
"Hati-hati kak."
"Siap, makasih Yo, oh ya, sebaiknya kamu hapus lipstik yang menempel di kerahmu dulu sebelum kamu pergi."
"Hah ..." ucapnya panik.
π~π~π~π~π
"Dasar wanita aneh, beraninya membuatku malu di kantor, menyebalkan sekali."
Dan ia pun menelpon atasannya untuk meminta ijin agar ia bisa meminjam baju di ruangan pribadi Fadhil. Karena ada sebuah insiden yang membuatnya malu, ia pun dengan terpaksa harus mengganti setelah jas kerjanya.
Untung saja Fadhil memberikan ijin, dan Yo pun segera mengganti baju kerjanya dengan setelan baru.
...***...
Sementara itu di sekolah Zi.
"Hai jagoan, sudah siap untuk pulang?" Sapa Fadhil saat sudah berada di sekolah Zi dan menemukannya disamping guru pendampingnya.
"Sudah Om," jawabnya senang.
Fadhil pun memberikan salam pada guru pendamping tersebut, begitu pula guru itu pun membalasnya dengan hormat.
Zi kecil pun kembali masuk ke kelasnya dan mengambil tas sekolah, kemudian ia segera kembali menemui Fadhil.
"Terimakasih bu, saya ijin membawa Zi pulang," ucap Fadhil pada guru pendamping Zi.
"Iya pak, silahkan!" ucapnya sambil melambaikan tangan pada anak didiknya tersebut.
"Dadah," ucapnya kembali.
"Dadah ..." ucap Zi senang sambil meninggalkan kelasnya.
"Oh ya Om, mommy mana? bukannya mau jemput Zi bareng Om ya?"
"Ya ampun, maaf Om lupa, coba kita telpon mommy kamu dulu ya."
"Ok Om." Ucap Zi patuh.
Dan dari kejauhan ada mobil putih terparkir rapi di tempat parkir sekolah. Siapa lagi kalau bukan mobil Nisa.
Zi pun mentoel-toel lengan Fadhil, agar ia tau kalau mommynya sudah datang menjemputnya.
"Om, itu mobil mommy." Ucap Zi sambil menunjukan mobil Nisa padanya.
"Oh iya, ayo kita kesana dulu," ajak Fadhil.
Zi pun mengangguk, dan Fadhil pun mengangkat tubuh Zi dan menggendong di pundaknya. Tentu saja Zi sangat senang akan perlakuan Fadhil barusan. Nisa yang melihat dari arah kejauhan hanya bisa geleng-geleng.
"Mommy ...." teriak Zi kecil senang.
"Hai Nisa ..." sapa Fadhil.
Bukannya menjawab salam Fadhil ia malah memarahi anaknya.
"Zi turun, kamu sudah besar sayang, ga boleh kayak gitu sana Om."
"Ok mommy." Ucap Zi lesu.
Dengan terpaksa Zi pun meminta turun, dan Fadhil mulai menurunkan Zi kembali.
"Nisa bukan salah Zi, tapi itu tadi keinginanku sendiri, toh Zi juga senang, kenapa kamu marah?"
"Hmm, terus aja dimanja, ya kalau kamu bisa terus disisinya, kalau kamu sudah punya keluarga sendiri, kamu pasti melupakan kami." Omel Nisa kemudian.
"Jangan pernah bilang begitu, siapa yang akan meninggalkan kalian, aku akan selalu berada disisi kalian sampai kapanpun."
Zi masih memperhatikan obrolan kedua orang dewasa didepannya.
"Memang Om mau pergi kemana?" tanya Zi saat Fadhil dan Nisa masih berdebat.
"Sayang, Om ga akan kemana-mana, kita kan mau pergi jalan-jalan sama mommy."
"Beneran? Om 'ga bohong kan?"
"Tentu tidak, kapan Om pernah bohong sama Zi, ga pernah kan?"
"Zi, lihat Om, Zi ga mau Om ninggalin Zi dan mommy kan?" tegur Fadhil pada Zi.
Zi mengangguk. Dan Fadhil pun membisikkan sesuatu pada telinga Zi. Zi pun kegirangan mendengarnya, ia pun mencium Fadhil secara bertubi-tubi. Lalu setelahnya mereka menautkan jari kelingking mereka. Lalu tersenyum bersamaan keduanya. Nisa pun hanya terbengong dengan tingkah lelaki beda generasi didepannya ini.
