
Itulah rahasia Illahi, tak ada manusia yang bisa menebak garis takdir mereka. Apa yang kita inginkan mungkin tidak dikabulkan secara instant olehNya, tetapi jika kita terus berusaha, berikhtiar, menyelipkan namanya dalam doa-doa kita, insya Allah pasti Allah mengabulkan doa kita.
π~π~π~π~π
Hari yang ditunggu telah tiba. Hari ini mereka akan melakukan honeymoon ke sebuah pulau indah disalah negeri seberang.
Zi, untuk sementara waktu tinggal di rumah bersama assisten Yo. Sebenarnya ia diajak oleh Nisa dan Fadhil tetapi karena Zi juga tidak mau mengganggu acara honeymoon kedua orangtuanya, ia pun memilih untuk tinggal di rumah saja.
Lagian sekolahnya juga tidak libur, jadi ia tidak mau ketinggalan pelajaran sekolahnya. Hari itu pukul enam pagi Nisa dan Fadhil pun berpamitan pada putra mereka dan assiten Yo.
"Sayang, kamu beneran ga mau ikut sama Mommy dan Daddy?"
"No mom, aku mau dirumah saja, lagian ada Om Yo disini." Ucapnya mantap sembari melirik pamannya tersebut.
Nisa pun melirik Yo, dan Yo hanya mengisyaratkan agar Nisa tidak usah hawatir akan hal itu.
"Tenanglah kak, aku akan menjaga keponakanku dengan sangat baik, kakak nikmati saja liburan kalian, syukur-syukur kalau nanti pulang sudah membawa berita baik."
"Hatci ... hatcihhhh ...." Tiba-tiba saja Fadhil bersin-bersin.
Ia pun mengusap-usap hidungnya. Memang kebiasan baru atau lama, tapi kalau Fadhil sedang dibicarakan pasti dirinya akan reflek bersin-bersin.
Nisa pun menoleh pada Fadhil.
"Kalau sakit ditunda saja mas."
"Eh, ga- gak ... aku 'ga sakit kok."
Yo hanya tersenyum saja, ia takut kalau ketawanya kelewatan bisa-bisa dipotong gajinya sama Fadhil karena pelototan tajam sudah diberikan padanya saat itu.
"Sudah-sudah, kalian segera berangkat saja keburu siang nanti." Ucap Yo kemudian.
"Oke, Moms dan Daddy berangkat dulu ya."
"Iya, hati-hati ya."
"Assalamu'alaikum ..." pamit Nisa dan Fadhil kemudian.
"Wa'alaikumsalam."
Kemudian mereka pun segera pergi dari kediaman Fadhil menuju bandara. Sesaat kemudian Yo dan Zi pun segera berangkat kerja. Pagi itu Yo mengantarkan Zi ke sekolah sebelum ia berangkat kerja.
...***...
Di perjalanan menuju bandara.
"Mas, aku kok ga tega ya ninggalin Zi?"
"Iya sayang aku paham, kamu kan ga pernah jauh dari Zi, jadi wajar kalau kamu 'ga tega."
"Iya juga ya."
"Sudah, kita berfikiran positif saja, biar yang dirumah juga ga hawatir sama kita. Toh kita liburan juga cuma seminggu kok." Ucap Fadhil dengan entengnya.
"Hush, seminggu kok dibilang hanya ... itu seminggu lo mas, bukan sehari." Ucap Nisa tidak terima.
Maklum saja Nisa masih sensitif, karena ia baru saja selesai datang bulan, mungkin emosinyaa masih naik turun belum stabil. Terlebih memang benar adanya, ia belum pernah meninggalkan Zi dalam jangka waktu yang lama.
Tentu saja karena sejak suaminya meninggal Bisa dan Zi hanya hidup berdua saja. Dan tentunya ikatan batin ibu dan anak itu sangat kuat melebihi apapun.
Insting seorang ibu biasanya lebih kuat dibanding dengan sang ayah. Jika terjadi apa-apa dengan sang anak, tentunya ia akan lebih hawatir. Dan orang pertama yang selalu dicari anak jika terjadi apa-apa dengan dirinya, orang yang pertama kali dicari adalah ibunya.
Dan itulah yang terjadi antara Nisa dan Zi.
