
"Assalamu'alaikum," sapa Zi saat ia memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam," sambut Nisa setelah berolahraga siang.
Untung saja ia sudah mandi dan gosok gigi, jadi aroma-aroma wangi itu sudah tersamarkan.
Tak lupa ia pun mengecup punggung tangan mamanya lalu masuk ke dalam rumah.
"Ma, habis ini aku pengen cerita ya ma."
"Iya sayang, mama siapkan makan siang sekalian ya?"
"Oke."
Lalu dengan segera Zi menuju kamarnya untuk berganti baju. Sedangkan Nisa sedang mempersiapkan makan siang untuk putranya.
.
.
Sementara itu Fadhil sedang senyum-senyum sendiri mengingat kegiatan panasnya barusan bersama istri tercinta.
Terlebih lagu yang sedang ia dengarkan kali ini membuatnya semakin mengingat perjuangannya di masa lalu. Sebuah lagu dari Zigaz, Sahabat Jadi Cinta.
Bulan terdampar di pelataran
Hati yang temaram
Matamu juga mata-mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan, tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah napas yang tak bisa dusta
Persahabatan berubah jadi cinta
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan, tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
....
Ternyata takdir Tuhan begitu unik, sehingga ia tak bisa menampik saat rasa cinta itu mulai muncul.
Saat itu Fadhil pernah mengubur rasa cintanya hingga ia melarikan diri dari cinta itu. Tapi Tuhan kembali mempertemukan dirinya bersama cinta keduanya itu. Sebuah cinta yang membuatnya merasakan segalanya.
Dihina, sakit hati, sebuah perjuangan cinta dan status sosial pernah ia rasakan saat mencintai Nisa. Tetapi semuanya berahir indah sampai ahirnya Nisa menjadi istrinya.
Bahkan sampai kapanpun hanya cinta dari Nisa-lah yang mampu menguatkan dirinya sampai saat ini.
Tint ... Tint ... suara klakson mobil di belakang Fadhil membuyarkan lamunannya siang itu, hingga ahirnya ia pun mendapatkan cacian dari pengguna di belakangnya.
.
.
Seorang pemuda terlihat mondar-mandir di dalam ruangan CEO, tetapi orang yang ia tunggu belum juga datang.
"Hmm, kemana sih kakak? lama banget," gerutunya.
Beberapa saat kemudian ia barulah terdengar derap langkah seseorang menuju ruangan itu.
TAP ... TAP ... TAP ...
Ceklek...
Yo pun segera menoleh, "Kakak, kenapa lama sekali?"
"Loh, Tuan Zein?"
"Hai Tuan Yo, apa kabar?"
"Ba-baik," ia pun menjabat uluran tangan dari lelaki mantan suami kakak iparnya itu.
"Sedang apa kak? eh salah, Tuan Zein ada disini?"
"He, he, santai aja, aku cuma mau menyerahkan berkas ini pada kakakmu, apa dia tidak ada diruangan nya?"
Tampak Zein memandangi seluruh ruangan itu, tapi tak menemukan keberadaan Fadhil.
"Iya, tadi kakak ijin makan siang di luar, tetapi entahlah sampai saat ini ia belum kembali."
"Oh ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu," pamitnya sambil menepuk bahu Yo.
"Eh iya kak, terimakasih."
Zein pun berbalik dan hanya melambaikan tangannya ke arah Yo. Hingga sesaat kemudian muncullah Fadhil dari arah luar.
"Hai ..."