
.......................
Tapi sampai saat ini ia belum menemukan caranya agar Nisa mau menurutinya. Sedangkan yang Zein tau, Nisa adalah pribadi yang keras kepala. Dan kalaupun dia memaksa Nisa, bisa-bisa membebani pikiran istrinya itu. Bagaimanapun keadaannya Nisa adalah kebahagiaannya saat ini, apapun yang menjadi keinginannya akan menjadi prioritas terbesarnya.
Cepat atau lambat ia harus segera membawa Nisa pulang kampung. Agar konsentrasinya tidak akan terpecah belah lagi. "Semoga kamu mengerti ya sayang, I love you." Ucapnya dalam hati sambil memegangi foto cantik Nisa di HPnya.
⚘Nisa pov
Nisa yang kebetulan kangen suaminya segera mengambil HP nya dan memandangi wajah suaminya. Sambil memandangi wajah suaminya ia membelai lembut perutnya.
"Nak kalau sudah lahir nanti gantengnya kayak ayah ya ... tapi sifatnya kayak mama aja, baik hati dan tidak sombong ... he ... he ..." ucap Nisa pelan sambil berbicara pada calon buah hatinya.
"Dan besok kalau lahir jangan ninggalin mama ya nak, pasti mama kesepian kalau kamu lebih memilih main sama ayahmu, mainnya sama mama juga ya ... oh ya, meskipun ayah sibuk, tapi mama tau ayah menyayangi kita berdua, jadilah penyejuk buat mama dan ayah ya sayang."
"Oh ya, boleh kan mama panggil kamu baby Zi ... pokoknya apapun nama yg diberikan ayahmu nanti harus ada nama Zi didalamnya, karena mama sudah memilihkan nama yang bagus buat kamu," ucapnya sambil membelai-belai lembut perut buncitnya itu.
Dan ternyata bayinya pun merespon sentuhan lembut Nisa. Nisa begitu kegirangan mendapati respon anakknya tersebut. Dan malah semakin aktif geraknya dalam perut Nisa. Sampai Nisa senyam-senyum sendiri. Apalagi saat perutnya yang semula bundar jadi melenceng ke kanan dan ke kiri mengikuti pergerakan aktif sang bayi.
Sampai tak terasa waktu sudah semakin sore. Ia pun segera mandi dan menyiapkan makan malam buat suaminya.
"Sebentar lagi ayah pulang" teriak Nisa kegirangan, sampai ia jingkrak-jingkrak bahagia, dan lupa kalau dirinya sedang hamil besar.
"Aduh." Reflek dia memegangi perutnya, ternyata anaknya juga ikut bahagia.
"Kamu juga kangen ayah ya sayang, tenang bentar lagi ayah pulang kok," ucapnya lembut disertai belaian lembutnya.
Lalu ia pun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Dret ... dret ... dret ...
Satu panggilan telepon terlewat olehnya.
Setelah 20 menit mandi, ia pun segera keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat Hpnya baru saja menyala, artinya ada panggilan atau pesan yang baru saja masuk. Ia buru-buru menghampirinya, diraihnya Hpnya untuk segera melihatnya.
Tertera satu panggilan tak terjawab dari suaminya, lalu ada pesan yg masuk.
"Sayang ... kayaknya aku terlambat pulang, kamu makan sendiri dulu gak apa-apa kan? aku ada meeting mendadak dengan klien." (Zein)
"Iya, gpp kok, kamu pulangnya jangan malam-malam ya mas." (Nisa)
"Iya." ( Zein)
Lalu Nisa melangkahkan kaki ke dapur untuk memanasi sayur, lalu ia segera mengambil nasi dan makan sedikit. Lalu ia merebahkan dirinya di kasur sambil melihat TV. Punggungnya sudah begitu nyeri jika dipakai lama untuk beraktivitas. Tapi mau bagaimana lagi, di rumah itu hanya ada ia dan suaminya. Mau tak mau mereka kerjakan berdua.
Dret ... dret ... dret ...
"Hallo dengan nyonya Nisa?"
"Iya saya sendiri, maaf ini siapa?"
"Saya dari kantor polisi, suami anda baru saja mengalami kecelakaan di Jalan K, dan sekarang sudah dalam perjalanan ke rumah sakit internasional."
