
Tetapi Fadhil tak keberatan, ia tau Zi juga butuh teman curhat sebagai sesama lelaki, maka dari itupun ia memposisikan dirinya sahabat untuk Zi.
...***...
Setelah beberapa bulan kemudian kedekatan Nisa dan Fadhil sudah menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Tanpa sepengetahuan Nisa, Fadhil sering berkunjung ke rumah orangtua Nisa dan Zein, ia pun mengutarakan maksud dan tujuannya kesana.
Keluarga Nisa sebenarnya sudah menyetujui hal itu sejak lama, dan mereka memutuskan menyerahkan semua keputusan itu pada Nisa. Sedangkan keluarga Zein, ia harus berjuang lebih untuk mendapatkan restu mereka.
Tentu ketakutan mereka adalah jika suatu saat Nisa dan Fadhil memisahkan mereka dengan cucu mereka yaitu Zi. Tetapi dengan keteguhan hati dan perjuangan yang Fadhil tunjukan setelah beberapa waktu, ahirnya mereka pun menyetujui hubungan Nisa dan Fadhil. Dengan catatan jika mereka kangen dengan cucu mereka, mereka tetap diberi akses untuk bertemu dengan Zi.
Dengan kehidupan Nisa yang sekarang, tentunya untuk bertemu dengan cucu mereka sangatlah sulit. Maka dari itu mereka pun meminta ijin terlebih dulu. Apalagi sebentar lagi Zi akan memiliki ayah baru, tentunya cucu mereka akan jarang mengunjungi mereka.
Tapi dengan segala kebaikan hati yang dimiliki Fadhil ia menjamin silaturahmi antara Nisa dengan keluarga mantan suaminya, Zein... akan terus berlangsung dengan baik selama mereka juga menerima kehadiran ayah sambung Zi, yaitu Fadhil.
...***...
Malam itu lebih tepatnya malam yang sangat spesial untuk Fadhil dan Nisa. Dari jauh-jauh hari, Fadhil sudah mempersiapkan semua hal tentang sebuah pesta kejutan untuk Nisa dengan sangat baik.
Malam itu Fadhil berhasil mengumpulkan seluruh calon keluarga besarnya. Kedua orangtua Fadhil juga sudah sampai di kota J.
Mereka pun akan ikut serta dalam acara malam ini, tentunya sebuah pesta kejutan untuk melamar Nisa. Nisa juga belum tau kalau malam ini dia dilamar.
Karena malam ini Zi hanya bilang mau mengajak Mommy-nya makan malam di sebuah restaurant. Nisa sama sekali tak curiga dengan ajakan Zi, ia pun menuruti semua keinginan Zi malam itu. Dengan dandanan minimalis ia tampil cantik malam itu.
Sesampainya di lokasi, Nisa sedikit aneh dengan situasinya, karena tidak ada orang di lantai satu, dan Zi mulai mengajak Mommy-nya untuk naik ke lantai dua.
Sesampainya di lantai dua, ia melihat ibu dan seluruh anggota keluarga disana. Nisa pun terharu dengan situasi tersebut. Dan Nisa mulai menyalami satu persatu anggota keluarganya tersebut.
Kemudian dari lantai satu, Fadhil datang dengan membawa satu buket bunga mawar yang sangat besar dan mulai mendekati Nisa.
Di depan Nisa Fadhil pun berlutut dan melamar Nisa.
"Will you marry me Annisa Faiha?"
Nisa terdiam dan terpaku atas kejutan hari ini, ia tak menyangka hal ini dia dapatkan saat semua keluarga telah berkumpul. Rasa haru menyelimuti hatinya.
Ia pun menoleh dan melihat ke sekelilingnya, lebih tepatnya melihat kedua orang tuanya dan mertuanya. Mereka serentak mengangguk, begitu pula dengan Zi.
Itu artinya semua yang hadir di situ merestui mereka. Ia pun kembali menatap Fadhil dipandanginya lelaki di depannya. Dan Fadhil pun mengucap untuk kedua kalinya.
"Will you marry me Annisa Faiha?"
Dengan kesungguhan hati yang terpancar dari sorot kedua mata Fadhil, serta ketetapan hatinya ia pun memantapkan hatinya untuk bisa membuka lembaran baru bersama Fadhil dan sesaat kemudian ia pun mengangguk.
