
Ia tak mau berburuk sangka, tetapi kebahagiaan Nisa adalah tujuan utamanya saat ini, oleh karena itu semua hal yang berkaitan dengan Nisa dan Zi harus sepengetahuan dirinya.
Boleh dibilang sikap Fadhil sebenarnya over protektif tapi masih dalam batas aman dan wajar. Sebelum bertindak ia pun memikirkannya terlebih dulu dengan pertimbangan yang sangat matang.
Seperti saat ini ia sedang merencanakan kehidupan barunya dengan Nisa dan Zi.
...***...
Pesta ulang tahun Sharen dilakukan siang hari sesudah sekolah. Sekitar jam 14.00 WIB di kediaman orangtua Sharen.
Semua teman sekolah Sharen juga sudah mulai berdatangan. Tetapi Zi dan mamanya belum sampai. Maklum mama Zi masih mampir ke butik sebentar.
Dan mereka juga sekalian berganti baju disana. Tak lupa Zi memakai masker sesuai anjuran pemerintah.
Nisa pun telah siap dengan pakaian santainya. Dan mereka pun menuju rumah Sharen dengan segera.
Lima belas menit kemudian, mereka telah samlai di rumah Sharen. Ia pun nampak cantik dengan baju pinknya.
Nisa pun mengajak Zi untuk mengucapkan selamat pada Sharen sekalian memberikan kado untuknya. Sharen merasa bahagia sekali melihat temannya datang ke pesta ulang tahunnya.
Terlebih itu teman yang sangat spesial dihatinya. Ia pun menyambut kedatangannya dengan senyuman penuh dan merekah.
"Ini sharen ya? cantik sekali." Ucap Nisa sesampainya di depan Sharen.
"Iya tante, tante mamanya Zi kan?perkenalkan saya Sharen tante."
"Iya sayang, selamat ulang tahun ya sayang, doa-doa terbaik untuk kamu." Ucap Nisa tulus.
"Terimakasih tante dan Zi sudah bersedia datang kesini."
Lalu Zi pun menyerahkan kadonya untuk Sharen. Dengan senang hati ia menerima kado dari Zi. Ia pun segera menaruhnya di dekatnya.
Tidak dijadikan satu dengan kado lainnya. Bahkan ia menyuruh salah satu pelayannya untuk menaruh hadiah dari Zi untuk langsun dibawa ke kamarnya.
Sesaat kemudian ibunya Sharen pun datang dan menyambut mereka. Ibu Sharen tak lupa memberi salam dan berjabat tangan dengan Nisa dan Zi.
"Wah ini yang namanya Zi ya, ganteng banget, pasti papanya juga ganteng." Ucap mama Sharen.
Nisa pun hanya menanggapi dengan senyuman, lalu mereka permisi agar bisa bergabung dengan tamu undangan lainnya.
Pandangan mata Sharen tak lepas begitu saja meski Zi dan mamanya, meski mereka sudah menjauh.
"Pantas saja kamu naksir dia, dia ganteng banget sayang." Ucap mama Sharen sembari melirik putrinya.
"Tentu saja ma, apalagi Zi anak yang sangat baik dan pintar."
"Good sayang."
Ternyata siang itu, tante Sharen pun ikut datang ke acara itu. Dan orangnya tak lain dan tak bukan dialah Sheril, gadis yang sering mendatangi Fadhil di kantornya.
Ia pun mendekati Sharen dan mengucapkan selamat ulang tahun. Sharen pun mengenalkan tantenya pada Zi dan mamanya.
"Kamu ..." ucap Sheril terhenti ketika berjabat tangan pada Nisa.
"Iya, saya Nisa dan ini anak saya." Ucap Nisa sambil menyalami tangan Sheril yang masih terulur.
"Sheril tantenya Sharen." Ucap Sheril lalu melepaskan tautan tangan mereka.
Tidak disangka orang yang selama ini dicari kini ada di depan matanya.
"Kenapa lain sekali ya? padahal saat di kantor ia terlihat sangat dewasa tapi kini ia malah terlohat seperti remaja." Tanya Sheril dalam hatinya.
"Apa-apaan ini?"
"Tante kenapa diam dan bengong?" tanya Sharen kemudian sembari menarik lengan Sheril.
