After Married

After Married
BERIKAN AKU KESEMPATAN



Perusahaan yang Fadhil bangun sudah menunjukkan kinerja dan progres yang sangat bagus. Terbukti dalam dua tahun belakangan perusahaan mereka semakin maju dan berkembang pesat.


๐Ÿƒ~๐Ÿƒ~๐Ÿƒ~๐Ÿƒ~๐Ÿƒ


Gubrak ....


Aarrrkhhhhh ....


Terdengar tendangan keras yang telah diarahkan ke sebuah kursi dan suara seseorang yang berteriak frustasi.


"Bagaimana ini bisa terjadi hah!"


"Begini saja kamu tidak becus!"


Plak ... plak ...


"Ampun papa, maafkan aku ... aku tak menyangka ada seseorang yang berdiri dibelakang Nisa."


Di dalam ruangan itu sedang ada seorang putri yang masih bersimpuh dikaki ayahnya, ia masih menerima semua amarah dari ayahnya. Ayahnya masih kecewa pada putrinya karena tidak bisa memenuhi harapannya.


Kilatan rasa kecewa bercampur amarah masih memenuhi dada ayahnya.


"Rugi aku besarkan kamu, ternyata ini balasanmu, kita sudah cukup baik selama 3 tahun ini, tetapi hal sepele seperti ini kamu tidak bisa mengatasinya."


"Maaf pa, hiks ... hiks ... hiks ..."


"Lebih baik kamu kembali ke luar negeri dan jangan temui papa lagi sampai kamu bisa merebut perusahaan Zein lagi."


Dengan deraian air mata, ia pun berlari keluar ruangan kerja ayahnya. Ia pun menuju kamar pribadinya dan menangis terisak disana. Bekas tamparan dari ayahnya masih terasa panas di kedua pipinya.


"Semua gara-gara kamu Nisa, kamu harus tanggung jawab untuk semua ini."


๐ŸƒSementara itu di rumah Nisa.


"Nak, maafkan bapak tidak bisa lama-lama disini, biar ibumu saja yang menemanimu untuk saat ini."


"Tapi bapak kan tidak bisa kalau tidak ada ibu?"


"Tak apa-apa, masih ada kakakmu yang bisa datang setiap hari ke rumah, kamu tidak usah hawatir."


Nisa pun menoleh pada ibunya.


"Ibu aku 'ga papa, sebaiknya ibu kembali bersama ayah saja, disini ada Mbok Iyem yang masih menemaniku, lagian aku juga sudah ambil cuti."


"Tak apa-apa nak, ibu cuma beberapa hari disini, sampai kondisi kamu belum membaik, setelah itu ibu akan menyusul bapak untuk pulang ke kampung."


"Tapi bu ..."


"Tak apa-apa Nisa, makanya kamu jangan terpuruk lama-lama, bapak juga tidak bisa lama-lama berpisah dari ibumu!" canda bapak.


Nisa pun tersenyum akan candaan dari ayahnya. Ia sedikit iri dengan kemesraan kedua orangtuanya, karena hal itu sedikit mengingatkan pada suaminya. Ia pun ahirnya menyetujui permintaan kedua orangtuanya.


Siang itu Bapak Nisa diantar ke stasiun oleh assisten Yo. Itupun atas permintaan Fadhil, karena ia tidak bisa mengantar beliau karena masih berkutat dengan pekerjaan kantor yang menumpuk.


Ahirnya Nisa pun kembali ke kamar putranya, dia melihat anak semata wayangnya yang sedang bermain dengan Mbok Iyem.


"Pagi sayang ..." sapa Nisa pada putranya.


"Mammmaaaa ..." Zi kecil merentangkan tangannya menyambut kedatangan mamanya.


Nisa pun segera memeluk dan menghadiahi ciuman bertubi-tubi untuk putranya tersebut. Ia merasa bersalah karena beberapa hari ini ia melupakan putranya tersebut. Kini ia pun ingin menebus kesalahannya tersebut.


"Sedang bermain apa sayang?"


"Mobing ... cama keleta ..." ucapnya dengan gaya cadalnya.


Zi kecil memang belum fasih berucap, tapi ia sangat pandai jika diajari berbagai macam permainan dan olah kata.


"Wah ... sayangnya mama cuka mobing melah atau bilu ..." ucap Nisa dengan menirukan gaya cadal putranya tersebut.


"Melah mama ..."


Meskipun baru empat belas bulan, tapi Zi kecil sudah lancar berbicara. Karena itu ia pun telat berjalan, karena memang dia "ngomong dulu baru jalan" begitu kata orang tua jaman dulu.


Jadi menurut mereka kalau seorang anak udah bisa bicara sebelum berjalan, maka ia agak lambat untuk bisa cepat berjalan. Tapi sebaliknya jika anak sudah bisa jalan terlebih dahulu, ia akan sedikit lambat berbicara.


