
“Selamat datang nona muda.” Ucap salah seorang asisten rumah tangga ketika nona mudanya datang.
“Terimakasih.”
“Rumahnya tetap sama seperti saat aku tinggalkan beberapa tahun yang lalu,” ucapnya.
Dipandanginya rumah yang sudah lebih dari tujuh taun ia tinggalkan itu secara seksama. Terapi dalam pandangannya semuanya tetap sama seperti saat ia tinggalkan.
Ia pun teringat akan keberadaan sang ayah yang sudah ia rindukan beberapa tahun terahir ini.
“Oh ya, ayah dimana Bi?”
“Tuan besar ada di kamarnya nona, beliau masih beristirahat di jam seperti ini.”
“Mau saya panggilkan, nona?”
“Boleh, eh ga usah Bik, biar aku yang ke kamar ayah.”
"Baik nona."
Lalu pelayan tadi segera memindahkan semua pakaian di kamar tidur.
TAP
TAP
TAP
Hentakan hells yang ia kenakan beradu merdu dengan anak tangga yang terus ia lalui. Kini ia telah sampai di ujung tangga terahir. Langkahnya terhenti ketika kenangan-kenangan masa lalu kembali memenuhi ingatannya.
Menyeruak membuat dirinya ragu untuk melanjutkan langkahnya.
Tetapi ia menyakinkan dirinya untuk tetap tenang dan mencoba bersikap biasa. Ia pun mengambil nafas lalu membuangnya secara perlahan.
Tak lupa, ia berdoa agar ayahnya sudah memaafkan segala kesalahannya di masa lalu. Lalu setelah dirasa agak tenang, ia pun memantapkan langkahnya menuju kamar sang ayah.
Ceklek
Pintu kamar sang ayah telah terbuka. Nampak cahaya remang-remang di ruangan kamar berukuran lima kali lima meter itu. Di atas kasur masih nampak sesosok tubuh yang berselimut tebal. Ia yakin sang ayah masih terlelap.
Ia pun mencoba mendekati kamar tidurnya. Dilihatnya dengan seksama sosok ayahnya yang telah bertambah tua. Dipandanginya lekat-lekat wajah ayahnya itu.
“Ayah, Zivanna pulang...” ucapnya perlahan
Meskipun diucapkan secara perlahan, tetapi ia tau kalau putrinya sudah datang. Ia pun membuka matanya secara perlahan.
“Sayang, kemarilah ...” ucapnya seraya membentangkan kedua tangannya ke arah putrinya.
Tanpa ragu-ragu ia pun berhambur memeluk ayahnya. Isak tangis tak dapat ia tahan lagi.
“Ayah ...” isaknya
“Anak bodoh, seenaknya tidak pernah mengunjungi ayahmu lagi.”
“Harusnya kau tau, ayah tidak mungkin betah berlama-lama marah padamu,” ucapnya sambil membelai rambut sang putri.
“Ayah aku kangen.”
“Kalau kangen itu ya pulang, jangan malah menghindariku.”
“Maaf, aku kira ayah masih marah, jadi aku ta-takut.”
“Bodoh, kau memang putriku yang terbodoh, sudah dibilang cepat pulang, masih saja tidak dengar perkataan ayah.”
Hiks hiks hiks ...
...
Kediaman Nisa
“Bagaimana ia bisa hidup kembali?”
Pertanyaan Richard sungguh membuat kepala Fadhil terasa pening. Mana ia bisa tau kalau mantan suami Nisa itu bisa muncul di saat saat penting seperti ini.
“Sudah jangan kau tanyakan hal sebodoh itu padaku.”
“Ckckck ... takut ketinggalan nih ceritanya.”
“Ya sudah kamu jangan hawatir, karena aku akan mencoba menyelidiki apakah itu benar Zein atau bukan.”
“Oke, aku percayakan padamu.”
Sedangkan Nisa tak menyangka Mang Dede akan membawa Zein secepat ini. Ia tak menyangka kalau ia bertindak secepat ini. Sungguh ia tak menyangka kalau ia bisa berada disini saat ini.
“Mas, maafkan aku tidak bisa menemuimu saat ini, maafkan aku... “
Kini ia merasakan bimbang yang luar biasa. Entah kenapa hatinya sangat kacau saat ini. Ia tidak bisa berfikir jernih saat ini. Apalagi Aaron tidak bisa tenang, entah kenapa ia begitu rewel saat ini.
“Sayang, kamu kenapa? Jangan rewel ya.”
Tiba-tiba ibu Fadhil masuk ke kamar Nisa.
“Nisa, katakan pada ibu, kenapa mantan suamimu bisa berada disini?”
“A-aku sungguh tidak tau Bu.”
“Jangan harap kamu bisa meninggalkan anak ibu ya, hanya karena suamimu sudah kembali.”
“Ma-maksud ibu apa?”
“Jangan sampai kamu melukai hati Fadhil, ibu tidak rela.”
Mendengar ada sedikit keributan di atas, Fadhil segera meninggalkan Richard. Ia bergegas berlari ke dalam kamar istrinya.
“Ibu, apa yang ibu lakukan disini!” gertak Fadhil.
Ia begitu takut ibunya menyakiti hati Nisa. Ibu Fadhil menoleh, “Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu nak.”
“Apa maksud ibu.”
Ia pun bergegas menghampiri Nisa dan Aaron lalu memeluknya. Diraihnya Aaron dari gendongan Nisa agar sedikit tenang.
“Jangan menangis sayang...” ucap Fadhil menenangkan putranya.
“Ibu, aku mohon ibu keluar.”
“Ka-kamu ...” ucap ibu Fadhil tertahan, saat kedua tangan suaminya mencegahnya membuat keributan.
Nisa tak berani menatap kemarahan ibu mertuanya. Ia bingung harus bersikap kali ini.