
Setelah selesai mengelilingi Candi Prambanan, mereka pun beristirahat sejenak, sebelum pada ahirnya nanti mereka kembali ke kota Yogyakarta untuk membeli oleh-oleh.
Karena memang jadwal study tour kali ini hanya memfokuskan pada beberapa tempat saja. Tetapi lebih banyak ke sejarahnya.
Setelah mereka selesai beristirahat, rombongan kembali menuju Malioboro dan Pasar Beringharjo. Selain dikenalkan pada mall, mereka juga dikenalkan dengan yang namanya pasar tradisional. Setidaknya anggapan mereka tentang pasar akan berubah.
Karena tidak semua pasar tradisional itu kumuh, buktinya ada juga pasar tradisional yang rapih dan tidak kumuh.
Setelah dua hari kemudian, ahirnya rombongan Zi sudah kembali ke ibu kota. Semua siswa sudah tidak sabar untuk menceritakan pengalaman liburan mereka pada kedua orangtuanya.
Banyak sekali hal yang ingin mereka bagi dan berikan untuk keluarga mereka di rumah. Banyak oleh-oleh dan buah tangan untuk keluarga mereka juga.
Kali ini Zi membelikan beberapa kaos couple satu keluarga juga beberapa aksesoris wanita untuk Mommy-nya. Tak lupa ia membeli daster dan tas untuk Mbok Ijah. Untuk dirinya sendiri ia membeli hiasan untuk meja belajarnya.
Zi juga sudah mengemas video liburannya dengan sangat apik. Semua barang sudah dibawa oleh para pengawalnya. Jadi tidak akan ada hal yang ketinggalan sedikitpun.
Dalam perjalanan pulang ini, sebenarnya Sharen ingin sekali duduk bersama Zi, tetapi peraturan sekolah membatasi gerak-geriknya. Siswa perempuan duduk dengan perempuan. Siswa laki-laki duduk dengan laki-laki.
Dan bus yang digunakan juga dipisah. Para pengawal yang dikirim oleh pihak masing-masing siswa juga menggunakan mobil pribadi tidak menjadi satu dengan rombongan. Meski begitu para siswa tidak boleh ikut dengan mobil pribadi mereka. Para siswa harus menjadi satu dengan siswa lainnya.
Hal itu dimaksudkan agar para siswa bisa menyatu dengan masyarakat umum pada akhirnya. Mereka diajari untuk lebih bisa menghormati setiap orang, bukan melihat dari kedudukan dan harta saja melainkan dari rasa kemanusiaan yangs sejatinya ada di hati nurani kita.
Meskipun mereka berasal dari keluarga kalangan atas, mereka juga dididik dengan pribadi yang merakyat. Tidak ada orang kaya dan miskin yang membedakan hanya keberuntungan dan kerja keras yang dilakukan mereka saja. Maka dari itu para siswa juga diajari untuk selalu berbagi jika mereka mendapat rezeki lebih.
Tetapi kebiasaan dan dukungan dari keluarga para siswa-lah yang lebih berpengaruh pada pembentukan karakter mereka. Bagaimana pun para tenaga pendidik memberikan arahan kalau tidak didukung oleh pihak keluarga maka sama saja akan berahir sia-sia.
...***...
Perjalanan panjang para siswa ahirnya berahir di sekolah. Para orangtua dan wali murid sudah menunggu kedatangan putra-putri mereka.
Begitu pula dengan Zi, Fadhil dan Nisa sudah hadir di sekolah sore itu. Demi menjemput anaknya Fadhil sampai mempercepat jam kerja di kantornya. Ia merelakan jam makan siangnya dengan terus bekerja agar ia bisa pulang cepat.
Meskipun ia adalah CEO perusahaannya sendiri, tetapi ia juga sangat disiplin waktu. Waktu yang terbuang harus terganti dengan waktu yang lain jika ia menginginkan kondisi perusahaanya tetap stabil.
Yo juga mengerti hal itu dan sangat mengagumi sikap profesional Fadhil sebagai CEO. Meskipun ia pimpinan tertinggi, tetapi ia tidak pernah lalai dalam kewajibannya itu. Apalagi saat ini dua perusahaan besar di bawah kepemimpinannya.
