After Married

After Married
RUJAK



.....................


"Pengen maem rujak mas ... boleh ya?"


"Hmm ... ayah mandi dulu ya sayang ..." ucapnya sambil membelai lembut perut Nisa.


"Baik ayah ... mama tunggu di depan ya ... jangan lama-lama ayah" ucapnya sambil menirukan suara anak kecil.


Lalu Nisa pun bangkit dan merapikan bajunya yg sedikit berantakan akibat aksi jailnya tadi. Zein hanya tersenyum memandangi kelakuan istrinya, lalu ia segera menyambar handuk dan menuju kamar mandi.


Meskipun hari sudah tidak sore lagi, tapi ia tetap menuruti keinginan istrinya itu, meskipun dalam keadaan yg masih lelah, ia tetap tak akan menunjukan hal itu pada istrinya.


Lima belas menit kemudian.


Zein sudah keluar dari kamar mandi, dan segera berganti baju untuk mengantarkan istrinya. Setelah dinilai rapi, ia pun segera keluar kamar menuju ruang tamu. Saat ini ia hanya mengenakan sweater berwarna putih dan memakai celana panjang. Ia tak akan membuat istrinya itu menunggu lama, karena itu ia hanya berpakaian simple saja.



Setibanya di ruang tamu, ia tak menemukan istrinya tersebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tetap saja ia tak menemukan istrinya. Tiba-tiba dering telepon membuyarkan pandangannya. Diraihnya HPnya tersebut. "Hallo ... "


"Hai sayang, aku sudah di mobil, segeralah kemari sayangku" ucap Nisa manja.


Zein hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menuju halaman rumahnya. Sebelum keluar, ia sudah mengunci pintu rumahnya, lalu ia menuju mobilnya.


Nisa yg berada di dalam mobil sudah tersenyum tanpa dosa sambil memandangi suaminya. Ia memang suka mengerjai suaminya ahir-ahir ini. Entah pengaruh kehamilan atau memang kebiasaan baru baginya.


Sudah 1 minggu ini Nisa mengambil cuti bekerja. Makanya saat tadi melihat suaminya sudah pulang kerja, bergegas ia menghampiri suaminya tersebut, tapi sayangnya karena efek kecapekan, bukannya menyapanya, suaminya malah tertidur pulas di sofa kamarnya.


"Mas ... mas ..." ucap Nisa sambil mengedip-ngedipkan matanya ke arah Zein.


"Hemm ...."


"Kok hemm aja ... mas marah ama Nisa ya?" tanyanya.


"Engga kok ..."


"Kalau engga, ditanya kok cuma jawab hmm aja."


"Kan mas lagi fokus nyetir sayang ..." ucapnya penuh penekanan pada kata sayang.


"Owh ... kirain marah."


"Mas aku ngeselin ya?"


"Engga kok ... kenapa sayang?"


"Habisnya ahir-ahir ini aku sering jahil ke mas" ucapnya sambil tertunduk sedih.


"Ga papa sayang, lagian yg terpenting adalah kebahagiaan kamu dan calon anak kita."


"Makasih ya mas ..."


"Iya sayang."


Perjalanan panjang ahirnya terlewati juga. Mereka kini sudah sampai di penjual rujak langganan Nisa semenjak hamil. Setelah mobil berhenti Nisa pun segera mendekati tukang penjual rujak.


"Mang ... rujak manisnya 2 bungkus ya ... pake cabenya 7 biji ya."


"Siap neng."


Zein yg sudah memarkirkan mobilnya pun segera mendekati Nisa.


"Udah pesen yang?"


Nisa mendongak saat tangan kekar suaminya tersebut mendarat sempurna di pinggulnya.


"Udah dong mas, tu mamangnya lagi nyiapin pesenan Nisa."


"Siap atu mas."


Lalu mereka pun mendudukan diri di tempat duduk dekat penjual rujak tersebut. Rujak langganan Nisa memang berjualan sampai malam, karena mamangnya berjualan mulai jam satu siang, sehabis sholat dhuhur. Kalau pagi mamangnya harus mengurusi ibunya dulu di rumah, baru setelah istrinya kembali dari bekerja, ia baru berjualan rujak. Jadi mereka bergantian menjaga orangtuanya di rumah.


