
Yo malah menahan senyumnya di depan Sheril, tentu saja Sheril makin marah akan hal itu. Pagi itu Yo sukses membuat mood hati Sheril hancur.
...π~π~π~π~π...
Yo memang pandai bersilat lidah, maka dari itu sebuah keuntungan besar memiliki Yo sebagai asissten pribadi. Lagi pula Yo memang sedikit lebih pandai dalam hal menghadapi perempuan.
Sedangkan di sisi lain, Sheril sudah sangat sewot pagi itu. Sepanjang jalan ia terus mengomel tidak jelas, membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya. Tapi karena Sheril memang sudah tidak perduli, ia pun tetap melenggang dengan santainya meninggalkan perusahaan D'Corp.
"Dasar bebek sawah pinter banget sih ngerusak mood orang."
"Kita ke mana non?" tanya pak supir.
"Ke kampus aja pak," pinta Sheril.
"Baik non."
Dan pagi itu Sheril pun menuju kampusnya untuk sekedar say hallo dengan teman-teman satu kelasnya.
Ngerumpi dan belanja adalah hobby Sheril dikala bosan melanda. Rencananya Sheril ingin mengajak teman-teman sekolahnya untuk hang out atau sekedar cuci mata di sebuah Mall.
...***...
Sementara itu penerbangan yang dilakukan Fadhil dan Nisa sudah take off satu jam yang lalu. Mereka menikmati sajian dan suasana yang menyatu dengan pengguna yang lainnya.
Andai Fadhil memakai pesawat pribadi, tentu ia akan lebih bisa leluasa melahap istrinya tersebut. Karena baginya Nisa itu laksana berlian yang tidak sembarangan orang bisa menyentuh atau mengambil hatinya.
Beruntungnya Fadhil sudah mau belajar banyak tentang Nisa saat di rumah mertua dan kedua orang tua Nisa saat itu, sehingga ia bisa memilki dan mendapatkan hati Nisa.
"Mas ngapain mandangin terus si?"
"Masa mandang istri sendiri kagak boleh sih?" tanya Fadhil manja.
"Boleh tapi lihat tempat ya sayangku..." ucap Nisa dibuat seolah sedang menggoda Fadhil.
"Ehem, iya sayangku yang manis dan cantik," puji Fadhil pada istrinya tersebut.
Dan begitulah obrolan saat perjalanan panjang Nisa dan Fadhil di dalam pesawat. Karena waktu tempuh yang lumayan lama, mereka pun tertidur di dalam pesawat.
Karena lelah atau mungkin saking senangnya mereka cukup lama tertidur sembari saling menggenggam tangan satu sama lain. Mesra gitu deh... kaya orang baru pacaran.
Mungkin begitulah nikmatnya pacaran setelah menikah ya, jadi romantisnya lama dan dimulai sejak awal-awal menikah. Jadi seperti kembali menjadi anak muda yang baru mengenal pacaran.
Tapi memang kedekatan mereka baru terlihat intens sejak saat mereka menikah. Sebelum ini mereka hanya terlihat sebagai rekan sesama bisnis yang sangat profesional dalam bekerja.
Delapan jam kemudian mereka sampai di kota P. Kota indah dengan menaranya yang menjadi simbolik keromantisan dunia. Sebuah menara yang selalu dikaitkan dengan seribu kisah cinta yang romantis.
Semoga acara bulan madu Nisa dan Fadhil bisa berjalan lancar di kota ini. Karena di kota ini pula kenangan dengan Zein masih berada di hati Nisa. Sebuah kenangan yang sangat manis, tetapi juga mengiris hati karena pernah terjadi kesalah pahaman diantara mereka.
Tapi demi mengikuti dan membahagiakan suaminya, Nisa pun mengesampingkan perasaannya untuk mendiang suaminya tersebut. Kini ia sudah mantap untuk memulai langkah hidup baru bersama Fadhil.
Setelah pesawat landing, semua penumpang pun keluar dari pesawat dan menuju halte di bandara. Sebelum mereka naik taksi, mereka mengabadikan setiap moment yang tercipta disana.