Jedaaa ... aaarrrrr ... bagai petir yang menyambar di siang bolong, hati Nisa sakit saat mendengar suaminya kecelakaan.
"Ba..aagaimana bisa terjadi pak? lalu ?" tanyanya terbata-bata.
"Sebaiknya anda segera mengunjungi rumah sakit internasional untuk memastikan keadaannya."
"Baik pak."
Dia pun menutup telponnya dan segera naik ke lantai dua untuk mengambil tas dan dompetnya. Dia pun segera memesan taksi online.
Setelah taksi datang, ia pun segera masuk ke mobil dan menyuruh sopir melajukan ke rumah sakit internasional.
Di Kota JK ini dia tak mempunyai kerabat atau keluarga, hanya dokter Richard saja yang sudah menjadi temannya dan juga Zein. Karena dia yang merawat pemulihan Zein pasca kecelakaan beberapa tahun lalu, maka sejak itulah kedekatan mereka mulai terjalin.
Tiga puluh menit perjalanan ahirnya ia sampai di rumah sakit. Kebetulan di dalam mobil tadi ia sudah menelpon dokter Richard dan meminta bantuannya untuk menangani Zein.
Dengan perut besar Nisa melangkahkan kakinya menuju ruang operasi Zein. Menurut informasi, kecelakaan kali ini cukup parah, sehingga ia langsung dioperasi.
Dengan tergesa-gesa Nisa melangkahkan masuk kedalam rumah sakit tersebut. Bahkan meskipun perutnya juga terasa sakit dan kram sedari tadi, tapi ia menghiraukannya. Baginya keselamatan suaminya telah menjadi prioritas untuknya dan calon anaknya nanti.
Entah kenapa perasaan Nisa tidak enak dari tadi pagi saat melepas Zein pergi bekerja. Dan semuanya terbukti saat ini, suaminya sedang terbaring di meja operasi. Dan ia hanya bisa berdoa dari sini.
Di depan ruang operasi telah berdiri seseorang yang pernah ia kenal. Ya, itu Fadhil, teman seperjuangannya dulu saat di kota X. Tapi kenapa dia berada disini? Fadhil yg merasa ada seseorang yg sedang menuju tempatnya, segera membalikan tubuhnya.
Deg ...
"Nisa??? Kenapa dia ada disini? Apakah dia istri Pak Zein? Oh tidak!"
"Lalu itu perutnya, dia sedang hamil besar?"
Serentetan pertanyaan muncul di benak Fadhil.
Nisa semakin mendekati Fadhil, diusapnya bekas air matanya itu, perlahan dan pasti ia makin mendekati ruang operasi. Sejenak mereka beradu pandang disana. Dan ahirnya ialah yang memulai percakapan.
"Fadhil? Kenapa kamu ada disini?" tanyanya perlahan.
Sebelum ia menjawab pertanyaan Nisa. Tiba-tiba datang seorang polisi mendekati mereka berdua.
"Maaf, apa anda nyonya Nisa?" tanya polisi itu.
"Iya pak, saya Nisa istri Pak Zein." Ucapnya sedikit panik.
"Bagaimana kronologi kejadiannya pak? Kenapa dia bisa kecelakaan" tanyanya kembali.
"Begini bu, dari hasil penyelidikan sementara, rem mobil yang dikendarai suami anda blong, dan mengakibatkan ia tak bisa menghindari truk dari arah berlawanan, sehingga Pak Zein yang saat itu menggunakan kecepatan tinggi menabrak dinding pembatas tol, dan ahirnya seperti ini."
"Dan disaat kejadian untung saja ada Bapak Fadhil yang segera memanggil polisi dan membawa suami anda kesini." Terang bapak polisi itu pada Nisa.
Ia pun memandangi Fadhil sesaat, lalu mengucapkan terimakasih padanya. Kemudian polisi itu meminta ijin pada mereka berdua untuk melanjutkan penyelidikan tentang kasus kecelakaan ini.
Dan terjadilah keheningan seperti tadi. Dari raut wajah Nisa sudah ditebak, bagaimana rasa hawatirnya pada suaminya tersebut. Fadhil yakin betul di kota ini mereka tak ada sanak family, dan mereka hanya berdua. Terbukti dari tadi tidak ada yang datang ke rumah sakit itu.
.
.
.
...JANGAN LUPA DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN ...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT ...
...VOTE/ GIFT...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏...