
Setelah beberapa saat, akhirnya Nisa telah sampai di rumah. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan sendu. Kebetulan saat Nisa datang, pengasuh Aaron baru saja keluar dari kamar tidur Aaron. Melihat Nisa datang ia pun memberi salam.
"Selamat datang Nyonya," ucapnya ramah.
"Hm."
"Nyonya? Maaf tadi Den Aaron menangis terus ketika Nona tidak segera pulang, tetapi alhamdulillah baru saja ia anteng dan sudah berhasil saya tidurkan."
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama Nyonya, saya permisi."
Setelah pengasuh Aaron pergi, Nisa tidak ke kamar Aaron melainkan ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ia menemui anaknya. Tapi yang pasti kini pikirannya terbelah.
Ia teringat perkataan ibunya. "Kalau punya masalah jangan di pendam sendiri melainkan cobalah berbagi dengan orang lain atau perbanyaklah beribadah. Kamu tak sendiri melainkan ada Tuhan yang selalu bersama kita."
Selesai mandi, Nisa mengambil air wudhu, lalu ia mengambil mukena miliknya dan bergegas untuk menunaikan ibadah sholat. Hanya dengan cara itu, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan.
...๐๐๐...
...Rumah Sakit...
"Pasien hanya kelelahan, sepertinya ia kurang istirahat, sehingga tekanan darahnya menurun drastis. Tuan nggak usah khawatir berlebihan, mungkin tiga jam lagi, minimal pasien sudah siuman."
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya permisi, Dokter."
Mendapat penjelasan dari dokter, setidaknya memberikan ketenangan pada Leo. Beberapa saat tadi ia memang membawa Sheril ke Rumah Sakit karena demamnya tak kunjung menurun dan belum siuman.
Leo menutup pelan pintu kamar ruang rawat Sheril. Kedua matanya tertuju pada seorang gadis yang terbaring lemah di atas brankar. Dengan perlahan ia mendekati brankar itu. Ia duduk disampingnya dengan kedua tangan yang memegang erat salah satu tangan Sheril.
"Satu hal yang perlu kamu ketahui adalah sampai kapanpun aku akan tetap menjadi milikmu dan hanya dirimu yang akan menjadi pemilik hatiku untuk selamanya."
Karena hari semakin larut, tak terasa Leo ikut tertidur di samping brankar Sheril. Bahkan di saat ia mulai mendapati kesadarannya, Leo masih belum bangun.
Ingin hati membuat dirinya terjaga, tetapi ternyata ia tetap saja tertidur. Mendapati salah satu tangannya kebas, Sheril membuka mata.
"Dasar lelaki brengs*k, ngapain juga kamu di sini?" batin Sheril.
Ternyata sedikit pergerakan dari Sheril mampu membangunkan Leo.
"Baby, kamu sudah siuman?"
Tak mau menjawab lelaki di sampingnya itu, Sheril lebih memilih untuk membuang muka daripada disuruh untuk menjawab pertanyaan darinya. Leo menyadari kesalahannya.
"Sorry, aku minta maaf untuk semua kebohongan yang aku lakukan selama ini, tapi sebelum kau membenciku, dengarkanlah perkataan dariku dan semoga kamu mengerti."
Di saat Sheril masih membuang muka, Leo mengatakan segalanya, ia tidak mau lagi ada kesalahpahaman diantara mereka. Daripada ia kehilangan Sheril lebih baik ia mengatakan semuanya saat ini.
"What? jadi selama ini kamu sering berhubungan badan dengannya?"
Leo mengangguk.
"Bod*h! Kalau dia dokter atau psikolog pasti dia akan memikirkan sebuah cara untuk menyembuhkanmu bukan membuatmu semakin gila se* , di mana otak cerdas kamu? apakah sudah hilang karena otak kamu juga sudah dicuci
oleh wanita itu?"
Leo menunduk, menikmati semua cacian dari Sheril untuknya. Lebih baik ia dibenci saat ini ketimbang ia harus menyakitinya lebih dari ini.
...๐นBersambung๐น...