Setelah puas berfoto, mereka pun menuju hotel dimana mereka akan menginap selama satu minggu ini. Sebuah hotel yang memang dirancang untuk pasangan yang baru saja menikah dan ingin menikmati honeymoon yang sangat berkesan.
Karena terjadi beberapa perbedaan waktu, mereka pun sampai di negara itu tidak terlalu malam. Sampai dihotel, mereka segera registrasi semua data dan diberi kunci kamar. Di saat itu Fadhil lah yang membawakan semua barang istrinya tersebut. Nisa sempat mau membantunya, tetapi Fadhil melarangnya.
Di kejauhan sebenernya ada beberapa pengawal yang memantau liburan mereka, tetapi mereka sudah diberi instruksi agar menjaga mereka dalam jarak yang lumayan jauh. Karena Fadhil tidak ingin privasi mereka terganggu. Apalagi Nisa tidak tau tentang hal ini.
Sesampainya di dalam kamar hotel.
"Kamu suka sayang?"
"Iya sayang, wah kamarnya bagus banget ya, liat deh, view-nya langsung ke menara itu loh sayang." Ucap Nisa dengan sangat antusias.
"Kamu suka?" tanyanya sekali lagi.
Fadhil yang tiba-tiba dipeluk, merasa bahagia sekali, karena Nisa sendirilah yang berinisiatif memeluknya. Tapi seketika itu muncullah desiran aneh yang menyeruak di dalam tubuh Fadhil.
Saat itu Fadhil masih bisa menahannya, tetapi mungkin tidak untuk lain kali. Setelah sadar karena memeluk suaminya dengan tiba-tiba, Nisa pun melepasnya meskipun masih dengan rona merah dikedua pipinya.
Untuk mengusir rasa kecanggungannya, Nisa pun menawarkan air hangat untuk suaminya mandi. Ia sengaja menyiapkan air hangat untuk suaminya, agar tidak terlalu capek karena habis perjalanan jauh.
Fadhil pun tak menolak, setelah siap Fadhil pun segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Sedangkan Nisa masih membenahi beberapa pakaian di almari hotel. Ia juga berniat untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Setelah beberapa saat kemudian, Fadhil pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Nisa tak berani memandang suaminya. Ia hanya menunduk, kemudian ijin untuk segera mandi setelahnya.
Setelah mendapat ijin, Nisa pun segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Untuk menambah rileks otot-otot di tubuhnya ia juga menambahkan aroma terapi dalam air yang ia gunakan untuk berendam.
Mungkin karena sudah lama tidak bepergian, atau mungkin karena sudah berumur, otot-otot ditubuhnya sedikit kaku. Sembari berendam, sempat terlintas bayangan suaminya. Dari arah kejauhan Zein tersenyum dan melambaikan tangan pada Nisa.
Nisa yang sedang berendam seketika tersentak dan bangun dari bathub. Bayangan yang ada didepannya seketika menghilang.
"Itu tadi benar mas Zein kan?" tanya Nisa dalam hatinya.
Ia pun menutup mulutnya, tanpa permisi dikedua pelupuk mata Nisa sudah mengalir air mata. Ada sedikit rasa sesak yang memenuhi hatinya.
"Apakah yang aku lakukan ini salah mas? kenapa kamu baru muncul sekarang?" ucapnya lirih.
Tanpa terasa Nisa sudah lama di kamar mandi, Fadhil yang menunggunya di luar sedikit hawatir pada istrinya. Ia pun mengetuk kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
"Nisa sayang? kamu enggak apa-apa kan?"
Nisa pun kembali ke dalam kesadarannya, "Iya mas, aku enggak apa-apa kok?"
"Serius? ini sudah lama sekali kamu di kamar mandi."
"Iya, sebentar lagi mas."
Nisa pun mengusap kedua matanya dan segera menyelesaikan ritual mandinya. Lalu ia pun segera keluar dari kamar mandi.
Lalu apakah mereka akan langsung melakukan hal itu malam itu juga? Entahlah yuk terus di jadikan favorit ya, biar kalau Update kalian akan langsung bisa membacanya .. makasih all
...~Bersambung~...
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...