
Beberapa bulan kemudian kehamilan Nisa semakin besar. Zi juga sudah bisa menerima kehadiran adiknya. Hanya satu keinginannya yaitu memiliki adik perempuan. Tetapi dari ciri-ciri yang ia alami Nisa sepertinya yakin kalau anak yang dikandungnya saat ini berjenis kelamin laki-laki.
Malam itu saat melihat suaminya tertidur, Nisa mengalami mulas, ia pun pergi ke kamar mandi. Kebetulan ia melewati ruang ganti. Hidung Nisa yang menjadi lebih peka saat hamil mencium aroma parfum yang berbeda dari jas suaminya.
Nisa pun membelokkan langkahnya menuju asal bau parfum yang diciumnya tadi. Sempat mencari beberapa padang jas yang menumpuk pada pakaian kotor. Nisa mengambil jas itu lalu menciumnya.
Ya, tidak salah lagi ini bau parfum cewek, dan Nisa tidak punya koleksi parfum seperti itu. Lalu, milik siapa? Kenapa baunya sampai menempel pada jas suaminya?
Begitu banyak pemikiran jelek yang berputar-putar pada kepala Nisa. Ingin rasanya ia marah, tetapi ia harus pandai dalam hal menyelidiki masalah ini.
Ia tau suaminya orang baik, tetapi belum tentu orang lain tidak mau memilikinya. Pasti ada banyak wanita yang mau menjadi miliknya. Entah itu yang kedua ketiga yang pasti ia ingin berada disisi Fadhil. Jadi mulai sekarang Nisa harus lebih hati-hati lagi.
Karena ia tidak bisa menahan rasa buang air kecil, Nisa pun segera masuk ke kamar mandi. Sesudah itu ia pun kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.
Keesokan harinya.
"Selamat pagi sayang," sapanya pada istri kesayangannya.
"Pagi juga suamiku sayang."
Kebetulan Nisa baru saja menyisir rambutnya yang setengah basah didepan cermin. Fadhil yang selalu tergoda akan harum tubuh Nisa semakin mendekati istrinya.
Dikecupnya leher jenjang Nisa dari arah samping. Nisa pun terkejut akan perlakukan suaminya. Bukan hanya mencium leher, tetapi lama kelamaan ciuman itu berpindah ke telinga Nisa.
Geli bercampur aneh rasanya, tetapi Nisa menikmati perlakukan suaminya itu. Nisa menengok ke arah Fadhil, ia pun tersenyum manis kepadanya.
Bukannya menyudahi, Fadhil langsung ******* bibir merah muda milik Nisa. Jangan ditanya lagi tangan Fadhil sudah mengeksplore tubuh Nisa.
Bukannya marah, Nisa malah menginginkan hal yang lebih lagi dari suaminya. Entahlah hormon kehamilan membuatnya mudah bergairah. Berbeda dengan Nisa yang dulu, yang selalu menolak sentuhan Fadhil.
Tersentuh sedikit saja oleh suaminya ia langsung tergoda. Seperti pagi itu, bukannya segera menuju ruang makan, tetapi mereka malah olahraga lagi. Bagi Fadhil, sejak Nisa hamil sensasi bercinta dengan istrinya jauh lebih berbeda dan mengasyikan.
Ada sesuatu yang membuat Nisa bisa bermain lepas dan sering meminta nambah dan nambah. Tentu saja Fadhil mengabulkan keinginan istrinya. Karena memang baginya Nisa adalah hal yang pertama buat Fadhil, pengalaman bercinta dengannya pun adalah salah satu hobby baru untuk Fadhil saat ini.
Meluluhkan hati Nisa bagaikan menggerus bongkahan gunung es di antartika. Yang sangat sulit untuk direngkuh, tetapi saat ia berhasil rasanya melebihi kebahagiaan ketika ia berhasil mencapai di tangga tertinggi kesuksesannya.
Untuk hobby barunya, mereka juga sudah berkonsultasi dengan dokter kandungannya tentang hubungan se* yang aman saat hamil. Jadi ia pun menyukai jika Nisa tak menolak sentuhannya.
Mau melakukan berapa kalipun, Nisa juga tak menolak apalagi dirinya mau diajak berapa ronde pun ia sanggup. Beruntungnya mereka paham kondisi Nisa yang sedang hamil.
