
...Sesuatu yang berharga mungkin saja bisa hilang...
...Tetapi rasa yang pernah ada untukmu...
...Tidak akan pernah terhapus oleh waktu...
...⚜⚜⚜...
"Nak, minum dulu," ucap ayah pada Cahaya.
Cahaya mulai meraih gelas air gula yang disodorkan sang ayah padanya. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada ayahnya.
"Terimakasih ayah."
"Hmm, bagaimana keadaanmu?"
"Alhamdulillah udah mendingan ayah."
"Syukur alhamdulillah kalau begitu, ayo ikut bapak ke ladang, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu."
"Iya, Ayah."
Dengan tatapan yang masih mengarah pada ayahnya ia pun meminum air yang diberikan ayahnya itu.
Saat ini, Cahaya memang masih mencoba menghapus ingatan tentang Fajar, mau tidak mau ia harus segera menghapus ingatan tentangnya jika ia mau melanjutkan hidupnya. Bayang-bayang kehidupan indah yang pernah menyelimutinya, kini ia relakan untuk pergi.
Tak mau berlama-lama, ia pun segera pergi mengikuti sang ayah untuk pergi ke ladang. Sedangkan ibunya masih memasak di dapur.
Melihat suami dan anaknya pergi, terdengar ibu menghela nafas panjangnya. Mata tuanya kini tak se-sayu kemarin, karena sudah beberapa hari kemarin ia sudah belajar untuk ikhlas.
"Sampai kapan kamu bisa bertahan dengan kondisi seperti ini nak?"
Ucapan itu lolos tanpa sengaja dari bibirnya, ketika ia mulai memikirkan perkataan suaminya kapan hari. Tetapi pandangan matanya tetap tertuju pada kedua orang yang sangat ia cintai itu.
Sampai ahirnya bayangan dari keduanya mulai menghilang dan masuk ke semak-semak.
>>>FLASH BACK ON
Siang itu di sebuah bilik kamar, sedang terjadi sedikit keributan diantara ayah dan ibu. Ibu masih tidak terima dengan kejadian-kejadian yang menimpa putri satu-satunya itu.
"Bu, ikhlaskan saja semua yang telah terjadi, semua sudah berlalu."
"Gak bisa Pak, aku tidak bisa melihat putri kita terus menderita seperti itu."
"Kata siapa dia menderita?"
Ibu menoleh menatap suaminya, ditatapnya mata suaminya dalam-dalam. Lalu Ayah Cahaya mulai memegang kedua pundak istrinya. Pandangan mereka terkunci satu sama lain.
"Anak kita tidak sedang menderita Bu, saat ini yang sedang ia jalani adalah sebuah proses pembelajaran, ini baru permulaan." Kata Ayah.
"Setiap manusia pasti akan diuji dengan berbagai cobaan hidup untuk memastikan apakah dirinya sudah menjadi dewasa atau belum?"
Ibu Cahaya tampak mau melepaskan tangan suaminya, tetapi nyatanya tenaga ibu tidak sebanding dengan ayah. Posisi seperti ini sangat tidak disukai ibu karena sejujurnya ia tidak akan sanggup melihat kedua mata suaminya.
Karena yang pasti ia akan luluh dengan perkataan sumu jika ia berani memandang kedua bola matanya. Ia pun sedikit menoleh untuk menghindari tatapan ayah. Ada sedikit senyum yang tersungging tatkala melihat istrinya kembali bertingkah seperti pengantin baru.
Tak mau belama-lama, ia pun meraih dagu istrinya dan dikecup-nya bibir tipis milik istri-nya.
"Bu, dengarkan aku, mungkin selama ini kita belum memberikan contoh yang terbaik untuk putri kita, sebaiknya kita memang harus memberi waktu padanya agar ia benar-benar bisa melupakan Fajar."
"Tapi Pak, memang begitu namanya jatuh cinta."
"Siapa yang jatuh cinta?" Tanya ayah penasaran.
"Putri kita sedang kasmaran Pak! Bapak jangan pura-pura tidak tahu."
"Ya kalau memang begitu, sudah menjadi hukum alam Bu."
"Bagaimanapun kita berusaha ataupun ingatlah tentang satu hal ketetapan dari Allah. Apa yang sudah menjadi milik kita atau digariskan menjadi milik kita, mau bagaimana pun caranya pasti akan tetap menjadi milik kita."
