
"Oh ya Zi, tadi pagi mama dapat telepon dari salah satu wali murid di kelas kamu?"
"Siapa Moms?"
"Kalau tidak salah namanya Sharen, dia mengundang mama dan kamu untuk pergi ke acara ulang tahunnya."
"Huh, dia lagi ..." gerutu Zi yang masih bisa didengar Nisa."
"Memang kenapa sayang?"
"Moms ga ingat? dia kan gadis kecil yang aku ceritain kapan hari ..." protes Zi.
Nisa mencoba mengingat ucapan putranya.
"Oh iya mama ingat, gadis kecil yang suka ngintilin kamu kemana aja itu kan?"
"Yes Moms."
"Ha ha ha ... ternyata yang itu ya, makanya kamu cemberut sedari tadi."
"Ya ya ya ... nekad banget si sampai mengundang Moms pula, padahal aku tak berniat untuk datang."
"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu, namanya undangan itu wajib dihadiri, ga enak dong masa diundang kitanya ga datang."
"Ta-tapi kan Moms.... " rengek Zi.
"Tidak ada tapi-tapian Zi, bahkan didalam ajaran agama kita sudah dijelaskan kalau ada sebuah undangan kita diwajibkan untuk menghadirinya."
"Selain untuk menghormati yang mempunyai acara, itu juga salah satu bentuk kita dalam hidup berdampingan dengan sesama manusia."
"Ta-tapi Moms, ini ceritanya kan beda."
"Zi kamu tenang deh, kan ada mama, dijamin beres deh." Nisa pun mengedipkan sebelah matanya untuk Zi.
"Ok, aku percaya sama Moms."
Dan Nisa pun bahagia karena Zi menuruti perkataannya. Bagaimana pun sikap sosial Zi harus dipupuk sedari kecil.
Ia tak boleh bersikap arogan atau semaunya sendiri. Karena hidup harus berdampingan, maka kita pun harus bisa hidup bersosialisasi.
Oleh karena itu Fadhil juga menduduki posisi CEO di perusahaan tersebut.
"Mom, aku mau mandi dulu ya." Pamit Zi pada mamanya yang langsung memeriksa pekerjaannya.
"Iya sayang."
Zi pun segera mandi dan berganti baju dan ia pun juga mengerjakan sholat dhuhur di sebelah ruangan Nisa.
Setelah Zi selesai ia pun membuka laptop yang tersedia di kamar itu untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya. Tak lama kemudian, Nisa pun masuk ke ruangan Zi dan memeriksa keadaan Zi.
Ia pun segera membersihkan diri dan mengambil air wudhu, ia juga akan mengerjakan sholat dhuhur. Zein memang mendesain ruangan kerjanya nyaman untuk keluarga.
Sebelah ruangan kerja Nisa ada tempat beristirahat juga beribadah, ada tempat mandi dan beberapa stel baju untuk Nisa dan Zi bila sewaktu-waktu mereka berada disitu.
Sejak Zein tiada, Zi lebih banyak ikut ke kantor Nisa. Karena Mbok Iyem yang merawat sejak kecil juga sudah meninggal saat Zi berusia 3 tahun. Sejak itu Zi sering diajak Nisa ke tempat kerja.
"Moms... aku boleh order makanan by go food ga?" tanya Zi tiba-tiba berada disisi meja kerja Nisa.
"Hmm, kamu lapar ya sayang?"
"Iya mom, uda 2 jam aku disini."
"Eh iya, maaf bentar lagi kerjaan mama selesai."
Tapi Zi tetep cemberut di tempatnya. Nisa pun tak tega, dan ia pun memberikan ijin pada Zi. Zi pun berterimakasih pada mamanya. Dan segera memesan makanan kesukaannya.
Satu jam kemudian, Nisa sudah selesai dengan pekerjaannya. Dan Zi pun juga sudah selesai ngemil makananannya. Sebelum pulang Nisa dan Zi jamaah sholat ashar dulu di kantor. Baru sesudahnya mereka pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Zi langsung naik ke kamarnya untuk menaruh barang-barangnya. Begitu pula dengan Nisa yang langsung menuju kamarnya.
Tak lama kemudian mereka keluar dari kamar masing-masing dan bertemu di ruang keluarga. Karena sudah melaksanakan sholat maghrib mereka sekarang santai sore dengan menonton acara TV bersama.
Di tempat ini, Zi biasanya akan bercerita tentang kesehariannya di sekolah hampir setiap hari.
...🌹Bersambung🌹...