Moodnya pun sering berubah-ubah. Jadi jika calon anaknya minta dijenguk, ia pun dengan senang hati mengunjunginya. Begitulah rasanya jika sudah menikah.
Ada hal-hal yang tidak pernah terpikirkan dan akan kejutan dalam setiap harinya. Bagi Fadhil kehidupan yang ia jalani saat ini sudah sangat sempurna. Kini ia harus menjaga semuanya agar bisa seimbang antara karir dan kehidupan keluarganya.
Ia juga tetap waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan kecil yang selalu siap menghadangnya. Beruntungnya ia memiliki Yo, meskipun dia bukan adik kandung tetapi kesetiaan dan sikapnya sangat membantu Fadhil beberapa tahun terahir ini.
Selain berdedikasi tinggi terhadap perusahaan, Yo juga tidak dibatasi kehidupan pribadinya. Fadhil sadar saat ini Yo juga berhak memiliki pendamping hidup. Meskipun berbeda warga kenegaraan, Nisa dan Fadhil tetap mendukung Yo dengan Alexa.
Pernah suatu kali mereka bertemu dan dikenalkan Yo pada Alexa. Meskipun pertemuan mereka hanya sebatas online tetapi setidaknya Fadhil dan Nisa tau siapa calon pendamping Yo pada ahirya.
Sudah tentu Yo akan memegang perusahaan Ayah Alexa pada ahirnya. Oleh karena itu Fadhil pun mempersiapkan beberapa kebijakan di perusahaannya jika suatu saat nanti Yo benar-benar meninggalkannya.
Yo juga paham, bahwa konsekuensi mencintai Alexa akan membuat ia hengkang dari perusahaan Fadhil. Meskipun begitu ia juga tidak akan tinggal diam. Ia juga mempersiapkan orang-orang terbaik dalam bidangnya dan tak akan pernah menghianati Fadhil dan dirinya.
Ia juga paham, semakin lama perusahaan Fadhil semakin berkembang pesat, itu artinya musuh pun setiap saat bisa saja menjegal jalan mereka. Ia pun memili beberapa barisan bodyguard yang selalu mendampingi Fadhil dan keluarganya dimanapun mereka berada.
Sistem keamanan mereka juga sudah ditingkatkan. Meskipun ia tidak tau, Fadhil sebenarnya juga mengutus beberapa bodyguard untuk menjaga Yo dan anggota keluarganya di desa.
Meskipun jauh, tetapi keamanan mereka juga penting. Apalagi anak mereka kini menjadi orang suskes dan terpenting saat ini. Maka keselamatan mereka juga bisa saja terancam tanpa sepengetahuan Fadhil dan Nisa.
Zi calon pewaris utama juga sangat dijaga keamanannya. Karena mereka paham betul bahaya kapan saja bisa mengintai. Andai mereka orang biasa mungkin tidak perlu seperti itu penjagaannya. Tetapi kehidupan mereka mengatakan hal lain.
...***...
Di sebuah pulau terpencil dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Tinggallah sebuah keluarga sederhana di pulau itu.
Cahaya dan keluarganya sudah hidup cukup lama di pulau itu. Kemiskinan yang melanda ayah dan ibunya membuat mereka dikucilkan di masyarakat. Sampai ahirnya mereka memilih pergi menjauh dan sampai saat ini mereka hidup di pulau terpencil itu.
Rumah mereka kecil karena dibuat seadanya dengan kayu dan ranting yang berada disana. Mereka juga membuka lahan pertanian sendiri untuk menunjang kehidupan mereka. Hanya saja di rumah mereka tidak ada listrik dan barang-barang elektronik.
Bekal yang ia bawa beberapa tahun lalu, nyatanya cukup untuk kehidupan mereka sampai saat ini. Mereka juga mempunyai perahu untuk berlayar jika mereka ingin menangkap ikan untuk lauk pauk.
Beberapa tahun yang lalu, di pinggiran pantai tergeletak seorang lelaki tampan dengan badan yang penuh luka dan pakaian yang sobek disana sini. Tetapi beruntungnya detak jantungnya masih ada. Sehingga ayah dan ibu Cahaya membawanya pulang ke rumah untuk diobati.
...Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...