
"Moms besok sekolahku mengadakan study tour, apa aku boleh ikut?"
"Kemana sayang tujuannya?"
"Ke Jogjakarta katanya."
"Semua siswa ikut ga?"
"Wajib sih mom."
"Emang boleh anak seusia Zi sudah ikutan study tour ke luar kota?" tanya Fadhil yang tiba-tiba muncul dan bergabung dengan sarapan pagi.
"Engga tau mas? kita tunggu saja pemberitahuan dari pihak sekolah."
"Em.. kayaknya ada kok Daddy.. nanti biar Zi tanyakan pada wali kelas Zi."
"Oke, Daddy tunggu kabar baiknya."
Mereka lalu melanjutkan sarapan paginya kembali. Fadhil pun teringat sesuatu yang mengharuskan ia harus cerita pada istri dan anaknya.
"Sayang, minggu depan aku berangkat ke luar negeri buat melanjutkan kerja sama proyek di Tokyo, apa kamu mau ikut?"
Deg, detak jantung Nisa terhenti sesaat, ia kembali teringat ucapan mendiang suaminya yang pamit mau ke Tokyo tapi tidak kembali sampai saat ini.
Semua memory saat terahir kali sarapan bersama dan saat berpamitan pun muncul kembali. Saat Zein mengecup kening Nisa dan mengucap, "Aku akan kembali sayang, kamu baik-baik di rumah dan jaga Zi ya... I Love You sayang... "
Nisa pun menahan air matanya agar tidak terjatuh, dan berusaha menguatkan hatinya. Dari seberang meja Zi melihat perubahan mimik wajah ibunya saat ayahnya tadi berpamitan. Tapi ia masih berdiam diri melihat respon ibunya.
Nisa pun mengubah raut wajahnya agar tetap terlihat biasa dan kembali bertanya pada suaminya.
"Apa tidak bisa diwakilkan?" tanya Nisa kemudian.
"Kayaknya gak bisa, Direktur Jang memintaku sendiri untuk datang kesana." Ucap Fadhil tanpa beban.
"Hmm, ya sudah kalau begitu, berangkatlah mas, aku disini saja bersama Zi."
Zi pun memotong percakapan ayah dan ibunya.
"Maaf Daddy, emang berapa hari kesana?"
"Mungkin cuma 3 harian, atau bisa dipercepat menjadi 2 hari lah."
"Daddy usahain pulang cepat ya ... kasian mommy kalau ditinggal lama."
"Iya sayang, Daddy usahain secepatnya pulang, kamu percaya dengan Daddy kan?"
Zi pun mengangguk.
"Ya sudah ayo kita berangkat," ajak Fadhil pada putranya itu.
"Moms, aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Fadhil pun mengecup kening Nisa dan berpamitan pada istrinya tersebut.
"Hati-hati ya mas."
"Iya sayang, tunggu aku di rumah ya, nanti aku makan siang di rumah."
"Iya."
Lalu mereka pun segera meninggalkan rumah dna menuju sekolah Zi. Memang dua hari ini Nisa tidak enak badan, makanya ia memilih untuk cuti dari kantor. Badan-badannya terasa gampang capek dan mudah letih saat ini.
Tiba-tiba ia pun merasakan mual setelah mencium sesuatu. Ia pun berlari ke kamar mandi.
Hoek ... hoek ... hoek ...
"Kok mual banget sih rasanya? hmmmppphhhm ..."
Hoek ... hoek ... hoek ...
Mbok Jah yang baru saja datang menemukan majikannya di dalam kamar mandi segera memapahnya menuju ruang makan.
"Nyonya kenapa?"
Nisa menggeleng, "Ga tau mbok, rasanya mual sekali dan lemas."
"Kemarin kata dokter nyonya kan disuruh istirahat total, tapi malah nyonya bilang tidak apa-apa, cuma buat masak aja lo, enggak yang lain." Ucap Mbok Jah menirukan gaya majikannya saat ngomong kemarin.
Nisa tersenyum kecut, sepertinya dugaannya salah, ia kira ia seperti biasanya kalau kecapekan kerja meskipun sedang cuti, ia akan tetap memasak seperti biasanya.
"Saya panggilkan dokter yang kemarin saja ya nyonya?" usul Mbok Jah.
Nisa pun teringat dokter Richard, "Engga usah mbok, biar aku memanggil dokter Richard saja, dia sudah biasa menangani aku dan mendiang mas Zein kok."
"Iya nyonya itu lebih baik, sepertinya dokter yang kemarin tidak cocok, nyatanya kondisi nyonya bukan semakin membaik malah semakin menurun."
"Terimakasih mbok ..."
Lalu setelah agak enakan Nisa mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Richard.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Assalamu'alaikum ..."
"Waalaikumsalam, eh Nisa..masih ingat aku kah? ha ha ha ...."
"Alhamdulillah masih ingat lah."
"Ehem ... ada apa ini tumben kamu telepon duluan? kangen dengan ketampananku ya..."
"Uhukkk ... jangan ngaco deh, buruan ke rumah aku enggak enak badan nih."
"Rumah yang mana dulu nih? kan kamu punya suami baru, lagian aku gak terlalu dekat dengan suamimu yang ini..."
"Rumah mas Fadhil lah."
"Suamimu di rumah ga?"
"Baru aja berangkat kerja ..."
"Ijin suami mu dulu gih.. aku takut dia makin curiga sama aku.. aku kan lom tau sifatnya posesif kaya mendiang suamimu yang dulu apa engga?"
"Iya, aku telepon dia dulu, nanti aku kabari lagi."
"Oke."
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...