak pernah mengeluh, bahkan Mas Zein sangat mendukungku."


"Tapi aku bukan Zein Nisa! " bentak Fadhil pada istrinya.


Kesakitan yang dilihatnya setiap hari membuatnya tidak bisa menahan dirinya untuk mengatakan hal tadi. Rasa sayangnya pada istrinya membuatnya kalang kabut, disatu sisi ia mengharapkan anak itu lahir, tetapi disisi lain, Nisa harus kesakitan setiap hari. Meskipun itu hanya morning sickness.


"Mas, dengerin aku ..." ucapnya mulai menangis.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk membandingkan dirimu dengan orang lain ataupun sebaliknya."


"Kamu tidak tau betapa banyak pengorbanan yang dilakukan ibu-ibu di luar sana untuk bisa mendapatkan keturunan dan mas, ingin menghilangkan nyawa calon anak kita sebelum lahir?"


"Apa mas tega?"


Fadhil masih diam mematung, rasa cintanya pada Nisa membuatnya gelap mata. Awalnya ia sangat bahagia mendapat kabar itu, tetapi melihat perjuangan istrinya ia jadi bingung. Apalagi ia juga melihat perjuangan Nisa saat melahirkan Zi dulu.


Posisi Fadhil bukan suami Nisa saat itu, tetapi saat kelahiran Zi, orang yang menemani sekaligus meng-adzani Zi adalah dirinya. Kalau mengingat hal itu, rasanya ngilu sekali apalagi saat proses Nisa dijahit.


"Nisa sayang, maafkan mas yang tidak memikirkan perasaanmu, aku janji tidak akan memintamu lagi untuk hal ini."


Fadhil pun memeluk istrinya dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. Nisa masih terisak dalam pelukan suaminya tersebut.


Ia tidak pernah menyangka suaminya bisa berkata demikian. Mungkin kedewasaan beberapa orang memang terlihat berbeda. Atau mungkin pekerjaan di kantor suaminya lagi ada masalah. Sehingga membuatnya seperti itu.


Setelah beberapa saat, keadaan mulai membaik. Nisa pun ingin beristirahat begitu pula dengan Fadhil. Ia pun menutup semua tirai di kamarnya dan mematikan lampu utama. Ahirnya malam itu mereka bisa tidur bersama lagi.


...***...


Keesokan harinya.


"Mas, bangun, sapaan sudah siap."


"Iya sayang, sebentar lagi mas turun."


"Mau turun kemana mas?"


"Ke lantai bawah lah untuk sarapan bersama."


"Ngapain ke bawah, sarapan di kamar aja."


"Kok gitu? kasian Zi dong sayang," ucapnya sambil mengucek kedua matanya.


"Zi udah berangkat setengah jam yang lalu."


"Hah, kemana sayang? kok ga pamit?"


"Udah pamit sama aku tadi. Hari ini ia mulai study tour."


"Oh ya sudah kalau begitu, aku cuci muka dulu."



"Ngapain cuci muka, gitu aja udah ganteng kok"


"Ah serius? kalau gitu aku minta itu dong yang ..."


"Aisshh... pagi-pagi minta apaan?"


"Minta itu loh, kan udah lama kita ga ehem-ehem sayang."


"Pagi-pagi jangan mesum ..."


Hap, tangan Fadhil sudah memeluk pinggang dan tubuh Nisa. Ia pun menjatuhkan Nisa tepat diatas pangkuannya. Dan cup... sarapan pagi mau dimulai.


Ehem ... ehem ... kira-kira sarapan pagi yang lezat itu seperti apa ya? apakah sama dengan yang dilakukan Fadhil dan Nisa pagi itu... wkwkwk... kita tunggu aja update selanjutnya. Assalamu'alaikum ..


...~Bersambung~...


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...