"Eh, itu ... tante ini mirip orang yang tante temui beberapa waktu lalu di sebuah perusahaan."
"Oh ya, dimana itu tante?"
"Perusahaan calon om kamu."
"Iya dong sayang, kapan-kapan tante kenalin sama kamu."
"Oke tante."
...***...
"Owh ternyata sikap Sharen itu turunan tante sama mamanya yang centil, " batin Zi.
Tapi Zi tak menghiraukan Sharen dan lebih memilih untuk bergabung dengan teman-teman lainnya. Nisa hanya geleng-geleng melihat sikap Zi barusan.
Sedangkan Nisa sembari mengingat siapa wanita yang bersalaman dengannya tadi, seingatnya dia dua kali berpapasan dengannya saat berada di kantor Fadhil.
Karena semua tamu undangan sudah hadir, maka pesta ulang tahun Sharen segera dimulai. Semua hadirin berkumpul di dekat podium.
Sharen telah berada di atas podium bersama ayah dan ibunya. Dan semua hadirin menyanyikan lagu Happy Birthday secara bersama-sama. Dan tibalah saatnya meniup lilin.
"Happy birthday sayang." Ucap mamanya sembari mencium pipi Sharen.
Begitu pula dengan anggota keluarga lainnya yang melakukan hal sama pada Sharen. Lalu sesudahnya ia pun meniup lilin dan membagikannya pada mama dan ayahnya.
Ia juga mengiris satu potong kue dan ia pun ingin memberikan kue itu pada Zi. Zi sengaja pura-pura tidak melihat. Ia masih bersikap santai dan berbaur dengan teman yang lainnya.
Sampai langkah kaki kecil gadis itu sampai di depan Zi. Zi dan mamanya pun kaget dengan kedatangan Sharen.
"Ini buat kamu Zi," ucapnya malu-malu.
Dan jangan ditanya lagi suara tepuk tangan para hadirin terdengar dari segala penjuru. Tentu saja Zi malu akan kejadian tersebut. Ia menyerahkan kuenya pada mamanya kemudian ijin pergi ke toilet. Tapi hal itu dicegah oleh Nisa.
"Sayang jangan lakukan apapun, kita sedang di dalam acara teman kamu, hormati dia." Pinta mamanya.
"Ta-tapi Moms, aku ..."
"Zi, mama mohon, " ucap Nisa dibuat sesedih mungkin.
Zi mana tega melihat mamanya bersedih. Maka dari itu ia pun menuruti keinginan mamanya.
...***...
Sebelum Nisa pergi dan Zi ke pesta ulang tahun Sharen, Nisa sudah meminta ijin pada Fadhil, dan Fadhil bilang akan menyusul sepulang kerja nanti.
Memang pesta ulang tahun di kediaman Sharen berlangsung cukup lama, tetapi stan permainan yang ada di sana selalu penuh dengan anak-anak seusia mereka. Dan Zi cukup terhibur dengan acara tersebut.
Maka Nisa pun memberi tahu Fadhil untuk tidak usah menjemputnya, terlebih Zi masih nyaman dalam pesta ulang tahun tersebut. Tetapi yang namanya Fadhil jika sudah berkehendak ya dia akan tetap melaksanakan keinginannya tersebut.
Ia sudah menelpon orang rumahnya untuk membawa mobil Nisa dan mengembalikan ke rumah Nisa. Sedangkan untuk Nisa dan Zi nanti biar diantar pulang olehnya.
Tentu saja Nisa sudah sangat hafal dengan kelakuan Fadhil, mau protes pun tidak bisa, karena memang Zi juga sangat kangen sama om-nya tersebut. Dan jadilah Nisa dan Zi pulang diantar Fadhil dengan menggunakan mobilnya.
Di dalam mobil Zi bercerita panjang lebar dan Nisa pun hanya mendengarkannya di kursi belakang. Karena kali ini Zi duduk didepan dekat dengan Fadhil, sedangkan Nisa duduk di kursi belakang.
Tetapi Fadhil tak keberatan, ia tau Zi juga butuh teman curhat sebagai sesama lelaki, maka dari itupun ia memposisikan dirinya sahabat untuk Zi.
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...