
Jalan tak selalu lurus, kadang berliku, bahkan berlubang. Jadi kita harus selalu waspada dan siap dalam menjalani setiap jalan takdir kita.
π~π~π~π~π
"Mama ... om ... Zi ***** nenang doleh?"
Fadhil menoleh pada Nisa, karena ia tak paham yang dibicarakan oleh Zi kecil. Nisa tersenyum padanya.
"Zi pengan renang? tapi mama dan om ga bawa baju renang? bagaimana nanti! masa pulangnya basah?" tanya Nisa sembari mendekati putranya.
Seketika Fadhil baru paham apa yang diinginkan Zi. Raut wajah gembira Zi seketika berubah menjadi masam.
"Sayang, kamu kan bisa naik wahana permainan lainnya." Ucap Nisa mencoba membujuk putranya.
Bukannya menurut, Zi kecil malah semakin merajuk. Nisa kewalahan akan tingkah putranya tersebut. Fadhil pun mencoba mengambil hati putra Nisa.
"Sayang bagaimana kalau ikut om naik itu," sembari ia menunjukan komedi putar pada Zi.
"Mau om, hoyee ..." ucapnya gembira.
Raut wajah yang tadi muram seketika cerah ceria.
Zi kecil pun langsung digendong Fadhil menuju komedi putar meninggalkan Nisa. Sebelum meninggalkan Nisa, Fadhil sempat mengedipkan salah satu matanya pada Nisa.
Nisa pun dibuat salah tingkah dengan yang dilakukan Fadhil barusan. Ia pun segera menyusuk Zi dan Fadhil menuju wahana bermain komedi putar.
"Kamu tak mau mencobanya Nis?"
"Enggak, aku liatin kalian disini saja."
"Okelah kalau begitu, kita naik ya sayang."
"Ayo om, mama ndak ucah diajak."
Zi pun semakin mengeratkan pelukannya pada Fadhil yang masih menggendong Zi.
"Oke aku kesana dulu ya," pamit Fadhil.
"Hati-hati."
Lalu Zi dan Fadhil pun mulai menaiki komedi putar. Zi sangat bahagia bermain bersama Fadhil hari ini, begitu pula sebaliknya. Mereka bertiga juga sempat mengabadikan foto bertiga untuk kenang-kenangan.
Sore pun tiba. Mereka pun segera kembali ke rumah. Bagaimanapun mereka sudah lama keluar rumah dan sudah cukup bersenang-senang hari ini.
Di dalam perjalanan pulang.
"Bagaimana hari ini?" tanya Fadhil pada Nisa dan Zi.
"Cenang cekali om, matatih ya." Kali ini Zi yang menjawabnya.
"Sama-sama sayang," ucap Fadhil sembari mengacak-acak rambut Zi.
"Om, dangan diatak-atak dong, nanti ndak ganten lagi." Ucapnya Zi kecil yang mulai sewot.
"Ha ha ha ... siapa yang mengajari kamu begitu sayang?"
"Mbok."
"Ok, om ga akan mengacak-acak rambut kamu lagi oke."
"Ote." Zi pun menaitkan jari kelingkingnya dan jari kelingking Fadhil.
Nisa hanya geleng-geleng melihat keakraban Zi dan Fadhil. Ia tak menyangka sifat narsis almarhum suaminya sudah diwarisi oleh putranya.
"Kamu kenapa Nisa? lapar ya?" canda Fadhil pada Nisa.
"Eh, engga?"
"Zi mau makan bareng om ga?"
"Mau om, hayo."
"Kalau begitu Zi mau maem apa?"
"Em, ice cream."
"Zi, kamu ingat pesan mama, jangan banyak makan ice cream, nanti giginya sakit." Ucap Nisa menasehati.
"Nda mau, atu mau maem ice cream."
"Oke kalau begitu kita ke kedai ice cream sama cake ya."
"Mas ..." ucap Nisa tertahan.
Fadhil kaget dengan panggilan Nisa barusan. Biasanya dia memanggilnya dengan sebutan "kak" kenapa jadi "mas?" Tapi apapun panggilannya ia amat senang.
"Eh maaf kak, tolong jangan turuti setiap kemauan Zi, dia masih kecil 'ga boleh makan banyak makanan manis, itu tidak baik untuk kesehatan giginya.