Satu pelajaran hidup yg dapat Zein ambil dari penjual rujak tersebut adalah bagaimanapun kita bekerja keras, tetaplah ingat pada kedua orangtua yg telah membesarkan kita. Karena tanpa mereka kita tidak akan pernah menjadi apa-apa.


Nisa memang langsung menyukai rujak Mang Deden, semenjak pertama kali ia dibelikan rujak oleh suaminya tersebut. Karena selain rasanya enak, sifat dan kelucuan Mang Deden saat meracik rujaknya sudah melekat dan menjadi ciri khas tersendiri buatnya.


Sesudah selesai membeli rujak, mereka pun kembali ke mobil untuk melanjutkan pulang ke rumah.


Di tengah perjalanan, Zein ingat susu Nisa habis, ia pun menepikan mobilnya di minimarket terdekat.


Sebelum turun, ia bertanya pada istrinya terlebih dulu. "Mau nitip apa sayang?"


Nisa tampak berfikir sejenak dan ia pun mengutarakan keinginannya, "Nitip ice cream sama camilan cokelat aja."


"Udah 'ga ada lagi?"


Nisa pun menggelengkan kepalanya. Lalu Zein segera masuk ke minimarket. Sejak kehamilan Nisa mulai membesar, ia sudah tak pernah ikut saat suaminya belanja, karena berjalan sedikit saja ia sudah kelelahan, maka dari itu ia lebih memilih menunggu di dalam mobil.


Saat menunggu Zein, bayangan rujak yg nikmat sudah membuat air liurnya hampir menetes, karena itu tanpa aba-aba ia pun segera membuka satu bungkus rujak.


Satu suap dua suap, sampai ahirnya rujak didepannya itu sudah tandas dan ludes seketika.


Sampai ia tak sadar, suaminya sudah duduk di kursi kemudi.


Nisa yg baru sadar akan kehadiran seseorang di dekatnya segera menoleh, "Mas, kamu ih ngagetin aku aja!" sungutnya dengan kesal.


"Kamu tu yg keasyikan makan, sampai 'ga tau aku udah masuk mobil, coba kalau orang lain gimana?"


"Ya maaf mas, jangan ngomong gitu dong, ini kan anak kamu juga yg engga nahan saat liatin ni rujak, makanya aku buka satu dulu."


"Ya udah, mas juga minta maaf, tadi lupa mengunci mobilnya."


Nisa pun manggut-manggut. Lalu Zein menyodorkan minuman pada Nisa, karena biasanya Nisa akan minta minum setelah makan.


"Makasih sayang" ucapnya lalu meminum air mineral itu hampir setengah botol.


Setelah Nisa selesai minum, mereka pun meneruskan perjalanan kembali, yaitu menuju rumah mereka.


Sesampainya di rumah, Nisa lalu masuk ke kamarnya, entah kenapa punggungnya sudah merasa sakit, meskipun perjalanan tadi tidak memakan waktu lama, tapi rasanya punggung dan kakinya sudah pegal-pegal tidak karuan.


Sementara Zein masih didapur sambil menaruh seporsi rujak untuknya dan segelas susu ibu hamil untuk Nisa.


Sesampainya dikamar, ia sudah melihat istrinya itu sudah berganti baju dengan baju santai dan sedang duduk diatas kasur dengan selonjoran kakinya.


"Kakinya pegal-pegal lagi?"


"Iya mas" ucapnya sambil mengelus-elus kakinya dan juga perutnya.


"Ini susunya diminum dulu, mas mau ganti baju dulu, nanti mas pijat kakinya."


Karena biasanya setelah Zein memijat kakinya, rasa pegal yg menderanya tadi akan hilang dengan sendirinya saat kulit Zein bersentuhan dengan kulitnya.


Sementara makanan lainnya ditaruh diatas nakas dikamarnya, Zein segera membuka sweaternya dan menggantinya dengan piyama tidur.



Nisa? jangan ditanya lagi, ia sudah sibuk memandangi tubuh atletis suaminya tersebut dengan tatapan yg sulit diartikan oleh siapapun.



Zein yg sudah selesai berganti pakaian ia segera mendekati istrinya tersebut. Nisa pun menelan salivanya dengan susah saat suaminya tersebut sudah mendekat. Entah kenapa semakin hari, suaminya makin tampan saja, sehingga membuat Nisa tak jemu-jemu memandangnya.