"Sedangkan apa yang bukan hak kita, mau bagaimanapun kita berusaha ataupun mengikatnya, pasti kita tidak akan pernah memilikinya."
Ibu pun tediam sembari mencoba menerima penuturan suaminya. Ia tau keinginannya kali ini terlalu egois. Tetapi hati ibu mana yang tidak sakit ketika melihat putrinya belum bisa bangun seperti biasanya.
.
.
Kini ayah dan Cahaya sudah sampai di sebuah kebun bunga yang sangat indah dan luas. Memang kedua orangtua Cahaya sangat menyukai keindahan, maka dari itu mereka sengaja menanam bibit-bibit bunga disana.
Ayah menoleh pada Cahaya, ia masih membiarkan putrinya kagum dan bahagia. Setidaknya dengan cara sangat sederhana ini ia bisa kembali ceria seperti dulu.
"Bagaimana kamu suka nak?"
Di depan matanya kini bermekaran bunga-bunga dengan berbagai jenis. Wangi bunga dalam sekejab saja, sudah menyeruak memenuhi seluruh indera penciuman mereka.
Mata indahnya tampak berkaca-kaca.
"Terimakasih ayah," ucapnya sambil berhambur memeluk ayah tercinta.
Di-elusnya rambut hitam panjang milik putrinya dengan perlahan. Curahan kasih sayang yang besar, jelas terlihat di kedua matanya kini.
"Sama-sama sayang."
Setelah puas memeluk ayahnya, Cahaya kembali melihat ke sekeliling. Lalu ia pun menunjuk pada salah satu bunga.
"Ayah coba tengok, itu bunganya bagus sekali dan besar, aku sangat menyukainya ayah."
"Iya, bagus sekali, sama seperti dirimu, akan lebih baik jika kau tersenyum dan kembali ceria seperti dulu," batin ayah.
"Ayah bolehkah aku bertanya padamu, akan sesuatu hal?"
"Boleh sayang, apa yang ingin kau katakan."
Lalu Cahaya mulai menanyakan tentang suatu hal pada ayahnya. Dengan rasa bahagia, kini ia mulai tegas pada dirinya sendiri. Kini ia pun sudah ikhlas membuang masa lalunya dan kini mulai bersiap untuk mencari cinta dari seseorang yang entah darimana asalnya. Mungkin saja suatu saat nanti Tuhan kembali mempertemukan dirinya dengan jodoh yang sebenarnya.
.
.
"Pagi dokter," sapa salah satu suster yang sudah berada di dalam ruangan dokter Richard."
"Pagi suster."
"Oh ya, bagaimana kondisi pasien di kamar VIP?" tanya dokter ketika melihat suster sudah selesai menaruh sebuah map di meja dokter.
Suster masih memikirkan siapa pasien yang dimaksud dokter. Lalu ia pun teringat akan satu nama pasien.
"Oh Tuan Zein?"
"Iya."
"Sekarang kondisinya sudah lebih baik daripada kemarin."
Lalu suster mulai menceritakan kondisi Zein padanya. Dokter Rhicard mulai mendengarkan cerita suster dengan seksama.
Sampai ahirnya kini ia bisa menyimpukan bahwa tindakan medis yang akan dilakukannya beberapa hari ini, bisa membantunya sebentar sembari menunggu ingatannya kembali.
Setelah suster itu pergi, ia mulai meneruskan semua kegiatannya pagi itu. Meneliti beberapa berkas riwayat kesehatan pasien yang menjadi tanggungjawabnya. Tak lupa ia tetap mengunjungi sahabatnya itu, Zein.
Dengan langkah lebarnya dan hanya dengan beberapa menit ia sudah sampai di depan ruangan tempat Zein di rawat, langkahnya kini sudah mulai terhenti ketika ia sampai di depan pintu. Tetapi ia belum langsung masuk ke dalam.
Entah kenapa ia masih memperhatikan pergerakan Zein di dalam sana melalui sebuah kaca yang terpasang di salah satu sudut pintu. Lalu beberapa saat kemudian, barulah ia masuk.
.
.
...Bersambung...
.
.
Assalamualaikum, maaf kalau up nya hanya sebentar🙏 semoga suka.