
Tetapi janji tinggallah janji, Zivanna benar-benar tidak datang untuk memenuhi janjinya dengan Kenzo. Ada raut kekecewaan yang tergambar jelas di wajah pria nan tampan itu.
Ahirnya Kenzo memilih untuk meninggalkan cafe itu dengan penuh kekecewaan bercampur segala pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
"Bagaimana keadaan Zi saat ini, apa ia sangat sibuk di kantor? bukankah ini weekend, lalu dimana ia berada sekarang?"
Kenzo tidak pernah berpikiran buruk pada Zivanna meski ia berbuat kesalahan. Baginya ia adalah sosok wanita yang sempurna dan apa adanya. Meski ia mempunyai kenangan dan masa lalu yang buruk, tetapi hal itu tidak akan pernah mengubah pandangan baik untuknya.
Setelah ia masuk ke dalam mobil pribadinya, dengan segera ia memacu kuda besi-nya untuk meninggalkan lokasi cafe. Dengan bermodal Google Maps dan waze ia pun menuju perusahaan milik Ayah Zivanna.
Kali ini mobilnya memang ia kemudikan menuju perusahaan Zivanna, siapa tau ia lembur kerja di ahir pekan sampai ia lupa datang untuk memenuhi janji makan siang mereka. Itulah pemikiran klasik yang terlintas dibenak Kenzo.
.
.
Sementara itu, di sebuah taman yang berada di tengah kota. Zivanna masih asik memperhatikan anak-anak bermain. Sesekali ia mengusap kelopak matanya yang tiba-tiba berair.
Ada kecemburuan yang terpancar disana karena ia tidak pernah merasakan kebahagiaan di waktu kecil. Ingatan masa lalunya yang tertinggal hanya ketika ia ditinggalkan oleh ibunya dan perlakuan kasar sang ayah pada mendiang ibunya.
Padahal dalam hati kecilnya ada sedikit keinginan yang tak pernah ia ungkapkan pada siapapun. Sebuah keinginan kecil dari seorang anak untuk menghabiskan ahir pekan dengan kedua orangtuanya.
Ahir pekan yang sangat ia nantikan sayangnya tak pernah sekalipun terwujud karena kedua orangtuanya sangat sibuk dengan pekerjaan di kantornya.
Tak terasa semakin ia memperhatikan pemandangan keluarga idaman di depan sana, semakin deras ia meneteskan air matanya. Buliran demi buliran air mata mulai membasahi kedua pipi dengan rona merah itu.
Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba seorang lelaki menepuk pundaknya lalu memberikan sebuah sapu tangannya. Zivanna menoleh dan menerima pemberian sapu tangan itu dan mencoba mengusap air matanya dan juga ingusnya.
Srutttt .....
Zivanna sengaja melakukannya karena ia tau benar kalau lelaki di sampingnya itu adalah lelaki calon pilihan ayahnya sekaligus asissten Fadhil yang bernama Yonathan alias Yo.
"Dih, cantik-cantik jorok!" seru Yo ketika melihat Zivanna mengelap ingusnya.
Zivanna menahan senyumnya, ahirnya ia benar-benar ilfill padanya. Tetapi kedatangan Yo mampu mengobati amarahnya tadi sekaligus bisa sedikit menghiburnya.
"Terimakasih Tuan," serunya pada Yo yang masih asyik berdiri di samping tempat duduk Zivanna.
Entah kenapa dari tadi lelaki itu tidak duduk dan malah tetap terdiam dan berdiri dengan kedua tangan yang masuk ke dalam kantong celana sekaligus pandangannya tetap fokus ke arah yang sama dengan yang dipandang Zivanna.
Sejujurnya ia juga iri melihat pemandangan keluarga harmonis di depan sana. Karena samlai sekarang ia tidak pernah memiliki keluarga yang sesungguhnya. Bahkan sampai detik ini ia belum pernah bertemu dengan kedua orangtuanya. Entah mereka masih hidup atau sudah meninggal ia pun tidak tau dengan pasti.
Sedangkan Zivanna sekalipun tidak pernah tertarik dengan acara perjodohan yang dilakukan ayahnya padanya.
Ia memang sengaja mengembalikan sapu tangan yang sudah ia kotori tadi pada Yo.
Dengan reflek tangan Yo mengisyaratkan kalau ia menolak dan membiarkan Zi memiliki sapu tangan itu.
"Terimakasih Nona, itu untuk Anda saja," tolaknya dengan halus.
Zivanna terseyum kecil, "Terimakasih Tuan, anda baik sekali."
.
.
Bersambung