After Married

After Married
BAB 208. AKU MENYERAH



Kini ayah dan Cahaya sudah sampai di sebuah kebun bunga yang sangat indah dan luas. Memang kedua orangtua Cahaya sangat menyukai keindahan, maka dari itu mereka sengaja menanam bibit-bibit bunga disana.


Ayah menoleh pada Cahaya, ia masih membiarkan putrinya kagum dan bahagia. Setidaknya dengan cara sangat sederhana ini ia bisa kembali ceria seperti dulu.


"Bagaimana kamu suka, Nak?"


Di depan matanya kini bermekaran bunga-bunga dengan berbagai jenis. Wangi bunga dalam sekejab saja, sudah menyeruak memenuhi seluruh indera penciuman mereka.


Mata indahnya tampak berkaca-kaca.


"Terimakasih ayah," ucapnya sambil berhambur memeluk ayah tercinta.


Di-elusnya rambut hitam panjang milik putrinya dengan perlahan. Curahan kasih sayang yang besar, jelas terlihat di kedua matanya kini.


"Sama-sama sayang."


Setelah puas memeluk ayahnya, Cahaya kembali melihat ke sekeliling. Lalu ia pun menunjuk pada salah satu bunga.


"Ayah coba tengok, itu bunganya bagus sekali dan besar, aku sangat menyukainya ayah."


"Iya, bagus sekali, sama seperti dirimu, akan lebih baik jika kau tersenyum dan kembali ceria seperti dulu," batin ayah.


"Ayah bolehkah aku bertanya padamu, akan sesuatu hal?"


"Boleh sayang, apa yang ingin kau katakan."


Lalu Cahaya mulai menanyakan tentang suatu hal pada ayahnya. Dengan rasa bahagia, kini ia mulai tegas pada dirinya sendiri. Kini ia pun sudah ikhlas membuang masa lalunya dan kini mulai bersiap untuk mencari cinta dari seseorang yang entah darimana asalnya. Mungkin saja suatu saat nanti Tuhan kembali mempertemukan dirinya dengan jodoh yang sebenarnya.


.


.


"Pagi dokter," sapa salah satu suster yang sudah berada di dalam ruangan dokter Fariz.


"Pagi suster."


Suster masih memikirkan siapa pasien yang dimaksud dokter. Lalu ia pun teringat akan satu nama pasien.


"Oh Tuan Zein?"


"Iya."


"Sekarang kondisinya sudah lebih baik daripada kemarin."


Lalu suster mulai menceritakan kondisi Zein padanya. Dokter Fariz mulai mendengarkan cerita suster dengan seksama.


Sampai ahirnya kini ia bisa menyimpukan bahwa tindakan medis yang akan dilakukannya beberapa hari ini, bisa membantunya sebentar sembari menunggu ingatannya kembali.


Setelah suster itu pergi, ia mulai meneruskan semua kegiatannya pagi itu. Meneliti beberapa berkas riwayat kesehatan pasien yang menjadi tanggungjawabnya. Tak lupa ia tetap mengunjungi sahabatnya itu, Zein.


Dengan langkah lebarnya dan hanya dengan beberapa menit ia sudah sampai di depan ruangan tempat Zein di rawat, langkahnya kini sudah mulai terhenti ketika ia sampai di depan pintu. Tetapi ia belum langsung masuk ke dalam.


Entah kenapa ia masih memperhatikan pergerakan Zein di dalam sana melalui sebuah kaca yang terpasang di salah satu sudut pintu. Lalu beberapa saat kemudian, barulah ia masuk.


"Selamat pagi Zein?"


"Pagi dokter."


Dokter Fariz tersenyum. "Oh, ya, kemarin aku sudah meminta rekap data dari dokter Richard tentang riwayat kesehatanmu kemarin."


"Lalu bagaimana, dokter?"


"Tenang, aku belum membaca semua, jadi mana mungkin aku berani menyimpulkan tentan hal ini, kau mau becanda ya?"


Dokter Fariz mencoba mengajak Zein bercanda. Hal seperti ini, memang sudah biasa ia lakukan sejak beberapa tahun yang lalu, dan ternyata Zein sama sekali tidak menyangka jika Zein tidak melupakan kenangan selama persahabatan mereka terjalin.


...🌹Bersambung🌹...