
Setelah masuk kamar yang dimaksud, Nisa didampingi seorang suster yang menjelaskan prosedur apa yang harus ia lewati kali ini.
Sesudahnya beberapa suster dan dokter mulai memeriksa kembali kondisi Nisa. Pertama-tama bagian perut Nisa mulai diukur dengan menggunakan alat ukur seperti meteran, lalu saat bagian perut masih di ukur, ada sebuah alat yang ditempelkan diatas perut Nisa untuk mendengarkan detak jantung bayi.
Sebelum proses induksi persalinan dimulai, dokter juga meminta Nisa untuk melakukan uji profil biofisik atau pengujian non stres tes (NST).
Tes medis tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi dan respon sang bayi.
Lalu sesudahnya tekanan darah Nisa juga diukur kembali seperti beberapa saat lalu.
Selain hal-hal tadi Nisa juga diberi tau hal-hal apa yang harus dilakukan selama menunggu proses pembukaan lengkap.
Setelah beberapa suster dan dokter keluar dari ruang kamar Nisa. Seorang bidan lain yang menangani Nisa juga masuk serta membawa obat yang akan digunakannya untuk induksi.
Sebenarnya proses induksi ini dilakukan karena Nisa mengalami pre eklampsia selama masa kehamilannya kali ini.
Sedangkan arti dari induksi persalinan adalah prosedur untuk melancarkan proses melahirkan.
Induksi menjadi sangat penting dilakukan apabila berisiko membahayakan ibu dan janin saat persalinan. Prosedur yang juga dikenal dengan nama induksi melahirkan ini dilakukan dengan tujuan untuk merangsang otot rahim guna mempermudah persalinan.
Kali ini obat yang digunakan untuk proses induksi Nisa adalah oksitosin (pitocin), sehingga waktu yang dibutuhkan untuk pembukaan lengkap antara enam sampai dua belas jam lagi.
Pitocin sebenarnya adalah versi sintetis dari hormon oksitosin yang diproduksi secara alami dalam tubuh. Pitocin digunakan untuk melebarkan leher rahim dan merangsang atau meningkatkan kontraksi rahim.
Oksitosin sendiri merupakan hormon yang diproduksi tubuh secara alami untuk memicu rahim berkontraksi. Oksitosin digunakan untuk merangsang atau meningkatkan kontraksi calon ibu. Dokter akan memberikan pitosin melalui cairan infus dalam dosis rendah.
Pasokan tambahan oksitosin ini akan mempercepat kelahiran bayi dengan memicu refleks keluarnya janin dan memudahkannya turun melalui jalur lahir.
Banyaknya jumlah oksitosin yang diperlukan akan disesuaikan dengan kebutuhan calon ibu.
Agar leher rahim menipis atau terbuka, dokter mungkin akan memasukkan obat induksi persalinan prostaglandin ke dalam v***na Nisa.
Obat induksi persalinan ini bertindak seperti hormon prostaglandin sehingga dapat membantu mematangkan leher rahim untuk persalinan. Kadang, obat ini juga dapat merangsang kontraksi melahirkan asli dan bukan kontraksi palsu.
.
.
Saat semua prosedur sudah dilakukan, kini Nisa tinggal menunggu efek obat itu bekerja.
Saat ini pikirannya masih berkelana entah kemana. Mungkin kesadarannya agak berkurang atau karena pikirannya sedang bercabang, akibatnya ia tidak terlalu mendengar perkataan bidan tersebut.
Sesudah selesai melakukan tugasnya, para bidan dan suster segera meninggalkan Nisa sendirian di kamar itu.
Matanya terpaku pada sebuah foto suami sekaligus cinta pertamanya Zein. Ada kerinduan yang mendalam yang ia rasakan saat ini.
Ia juga tiba-tiba merindukan Zi. Sepertinya baru kemarin ia melahirkan Zi, nyatanya saat ini ia akan melahirkan kembali untuk kedua kalinya.
Nisa membelai lembut perutnya itu, tak lupa ia memanjatkan doa-doa untuk sang jabang bayi.
Sampai tak terasa kini jam makan siang sudah tiba.
Fadhil yang berada di luar juga merasakan kecemasan yang sama. Apalagi dari tadi proses pembukaan dari Nisa belum bertambah.
Tak lama kemudian seorang suster masuk ke ruangan Nisa dan membawa satu nampan makanan.
"Selamat siang Bu."
"Selamat siang suster."
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Ya begini saja suster."
"Oh ya suster, bisa bantu saya ke kamar mandi sebentar?"
"Bisa Bu, mari saya bantu bawakan inpusnya."
"Terimakasih suster."
Lalu suster itu memasangkan inpus Nisa pada sebuah tiang beroda agar mempermudah saat Nisa mau membawanya jalan-jalan ke ruangan.
Seperti saat ia ingin ke kamar mandi, selang inpusnya tetap bisa dibawa kesana kemari.
Setelah dari kamar mandi, Nisa kembali ke brankarnya lalu berbaring di atasnya. Tak lupa ia mengambil nampan yang berisi makanan tadi.
Sebenarnya ia ingin disuapi sang suami, tapi karena kondisinya seperti ini maka ia pun harus memendam perasaannya.
.
.
...~Bersambung~...