Seketika mata Fadhil terbelalak tak percaya kalau ajakan menikah darinya di terima. Ia pun langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil.
"Yeay ..." begitulah teriakan Zi saat Nisa menerima lamaran dari calon ayahnya.
Sedangkan yang lainnya saling berpelukan tak menyangka, mereka ikut senang dan berbahagia. Ahirnya pengorbanan dan perjuangan Fadhil selama ini tak sia-sia.
Tepuk tangan bergemuruh saat itu juga. Fadhil pun menyerahkan bunga itu pada Nisa. Nisa pun menerimanya, tapi ia kaget saat Fadhil tiba-tiba memeluknya.
"Terimakasih sayang." Ucapnya penuh keharuan.
...***...
Kegembiraan malam itu terasa sangat spesial dengan kehadiran kedua orang tua Fadhil. Kedua orang tua Fadhil turut berbahagia ahirnya putra sulungnya menikah. Meskipun status Nisa janda, tetapi Nisa masih begitu cantik.
Lagi pula dia juga wanita mandiri, jadi tak ada alasan untuk menolak Nisa. Calon cucu mereka pun juga sangat manis. Tak mengapa kan, dapat menantu plus dapat bonus cucu tampan. Begitulah pemikiran Ibu Fadhil.
Malam itu pun dilanjutkan dengan penentuan hari pernikahan. Mereka memang sengaja melakukan saat itu juga karena mereka tidak bisa stay lama di kota tersebut. Mereka tidak biasa untuk tinggal di kota besar seperti Nisa dan Fadhil.
Maka dari itu semua hal langsung dibahas malam itu juga. Tentunya untuk konsep pernikahan dan resepsi itu sudah menjadi tanggung jawab Fadhil.
Tapi mereka masih menghormati saran dan masukan dari para orang tua.
Finally, pernikahan akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Semua sudah menyetujui semuanya. Dan kareba hari sudah malam maka acara malam itu pun berahir dengan baik.
...***...
Konsep pernikahan yang diusung Fadhil kali ini merupakan pesta pernikahan yang lumayan besar dan megah. Maklum saja karena posisi Fadhil dan Nisa di kalangan bisnis cukup mempunyai nama. Selain untuk menjamu tamu dengan layak, mereka juga harus mempersiapkan diri ketika media masa menyiarkan berita mereka berdua.
Sebuah konsep pernikahan indor dan outdoor pun diambil kali ini. Semua persiapan akan di monitor langsung oleh Fadhil dan pelaksanaanya diwakili oleh assistennya Yo.
Banyak sekali pernak pernik souvenir pernikahan yang mereka persiapkan. Meksipun ini pesta pernikahan kedua kali untuk Nisa, tetapi Nisa sama antusiasnya seperti Fadhil. Entah sekali beda sekali rasanya saat itu dan sekarang.
Zi pun turut membantu persiapan pesta pernikahan mamanya. Dengan membantu memilih-milih gaun dan aksesorisnya. Ia ingin sekali melihat Momsnya bahagia. Dan semoga ini pernikahan terahir dan menjadi awal kebahagiaan mamanya... Aamiin.
Zi adalah anak yang kuat. Ia tumbuh dengan hal yang lain tak seperti anak-anak lain kebanyakan. Disaat anak lain bisa tumbuh bersama kedua orangtuanya. Ia hanya bisa melihatnya saja. Disaat ia ingin kehadiran ayahnya, hanya doa lah yang mampu ia panjatkan.
Ia pun tak pernah mengungkapkan keinginan hatinya pada mamanya. Untung saja ada Fadhil yang mengisi kekosongan hatinya akan kasih sayang seorang ayah. Fadhil dengan telaten merawatnya sejak kecil. Itulah kenapa besar keinginan Zi agar Fadhil benar-benar menjadi ayah sambungnya.
Dengan ijin Allah, insyaAllah sebentar lagi ia akan mempunyai keluarga yang utuh. Ada ayah Fadhil, mama Nisa dan dirinya. Membayangkan saja sudah membuatnya bahagia. Zi pun mengucap syukur untuk semua hal yang terjadi ahir-ahir ini.
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...