After Married

After Married
I LOVE YOU PAPA ZEIN



Happy reading all😘


.


.


...⚜⚜⚜...


...Meski takdir tak selamanya indah...


...Tetapi percayalah...


...Akan ada saatnya semua hal yang kau impikan...


...akan tercapai...


...Asal kau tak berhenti melangkah...


...Meski kau tak tau...


...Dimana arah pelabuhanmu nanti...


...Tapi teruslah berjuang...


...Langkahkan kakimu sampai ......


...Sampai ia tak mampu lagi...


...Untuk berjalan...


...⚜⚜⚜...


.


.


"Hmm, lelahnya ..." ucap Zein sembari memandang cakrawala jingga sore itu.


Baginya kehidupan begitu misteri, bahkan ia belum bisa mengingat semuanya dengan baik sampai saat ini.


"Sore Tuan, bolehkah saya bergabung disini?"


"Oh tentu boleh Mang silahkan," ucap Zein ramah.


Kedua lelaki beda generasi itu menghabiskan sorenya di halaman belakang rumah Zein. Sambil ditemani dua cangkir teh dan sepiring camilan pisang goreng tersaji apik di atas meja.


Udara sore itu hangat, tak seperti suasana hari-hari sebelumnya yang selalu ditemani air hujan.


Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di halaman depan.


"Siapa tamu di sore-sore begini?" gumam Zein.


Ia pun hampir beranjak dari tempat duduknya saat itu, tetapi Mang Dede menginstruksinya agar tetap diam.


"Biar saya saja yang melihat ke depan Tuan."


"Baiklah."


Lalu Mang Dede segera berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang.


Ting Tong ...


Terdengar suara bunyi bel rumah berbunyi. Mang Dede segera meraih gagang pintu.


"Nyonya ..." sapa Mang Dede sedikit kaget.


Karena kedatangan Nisa berserta suami dan anaknya sungguh membuat Mang Dede terkejut.


"Si-silahkan masuk Nyonya."


"Terimakasih Mang."


Lalu mereka berlima segera memasuki ruang tamu. Ada desir aneh yang menjalar di tubuh Nisa kala itu. Bagaimana tidak, sebuah rumah penuh kenangan dengan mantan suaminya, kini ia berkunjung ke rumah itu lagi.


"Silahkan duduk, biar saya panggilkan Tuan dulu di belakang."


"Terimakasih Mang."


Lalu dengan langkah cepat kini Mang Dede sudah menemui Zein.


"Permisi Tuan, di depan ada Nyonya Nisa dan suaminya berkunjung ke sini."


"Oh, ya? ada keperluan apa dia kemari?"


Tanpa bertanya lebih banyak lagi, Zein segera menemui tamunya sore itu.


"Selamat sore papa ..." sapa Zi mengagetkan Zein, Nisa dan Fadhil.


Tanpa aba-aba, Zi berhambur memeluk ayah kandungnya itu. Sontak saja mata Zein berembun, dielusnya pucuk kepala Zi dengan penuh kasih sayang.


Ia pun berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan putranya itu. Diciuminya darah dagingnya itu. Entah kenapa detak jantungnya sudah tidak karuan lagi. Sebuah kenyataan yang diluar dugaan, anak laki-laki yang biasa ia impikan kini berada dipelukannya.


"Nis ..." ucap Fadhil lirih.


"Iya mas, biarkan saja," ucapnya sambil menyeka air matanya.


Tangan Fadhil kemudian memegang pundak Nisa lalu merangkulnya. Pucuk kepalanya ia sandarkan di bahu suaminya. Sembari ke empat mata mereka mengamati sebuah moment haru di depannya itu.


"Benarkah keputusanku ini mas?"


"Semoga saja Zein menerima kehadiran Zi."


"Aamiin," ucap mereka berbarengan.


Sedangkan di sisi ruangan, Zein masih merasakan haru juga bahagia dalam situasi yang hampir bersamaan.


Zi memandangi ayahnya dengan bahagia.


"Bolehkah aku memanggil papa?"


Zein mengangguk, "Tentu saja boleh sayang, paap sangat bahagia jika Zi mengingat papa."


"Meski aku hanya sebentar bersama papa, tetapi darah yang mengalir di dalam sini juga berkat papa."


"Terimakasih sayang, sudah mau bertemu papa."


"Sama-sama pa, Zi kangen papa Zein, hu ... hu ... hu ..."


Ahirnya tangis yang ia pendam sedari tadi pecah juga. Bagaimana pun kerinduan mereka sudah terpendam selama hampir enam tahun. Tetapi ternyata Tuhan masih memberi kesempatan hidup yang kedua buat Zein. Hingga ahirnya hari ini mereka bisa bersama.


.


.


...🌹Bersambung🌹...