"Tenanglah Nisa, itu tidak akan terjadi, lagian Zi anak yang penurut hari ini, ia juga tidak rewel, jadi tidak salah kan menuruti kemauannya."
"Terserah kakak, tapi cukup sekali, jangan memanjakannya lagi dengan makanan manis."
"Iya, aku janji."
Dan ahirnya mereka bertiga pun mampir ke kedai ice dan cake. Zi amat senang dengan semua kegiatan hari ini, begitu pula dengan Fadhil. Nisa hanya memandangi putra dan sahabat suaminya tersebut sambil sesekali makan makanan yang ia pesan. Setelah semuanya selesai, mereka pun kembali pulang.
"Om, om nanti inep di lumah Zi kan?" tanya Zi sewaktu perjalanan pulang.
"Maaf sayang, besok pagi om ada perjalanan dinas keluar kota, jadi om 'ga bisa menginap di rumah Zi."
"Maaf ya sayang."
"Zi, om banyak urusan, nanti kalau om punya waktu luang, om pasti akan maen ke rumah Zi, ok."
"Ote moms."
Kemudian mereka pun sampai dirumah. Fadhil pun permisi untuk segera pulang.
"Aku permisi pulang ya ganteng."
"Ati-ati om cayan."
"Iya, assalamu'alaikum."
Fadhil pun beralih pada Nisa.
"Aku pamit Nisa, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, terimakasih mas."
"Sama-sama."
Dan Fadhil segera melajukan mobilnya ke arah rumahnya.
πRumah Nisa
"Zi, mau makan malam atau langsung ganti baju."
"Atu mau danti baju aja moms, balu setelah itu mau makan lagi."
"Ok, ayuk kita ke kamar."
Dan Nisa pun menemani putranya untuk mengganti baju, sementara Mbok Iyem menyiapakan makan malam.
Ditengah kesibukan mengganti pakaian Zi. Nisa pun iseng bertanya.
"Zi, boleh mama tanya sesuatu pada Zi?"
"Apa itu moms?"
"Zi sayang ayah Zi ga? kangen ga?"
Zi seketika menoleh melihat foto ayah dan ibunta yang terpasang rapi di salah sudut kamarnya. Bjsa sengaja memasangnya disana, agar Zi tau siapa ayahnya dan tidak melupakan ayahnya, meskipun hanya sedikit waktu yang pernah mereka lakukan bersama.
"Zi cayang daddy moms ..." ucapnya tertunduk.
"Mama juga sayang daddy, besok kita mengunjungi ayah ya."
Zi pun mengangguk sembari mendekap tubuh mamanya. Lalu setelah itu mereka pun menuju ruang makan untuk makan malam.
"Malam aden kecil mbok." Sapa Mbok Iyem ketika Zi dan Nisa sampai di ruang makan.
"Malam mbok cayang, Zi kangen ama mbok."
"Iya mbok juga den, bagaimana tadi acaranya? seneng ga?"
"Cenen banget mbok ..." dan Zi kecil pun mulai menceritakan semua yang dilaluinya hari ini dengan sangat antusias.
Dari cara berceritanya, Zi sangat menyukai agenda hari ini. Nisa pun berinisiatif untuk memberikan hadiah pada Fadhil karena ia telah bersusah payah membuat acara yang begitu menyenangkan hari ini. Bahkan dalam pemikiran Nisa, tak sampai berfikir untuk mengajak Zi jalan-jalan. Untung saja ia memiliki sahabat seperti Fadhil, yang bahkan setiap saat selalu ada disaat Nisa membutuhkan pertolongan.
Untungnya Fadhil masih single, jadi ia bebas mengajak bermain Zi, tapi entahlah saat nanti ia sudah menemukan jodohnya, apakah hal seperti ini bisa mereka lakukan bersama lagi atau tidak.
"Semoga kamu segera bertemu jodohmu mas, semoga, aku tidak ingin terlalu lama merepotkanmu." Ucap Nisa dalam hati kecilnya.
Bagaimana pun status jandanya membuatnya risih, apalagi usianya masih muda. Tapi apa boleh buat, takdir membuatnya berada dalam posisi seperti ini.
~Bersambung~
OOTD FAHDIL HARI ITU
Zi kecil
OOTD NISA
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...