After Married

After Married
BAB 215. MENCOBA KEMBALI



Rencana kepergian Zein ke rumah Nisa sudah bulat. Hari ini ia mulai menyiapkan hatinya jika nanti ia benar-benar berkunjung ke rumah Nisa. Ia juga tidak mau berlama-lama, merasa bimbang dalam perasaanya. Mungkin dengan begini ia bisa merasa lebih tenang.


Rasa bersalah karena kecelakaan kapan hari membuat rasa tidak tenang menghinggapi Zein. Karena ulah Fadhil yang sangat mengekang Nisa juga membuat Zein tidak nyaman.


"Tuan, Tuan jadi berkunjung ke tempat Nisa hari ini?" tanya Mang Dede memastikan.


"Mau gimana lagi Mang, aku harus menyelesaikan semua ini secepatnya, agar hidup Nisa kembali bahagia seperti dulu."


Mang Dede menghela nafasnya karena ia tidak menyangka niat baiknya malah menjadi petaka seperti ini. Karena tak mau membuat Zein terpuruk lebih dalam, beliau hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Zein saat ini.


"Ya, sudah, jika ini sudah menjadi keputusan final, Tuan. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keberhasilan Tuan Zein. Semoga hati Tuan Fadhil terketuk dan mau menerima semua penjelasan dari Tuan."


"Aamiin, makasih banyak ya Mang, maaf saya masih merepotkan hal hanyak pada Mamang."


Mang Dede bergeleng. "Nggak apa-apa Tuan, syaa sudah mengganggap Tuan Zein seperti putra saya sendiri, maka maafkan jika Mamang pernah melakukan banyak kesalahan pada Tuan Zein.


Setelah memantapkan hatinya, siang itu Zein mulai melajukan kendaraannya menuju ke kantor Fadhil. Zein tak mau ambil resiko untuk kedua kalinya dianggap merusak sebuah hubungan rumah tangga orang lain.


Sebuah kenyataan jika Nisa sudah menikah lagi dua tahun yang lalu, masih menyisakan sebuah pertanyaan di hati Zein, apakah benar cinta untuknya telah musnah. Atau Nisa sengaja membuang jauh perasaannya dan lebih mementingkan kebahagiaan Zi dan Fadhil.


Zi memang membutuhkan sosok ayah, belum lagi perusahaan Nisa semakin berkembang mau tidak mau ia harus memiliki pasangan hidup yang bisa membantu untuk menghandle perusahaan peninggalan Zein.


Andai saja saat itu ia tidak kecelakaan sudah pasti ia tidak akan repot seperti saat ini.


"Sial, kenapa jadi seperti ini, Nisa jika kamu memang tidak bahagia, maka maaf Fadhil aku akan merebut apa yang seharusnya memang menjadi milikku."


Mang Dede juga bercerita kalau setelah Zein pergi, Nisa merasa sangat terpuruk. Ia hampir depresi karena cinta sejatinya meninggalkannya. Beruntungnya Fadhil selalu berada di sisi Nisa. Begitu pula dengan pengasuhan Zi. Fadhil bahkan sudah menganggapnya sebagai putranya sendiri. Mungkin karena kasih sayangnya dan seluruh perhatian untuknya dan Zi. Maka ahirnya satu setengah tahun yang lalu Nisa ahirnya luruh dan mau menjadi pendamping hidup untuk Fadhil.


Entah kenapa meskipun ingatannya belum pulih kembali, tetapi hatinya merasakan getaran lain meski hanya dengan menyebut namanya saja.Tetap saja hatinya tidak tenang jika mendengar nama Nisa ataupun Zi. Zein sangat bingung dengan perasaanya kali ini. Tetapi ia harus secepatnya memastikan segalanya. Agar setidaknya ia bisa bernafas dam berpikir lebih jernih lagi.


Mang Dede juga tidak bisa membantu banyak dalam hal ini, posisinya kini hanyalah perantara untuknya dan Nisa. Bagaimanapun nanti hasil ahirnya ia serahkan pada Allah.


...🌹Bersambung🌹...