
Ahirnya makanan itu tersaji di atas meja. Hampir semua menu masakan Sheril sangat menggugah selera. Sebenarnya Sheril bukanlah seorang chef tetapi ia suka memasak karena hobby.
Belum lagi ia sering pergi dan berpindah domisili sehingga membuat dirinya harus pandai memasak berlebih untuk lidahnya sendiri.
"Sayang, kenapa dianggurin?"
"Ehm, pengen disuapin kamu?"
"Uhukk ... capek deh."
"Kalau kamu udah kenyang dengan memandangku, ya udah liatin aku aja gak usah makan, wkwkwk ..."
"Dih sayang, kebanyakan gaul sama ibu sosialita bikin tambah aneh."
"Hmm, kamu berani ngajak ngomong sekali lagi, aku pergi," ancam Sheril.
"Iya sayang, aku makan."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, ahirnya mereka segera melahap makanan tersebut tanpa banyak bicara lagi.
Setelah beberapa waktu.
"Makasih ya sayang," ucap Leo
"Sama sama sayang, oh ya aku pengen curhat nih, boleh ga?"
"Boleh, yuk pindah di sofa depan aja."
"Oke."
.
.
Sementara itu, di sebuah resto.
"Jo, kamu mau pesan apa?"
"Samakan dengan menu bos saja."
"Oke jadi pesanan tadi berlipat ya mbak."
"Siap pak."
Setelah pelayan itu pergi. Ia pun mulai mengerjai Jo untuk kedua kalinya.
"Emangnya kalau pesanan kita sama, trus aku juga bayarin kamu?"
"Ha-ah maksud bos?"
"Kamu tau kan, aku gak lagi traktir kamu lo, bayar sendiri-sendiri ya nanti?"
"Ha-ah, bos becanda ya?"
"Enggak, kok aku bingung ya?" Jo pun menggaruk-garuk kepalanya.
"Gak usah bingung, aku memang lagi ngerjain kamu kok."
"Ya ampun bos, gitu banget sama anak buah."
"Wkwkwk, kapan lagi coba ngerjain kamu."
"Selamat menikmati Tuan, permisi."
"Terimakasih mbak."
.
.
"Ya udah sayang, kalau begitu kamu blokir aja nomor si bule, kan beres."
"Ya gak gitu juga kali sayang, kan aku kasihan juga sama dia."
"Ya kalau kamu kasihan ma dia, boleh-boleh aja, asalkan waktu sama aku gak berkurang sama sekali."
"Iya sayang, tentu, hmm bentar ya sayang, aku mau pinjam toilet kamu."
"Iya sayang, silahkan."
Dengan segera, Sheril segera beranjak ke kamar mandi dan menuntaskan hajatnya. Tetapi saat ia di wastafel, ia menemukan sebuah kontak lens.
Ia pun mengambil kontak lens tersebut dari sana.
"Milik siapa ini? perasaan Leo gak pake kontak lens," batin Sheril bertanya-tanya.
"Hmm, lebih baik aku bawa ke depan saja, ketimbang penasaran."
Sebelum membawa keluar kontak lens tersebut ia sempat mencium bau parfum yang sama persis dengan milik seseorang. Ia pun mengendap-endap mencari sumber parfum tersebut.
"Ha, apa ini? Kenapa baunya mirip ... mirip punya siapa ya?"
Belum juga Sheril mengingat si pemilik parfum. Leo sudah memanggilnya dari depan.
"Sayang ... kamu lama banget sih?"
Leo hendak berdiri dari sofa, tetapi sesaat kemudian Sheril sudah berdiri di hadapannya dengan berpangku tangan.
"Kenapa sayang?"
"Ini milik siapa?"
"Hmm, gak tau ..."
"Kok ada di wastafel?"
"Mungkin milik yang bersihin apartementku mungkin sayang."
"Ah masa sih, masak seorang cleaning service pakek kontak lens?"
"Ya kali aja sayang, udah ah, gak usah dibahas lagi, kalau benar itu miliknya besok juga diambil lagi."
"Oke."
Sheril pun segera menaruh kontak lens tersebut di atas meja. Lalu mereka lanjut untuk berbincang-bincang.
.
.
...🌹Bersambung 🌹...