After Married

After Married
BAB 209. KEJUTAN



Hal yang menjadi ketakutan terbesar Zein adalah kehilangan Nisa. Tak pernah terbayangkan jika kita harus berpisah dengan cinta sejati kita. Hal paling menyakitkan adalah perpisahan.


"Zein, hei ...." sapa dr. Fariz.


"Hei, kau masih tampan, kenapa tak mencoba mencari wanita yang lain."


"Nggak semudah itu, Ferguso!"


"Wkwkwkwk ... ya sudah, mau sampai berapa lama lagi kamu di sini, 'kan sudah aku bilang untuk segera pulang."


Zein menoleh, "Jadi kamu mengusirku?"


"Bu-bukan begitu, cuma aku masih belum ada bayangan."


"Ya sudah, kalau begitu cepatlah pulang oke."


"Iya, aku pulang, biaya kamarnya utang dulu ya, gue nggak sempat bawa uang sama ponsel."


"Dih, ganteng kok ngutang, wkwkwk .... " kelakar dr. Fariz.


Setelah mengantar sahabatnya pulang, ia pun segera kembali ke ruangannya untuk kembali bekerja.


🍃Sementara itu di Kediaman Zein.


"Kenapa Tuan belum pulang," ucap Mang Dede bolak-balik di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian datanglah beberapa urusannya untuk mencari keberadaan Zein.


"Ma-af, Tuan. Saya belum menemukan Tuan Zein." ucap salah seorang dari utusannya tadi.


"Kalian tidak usah takut, beristirahatlah kawan. Biar aku sendiri yang akan mencari Tuan."


Belum sempat Mang Dede pergi, ia dikejutkan dengan kehadiran Zein.


"Tuan .... " ucap Mang Dede terkejut.


Ia pun berlari untuk menyambut kedatangan Tuan Muda.


"Alhamdulillah, Tuan. Anda membuat saya takut."


"Hehehe, maaf, Mang, kemarin aku menginap di Rumah Sakit," ucap Zein menjelaskan.


"Innalillahi, maaf saya nggak tau, Tuan."


"Nggak apa-apa, sebaiknya Mang siapkan makanan untuk saya saja ya."


"Iya, iya, Tuan, akan saya persiapkan."


Karena lelah Zein segera menuju ke kamarnya, ia terlalu capek dengan keadaan yang seperti ini. Setelah sampai di kamarnya ia pun segera membersihkan diri di kamar mandi.


Tak lama kemudian, ia telah menyelesaikan ritual mandinya lalu berganti pakaian. Setelahnya ia bercermin untuk melihat apakah yang dikatakan oleh dr. Fariz tentang kesehatan dirinya sudah benar atau belum ya? Saat ini banyak sekali hal-hal yang tak pernah terbayangkan tiba-tiba terjadi begitu saja di depan matanya.


Tak mau bermonolog lebih lama, Zein segera turun ke lantai satu untuk menyantap makanan sehat untuk dirinya. Sayangnya, demi apapun, kali ini Zein sangat bingung.


"Nisa, apakah harapan jika aku memintamu kembali tidak akan pernah terjadi?"


"Aarggggghhh ..."


"Untungnya aku masih memiki Zi yang akan masuk dan tinggal bersama kita lagi."


"Alhamdulillah."


BELUM REVISI


Hal yang menjadi ketakutan terbesar Zein adalah kehilangan Nisa. Tak pernah terbayangkan jika kita harus berpisah dengan cinta sejati kita. Hal paling menyakitkan adalah perpisahan.


"Zein, hei ...." sapa dr. Fariz.


"Hei, kau masih tampan, kenapa tak mencoba mencari wanita yang lain."


"Nggak semudah itu, Ferguso!"


"Wkwkwkwk ... ya sudah, mau sampai berapa lama lagi kamu di sini, 'kan sudah aku bilang untuk segera pulang."


Zein menoleh, "Jadi kamu mengusirku?"


"Bu-bukan begitu, cuma aku masih belum ada bayangan."


"Ya sudah, kalau begitu cepatlah pulang oke."


"Iya, aku pulang, biaya kamarnya utang dulu ya, gue nggak sempat bawa uang sama ponsel."


"Dih, ganteng kok ngutang, wkwkwk .... " kelakar dr. Fariz.


Setelah mengantar sahabatnya pulang, ia pun segera kembali ke ruangannya untuk kembali bekerja.


🍃Sementara itu di Kediaman Zein.


"Kenapa Tuan belum pulang," ucap Mang Dede bolak-balik di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian datanglah beberapa urusannya untuk mencari keberadaan Zein.


"Ma-af, Tuan. Saya belum menemukan Tuan Zein." ucap salah seorang dari utusannya tadi.


"Kalian tidak usah takut, beristirahatlah kawan. Biar aku sendiri yang akan mencari Tuan."


Belum sempat Mang Dede pergi, ia dikejutkan dengan kehadiran Zein.


"Tuan .... " ucap Mang Dede terkejut.


Ia pun berlari untuk menyambut kedatangan Tuan Muda.


"Alhamdulillah, Tuan. Anda membuat saya takut."


"Hehehe, maaf, Mang, kemarin aku menginap di Rumah Sakit," ucap Zein menjelaskan.


"Innalillahi, maaf saya nggak tau, Tuan."


"Nggak apa-apa, sebaiknya Mang siapkan makanan untuk saya saja ya."


"Iya, iya, Tuan, akan saya persiapkan."


Karena lelah Zein segera menuju ke kamarnya, ia terlalu capek dengan keadaan yang seperti ini. Setelah sampai di kamarnya ia pun segera membersihkan diri di kamar mandi.


Tak lama kemudian, ia telah menyelesaikan ritual mandinya lalu berganti pakaian. Setelahnya ia bercermin untuk melihat apakah yang dikatakan oleh dr. Fariz tentang kesehatan dirinya sudah benar atau belum ya? Saat ini banyak sekali hal-hal yang tak pernah terbayangkan tiba-tiba terjadi begitu saja di depan matanya.


Tak mau bermonolog lebih lama, Zein segera turun ke lantai satu untuk menyantap makanan sehat untuk dirinya. Sayangnya, demi apapun, kali ini Zein sangat bingung.


"Nisa, apakah harapan jika aku memintamu kembali tidak akan pernah terjadi?"


"Aarggggghhh ..."


"Untungnya aku masih memiki Zi yang akan masuk dan tinggal bersama kita lagi."


"Alhamdulillah."