Karena tidak mau mengganggu moment kebersamaan ibu dan anak tersebut, Mbok Iyem pun keluar dari kamar Zi kecil. Dan Nisa pun kembali bermain dengan putranya.


๐ŸƒKantor Zein


"Selamat siang semuanya."


"Siang pak."


"Saya selaku wakil CEO yang baru ingin memberitahukan bahwa sejak hari ini, perusahaan D'Corp sudah resmi dibawah naungan Z'Corp."


"Jadi mulai hari ini kebijakan kantor sepenuhnya sudah disesuaikan dengan kebijakan Z'Corp. Dan saya harap semua akan menjadi lebih baik sesudah ini. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan lebih baik."


"Dan kali ini akan saya perkenalkan CEO kita yang baru, Bapak Athafariz Radeya Fadhil."


Suara tepuk tangan bergemuruh menyambut kedatangan CEO mereka yang baru.


Fadhil dengan gagah pun sudah berdiri diantara para pemegang saham dan jajaran direksi perusahaan D'Corp.


Lalu Fadhil pun memperkenalkan diri dan melanjutkan meeting pagi itu. Rapat hanya berlangsung satu jam.


Sesudah rapat, Fadhil menuju ke ruangan tempat Zein dulu berada. Ruangan CEO perusahaan D'Corp.


Ia pun langsung menuju ke ruangan tertinggi di gedung pencakar langit itu.


Ting


Pintu lift terbuka, ia pun segera menuju ruangan Ceo berserta assisten Yo dibelakangnya.


Ceklek


Pintu ruangan pun terbuka. Ia pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Dilihatnya ke sekeliling ruangan tersebut. Ia pun mengedarkan seluruh pandangannya. Ruangan yang menjadi saksi bisu, seorang Zein membangun sebuah perusahaan untuk keluarga kecilnya.


Dan dibelakang Fadhil, ada assistennya yang selalu setia menemani Fadhil kemanapun ia berada.


Sejak menjadi CEO, Fadhil memang memiliki assiten pribadi, yang selalu bisa ia andalkan jika ia berhalangan hadir dalam sebuah rapat. Yo adalah sebutan kesayangan Fadhil buat adik angkatnya tersebut.


Yosua adalah anak yatim piatu yang ia temukan saat ia berkunjung ke sebuah yayasan amal. Sejak beberapa tahun belakangan ia sudah diajak ikut serta dalam perjalanan bisnis Fadhil, sehingga ia paham betul apa dan bagaimana ia harus bertindak.


Yosua sudah mengabdikan dirinya untuk menemani Fadhil, karena ia sudah tidak memiliki keluarga lagi, hanya Fadhil lah yang ia anggap saudara.


"Yo, tinggalkan aku sendiri disini."


"Baik kak."


Lalu assisten Yo pun undur diri. Tinggallah Fadhil seorang di ruangan itu.


"Kenapa begitu banyak kenangan kau dengan dia disini Nisa?" ucapnya sambil memegangi sebuah bingkai foto keluarga Nisa di meja kerja Zein.


"Apa kau bahagia bersamanya? kenapa takdir kita begitu rumit?"


"Nisa, kini aku akan menjagamu dan menjaga putramu, aku harap akan ada sedikit celah untukku dihatimu ..."


Tok ... tok ... tok ...


"Tuan ..." Ucap assisten Yo dari luar ruangan.


"Iya, ada apa Yo?"


"Ada Tuan Charles ingin bertemu anda."


"Siapa dia?" batin Fadhil dalam hatinya, tapi ia tetap menyuruh tamunya masuk.


"Persilahkan masuk."


"Baik tuan."


Lalu masuklah dari belakang pintu seorang lelaki berumur berserta assistennya.


"Selamat siang."


"Siang, ada yang bisa saya bantu."


Tanpa basa basi Tuan Charles pun mengungkapkan keinginannya.


"Maksud tujuan saya kemari ...."


Lalu mereka pun membicarakan bisnis didalam ruangan Fadhil. Tuan Charles pun langsung membicarakan maksud dan tujuannya kesana tanpa bertele-tele.


Dan sebenarnya Fadhil cukup paham dengan situasi yang sedang ia hadapi sekarang. Tapi ia memilih untuk mengikuti jalan yang dimainkan Tuan Charles.


Sebelum Fadhil mengakuisi perusahaan Zein ia sudah mempelajari siapa saja rival atau patner bisnisnya. Jadi langkah yang akan ia ambil sudah pasti lebih aman dan terjaga demi kelangsungan hidup perusahaan Nisa dan dirinya.


.


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK๐Ÿ™๐Ÿ˜Š...