"Mau merahasiakan apa dari mommy?"
"Ga ada!" jawab mereka kompak.
Nisa pun geleng-geleng dibuatnya.
"Ya sudah kita pergi sekarang." Ucap Nisa.
Fadhil bangkit berdiri, "Kita pakai mobilku saja, biarkan sopir nanti yang akan membawa mobil kamu pulang."
"Ok."
Dan Nisa pun mengambil tas dalam mobilnya dan menyerahkan kunci mobil pada satpam sekolah. Satpam sekolah pun sudah biasa dengan hal itu, maka ia dengan senang hati melakukan perintah Fadhil dan Nisa.
Fadhil dan Nisa adalah donatur terbesar di sekolah Zi, oleh karena itu mereka berdua sangat dihormati di lingkungan sekolah. Terlebih lagi status mereka membuat siapa saja hormat pada mereka berdua.
Tetapi untuk pendidikan Zi tetap sama dengan anak lainnya, perlakuan yang diberikan untuk Zi pun juga tidak diistimewakan, karena Nisa yang memintanya. Agar kelak saat dewasa Zi tidak terlalu menyombongkan kekayaan keluarganya.
Setelah semuanya siap, mereka bertiga pun meninggalkan area sekolah dan menuju sebuah tempat makan untuk makan siang, kemudian setelah itu mereka akan ke rumah Fadhil untuk berganti baju dan setelahnya akan pergi jalan-jalan.
Karena ini adalah ahir pekan, maka mereka bertiga akan jalan-jalan ke sebuah pantai yang ada di Indonesia bagian timur. Tentu saja mereka berangkat dengan pesawat pribadi dengan beberapa pengawal pribadi Fadhil yang ikut serta.
Mereka berangkat pukul dua siang agar sampai disana tidak terlalu sore. Bisa dibayangkan betapa antusiasnya Zi dengan semua perjalanan wisata kali ini. Apalagi Fadhil akan mengajarinya snorkling disana.
Nisa pun menikmati perjalanan wisata kali ini. Mungkin karena memang beberapa bulan terakhir pekerjaannya banyak menyita waktu sehingga ia butuh liburan. Untung saja Fadhil orangnya pengertian, jadi sebisa mungkin ia akan selalu mengerti keadaan Nisa meski Nisa tak pernah mengakui perasaannya.
Fadhil mungkin terlalu bersemangat dalam hal karir, tapi soal hati ia amat lemah, apalagi tentang Nisa. Setiap moment yang mereka habiskan bertiga selalu diabadikan olehnya tanpa sepengetahuan Nisa.
Seperti saat ini, saat Zi tertidur, Fadhil mencuri pandang pada Nisa. Memang kecantikan Nisa tak pernah pudar, masih sama seperti dulu saat awal mereka bertemu, mungkin bedanya hanya pada make up yang dipakai Nisa.
Nisa yang dulu memang minimalis, meskipun make up yang ia pakai minim, tapi kecantikannya terlihat. Kalau sekarang karena tuntutan bisnis yang mengharuskannya memakai make up membuatnya mengikuti perkembangan jaman.
Lipstik merah menyala tak pernah pudar setiap waktu. Kalau dulu ia hanya memakai lipstik smooth atau tipis, sekarang lipstik merah menyalalah yang selalu ia gunakan. Menambah kesan dewasa dan elegan, tentu saja cocok dengan dirinya yang sekarang.
"Ehem ..."
"Sudah puas lihat-lihatnya?" tanya Nisa mengalihkan pandangannya pada Fadhil.
"Sudah sayang," ucapnya spontan.
Saat tersadar akan ucapannya tadi, ia hanya bisa tersenyum dan kembali memandang Nisa.
"Maaf Nisa, keceplosan."
"Kakak, sampai kapan kamu akan membuka hati untuk orang lain?"
"Kakak ga akan pernah mengerti posisiku sekarang, jadi lebih baik kakak mencari wanita lain untuk menjadi istri kakak."
"Stop Nisa, hanya kamu yang aku cintai dulu, sekarang dan di masa depan."
"Tapi kenapa harus aku kak?"
"Karena kamulah ..."
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...