Meskipun begitu ada saja hal yang siap menghadang jalan kesuksesannya. Masih ada beberapa orang yang iri dengan kesuksesan Fadhil. Apalagi kini ia memiliki istri yang juga punya peranan penting di sebuah perusahaan.
Tentunya bahaya kapan saja siap mengintai. Tak sedikit pula orang yang ingin mencelakai Fadhil dan keluarganya. Maka dari itu banyak pengawal yang biasa menjaga keselamatan mereka dari kejauhan.
"Mommy ... Daddy ... " teriak Zi saat turun dari bus.
"Hai Boy, apakabar ? suka dengan liburannya kali ini?"
"Alhamdulillah suka banget, terimakasih Daddy."
"Sudah-sudah, ayo kita pulang dulu."
Fadhil pun segera mengajak mereka masuk mobil dan mobil segera dikemudikan menuju rumah mereka.
Dengan begitu pemahaman Zi tentang hidup bermasyarakat akan sedikit lebih berubah. Karena sejak awal ia sudah terbiasa hidup mewah, ia tidak ingin melihat putranya menjadi pribadi yang sombong dan tidak mau bergaul dengan orang-orang sekelilingnya.
Apalagi sekarang mereka tinggal dikawasan elit, sehingga mereka jarang berinteraksi dengan tetangga mereka di komplek. Padahal kehidupan masa kecil Nisa dan Fadhil sangat akrab dengan lingkungan tempat tinggal mereka.
Sehingga meskipun saat ini mereka menjadi orang sukses setidaknya mereka tidak menjadi sombong dan gila harta. Mereka tetap saja menghormati orang sekitar dan masih rutin melakukan kegiatan amal.
Meskipun mereka kaya, mereka tau ada bagian orang lain dalam harta mereka. Oleh karena itu, bersedekah menjadi kebiasan yang rutin dilakukan setiap minggu. Selagi kita bisa berbuat kebaikan, Nisa dan Fadhil tidak ingin menundanya.
Begitulah pemikiran mereka berdua saat ini. Buktinya Zi juga membelikan oleh-oleh untuk anggota keluarga mereka di rumah. Bukan hanya untuk ayah dan ibunya saja, tetapi para pekerja di rumahnya juga mendapatkan oleh-oleh dari Zi.
Karena kandungan Nisa sudah cukup stabil, maka Fadhil pun memperbolehkan Nisa untuk bekerja. Setidaknya ia tidak akan jenuh berada di rumah seharian. Selain ibu hamil masih sering terjadi perubahan mood yang lumayan. Fadhil juga tidak ingin melihat istrinya stress di rumah saja.
Meskipun begitu, setiap makan siang, Fadhil selaly menyempatkan untuk bisa makan siang bersama Nisa. Sedangkan Zi sudah tidak lagi cemburu dengan calon adiknya. Asalkan ia bisa melihat ibu dan ayahnya bahagia, Zi juga turut bahagia.
Semakin lama Zi semakin terlihat menjadi anak yang baik. Hanya sikap dingin terhadap perempuan itulah yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan Nisa. Memang sikapnya itu mewarisi sikap ayahnya, Zein.
Semasa hidupnya Zein memang selalu bersikap dingin pada perempuan. Hanya kepada Nisa-lah ia bisa bersikap hangat. Entahlah itu bisa dikatakan sebuah keberuntungan ataupun tidak. Tetapi yang pasti sikap itu menurun pada putra semata wayang mereka.
Terkadang sikap-sikap kecil dari Zi mengingatkan Nisa pada mendiang suaminya itu. Kepergian yang mendadak dan tiba-tiba itu tetap saja menjadi misteri untuknya. Seolah ingatan tentang suaminya itu tidak akan bisa terhapus oleh waktu begitu saja.
Bahkan terkadang Nisa masih beranggapan kalau suaminya masih hidup tetapi ia tidak tau dimana Zein berada. Meskipun begitu ia sadar saat ini ia sudah memiliki suami yang sangat mencintainya. Ia sanggup bertahan dan berjuang selama beberapa tahun sampai ahirnya mereka bisa menikah. Dialah Fadhil sosok suami sempurna bagi Nisa.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...