...***...
"Iya sayang, maaf ..." ucap Fadhil yang mulai manja pada istrinya tersebut.
Entahlah sejak kepergian Zein Nisa sudah tidak secentil dulu. Kini ia lebih banyak bersikap dewasa. Padahal kalau dipikir-pikir usia Nisa belum ada 28 tahun saat ini, tapi ia sudah seperti ibu-ibu saja ketika mengomel atau menggerutu.
Fadhil sudah lama tidak bersikap seperti ini. Di dunia bisnis ia begitu tegas dan berwibawa. Tetapi di rumah ia ingin terlihat seperti ayah kebanyakan. Yang bersikap hangat pada anggota keluarganya.
Fadhil sudah lama menjomblo, bahkan 10 tahun sejak ia ditinggalkan cinta pertamanya, ia tidak pernah membuka hatinya pada siapapun. Hanya pada Nisa lah ia berani membuka hatinya.
Ada sesuatu yang berbeda dari diri Nisa, ketimbang pada gadis atau wanita lainnya. Selain tegas, penyayang, baik hati dan pengertian. Nisa sangat bisa memposisikan dirinya sebagai seorang pekerja dan seorang ibu.
Sikap pantang menyerah dan sikap teguh pada pendiriannya sangat patut diacungi jempol. Bahkan butuh waktu 8 tahun untuk bisa meluluhkan tembok yang dibangun di hati Nisa.
Kini tembok itu perlahan mulai runtuh dan ia bisa masuk ke dalam hati Nisa. Mulai saat ini, kebahagiaan Nisa dan Zi akan menjadi prioritas untuk Fadhil.
...***...
"Mas, mas ... ngapain melamun?" ucap Nisa sembari menggoyangkan lengan suaminya.
"Hah, siapa yang melamun?" ucap Fadhil terbata-bata.
"Huh, uda melamun pake gaya lupa ..." ucap Nisa dalam hatinya.
"Enggak sayang, aku 'ga melamun kok."
"Iya ... iya ..."
Fadhil pun mengenggam jemari Nisa, Nisa pun menoleh pada suaminya tersebut. Diraihnya jemari Nisa dan di kecup punggung tangannya.
"Berjanjilah sayang ... jangan pernah pergi dariku, dampingi aku untuk selamanya." Ucap Fadhil sembari memandang kelopak mata Nisa.
Hati Nisa tersentuh dengan semua perlakuan manis Fadhil. Ia pun mengangguk dan tersenyum padanya. Kemudian direngkuhnya tubuh Nisa ke dalam pelukan Fadhil saat itu.
Fadhil dan Nisa merasakan kebahagian luar biasa saat itu. Bagaimana tidak perjuangan selama 8 tahun ahirnya berujung manis.
"I love you Nisa."
"Love you to mas."
Di kursi kemudi, pak sopir juga ikut merasakan kebahagiaan. Ahirnya tuannya menemukan cinta dan kebahagiaannya sekarang.
"Semoga tuan dan nyonya langgeng, keluarganya sakinah, mawadah, warohmah, Aamiin." Begitulah doanya untuk kedua majikannya tersebut.
Perjalanan pagi itu pun dilanjutkan menuju bandara. Untung saja lalu lintas pagi itu cukup lancar, sehingga perjalanan menuju bandara tepat waktu.
Sesampainya di bandara, mereka pun segera melakukan chek in, dan menunggu keberangkatan penerbangan pagi itu. Sebenarnya Fadhil sudah menawarkan untuk memakai pesawat pribadinya, tetapi Nisa menolak dengan alasan kangen naik transportasi umum.
Ahirnya dengan terpaksa ia pun menuruti keinginan sang istri. Dan pagi itu mereka akan melakukan penerbangan ke Paris dengan transportasi umum bersama para penumpang lainnya.
Tepat sesuai jadwal penerbangan, ahirnya pesawat pun take off dan segera terbang menuju negara romantis tersebut. Bayangan-bayangan indah sudah memenuhi kepala Fadhil saat itu.
Sudah banyak rencana yang ia susun ketika nanti mereka sudah sampai di negara itu. Semoga tidak ada halangan saat mereka berbulan madu kali ini. Semoga saja, Aamiin.
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...