After Married

After Married
DILEMA CALON AYAH DAN IBU



Beberapa jam kemudian perut Nisa sudah agak terasa mulas. Sehabis maghrib sepertinya kontraksi yang dirasakan Nisa mulai terasa lebih intens. Ia mulai kesusahan dalam bergerak, sepertinya obat yang diberikan dokter benar-benar bereaksi.


 


Sesaat kemudian seorang suster datang dan membawakan makanan ke ruangan Nisa.


 


“Silahkan dinikmati Bu,” sapanya ramah.


 


“Terimakasih suster, bolehkah saya minta tolong sebentar,” ucapnya ragu-ragu.


 


“Iya, ada yang bisa saya bantu.”


 


“Tolong panggilkan dokter, perasaan kontraksi yang saya rasakan semakin bertambah.”


 


“Baik Bu, sebentar.”


 


Setelah meletakkan makanan di atas meja, lalu suster itu permisi dan segera memanggil salah seorang bidan yang sedang bertugas jaga. Beberapa saat kemudian muncullah seorang bidan lalu mulai memeriksa kondisi Nisa.


 


“Malam Ibu Nisa,” sapanya.


 


“Malam Bu,” ucap Nisa sambil menahan mulas-mulasnya.


 


“Permisi Bu, maaf saya periksa sebentar ya. Tolong kakinya diangkat lalu agak tekuk sedikit dan dibuka sedikit ya.” Intruksi bidan itu.


 


Lalu ia pun mulai mengukur besarnya pembukaan yang sudah dialami Nisa.


 


“Baru pembukaan tiga Bu, untuk sampai pembukaan penuh sepertinya masih butuh beberapa jam lagi, mungkin sekitar delapan jam lagi.”


 


“Hah, delapan jam lagi, yang benar saja, lalu kenapa rasanya sudah seperti ini?” keluh Nisa sembari bergumam.


 


Setelah itu bidan merapikan alat kerjanya, lalu sedikit memberikan pesan pada Nisa.


 


“Ibu Nisa usahakan posisi berbaringnya miring saja ya Bu, biar mempercepat proses pembukaan yang ibu alami."


 


“Baik Bu, terimakasih.”


 


Lalu dokter itu permisi dari ruangan Nisa dan heninglah seketika ruangan Nisa. Nisa bermonolog dalam hatinya.


 


“Melahirkan dua kali sama saja, tidak ada yang menemani,” jeritnya dalam hati.


 


Entah kenapa mau melahirkan dimana saja, ia tetap tidak bisa bersama suaminya. Padahal disaat seperti ini ingin rasanya ia diperhatikan oleh suaminya. Punggungnya begitu nyeri dan terasa kaku. Ia merindukan kelembutan belaian tangan suaminya saat ini.


 


Biasanya di rumah jika ia sedang kelelahan seperti ini, ia bisa bermanja dengannya. Belaian tangan Fadhil serta semua perhatian yang ia berikan selama masa kehamilannya begitu ia rindukan, tetapi disaat terpenting ia malah sendirian.


 


Entah kenapa ia juga merindukan keceriaan dari putra semata wayangnya Zi. Wajahnya serta tingkah lucunya mampu mengurangi kecemasan yang ia alami. Karena selama kehamilan kedua ini memang Nisa sering mengalami stress dan lonjakan emosi yang lumayan.


 


Mungkin itu karena tekanan darah Nisa selalu tinggi selama masa kehamilan kemarin. Semoga saja benar, setelah bayinya lahir kondisinya kembali pulih seperti sedia kala.


 


 


“Huh, entahlah, tapi rasanya sakit sekali ya Allah,” keluh Nisa.


Peluh mulai mengucur di kening Nisa. Seringkali saat ia menahan rasa mulas yang tidak tertahankan itu dengan meremas ujung spreinya. Atau jika rasanya lebih sakit, ia memegang tiang penyangga infus dengan erat-erat. Setidaknya bisa mengekspresikan rasa sakitnya itu dan membuat lega.


 


Mungkin jika ada Fadhil di ruangan itu, bisa-bisa tangan Fadhil sudah diremas-remas tidak karuan oleh Nisa. Sayangnya hanya benda-benda mati yang menenaminya di ruangan itu. Padahal ruangan Nisa ber AC tetapi nyatanya tak memberikan kesejukan sedikitpun padanya.


 


Mulut Nisa tak henti-hentinya untuk komat-kamit membaca doa. Segala doa-doa ia ucapkan sembari memegang perutnya. Kalau tadi siang ia tidak merasakan apa-apa setelah diberi obat induksi. Nyatanya saat ini rasa mulas yang ia alami berkali-kali lipat.


"Ya Allah nak, jangan lama-lama didalam sini ya, mama udah ga kuat," rintihnya.


 


Sedangkan di luar ruangan Nisa, beberapa meter dari ruang bersalin ada Fadhil yang mondar-mandir disana. Ia bersama-sama beberapa calon ayah bersiap menunggu dipanggil masuk untuk menemani istri mereka yang mau melahirkan.


 


Peraturan disana melarang siapapun tidak boleh masuk ataupun hanya untuk menemani istri mereka yang mau melahirkan. Calon ayah diperbolehkan masuk ketika istri mereka benar-benar sudah mengalami pembukaan penuh dan bersiap untuk melahirkan.


 


Sebelumnya Fadhil sudah memberikan kabar pada seluruh keluarga besarnya termasuk orang-orang di rumah tentang kondisi Nisa. Zi juga sudah mendengar kabar itu langsung dari Nisa saat Nisa masih bisa memegang ponselnya beberpa saat tadi. Bahkan Nisa juga sempat mengirim pesan pada Fadhil untuk mengurangi rasa bosannya di dalam ruangan itu.


 


Sayang sekali hal ini di luar prediksi Nisa dan Fadhil. Sepertinya mereka salah mengambil rumah sakit untuk tempat bersalin. Di dalam bayangan mereka, di saat-saat seperti ini ia masih bisa bersama anggota keluarga seperti di tempat kebanyakan. Tetapi hal itu tidak berlaku di rumah sakit ini.


 


Dari luar ruangan Fadhil hanya bisa mendoakan agar semua proses yang dijalani istrinya bisa berjalan lancar. Ia sebenarnya juga sangat cemas, apalagi kini ia bersama calon ayah yang mengalami ketegangan yang sama dengannya.


 


“Ya Allah beginikah rasanya?” batin Fadhil.


 


Tiba-tiba dering ponselnya membuyarkan lamunan Fadhil. Ia pun segera merogoh saku celananya untuk mencari benda pipih itu.


"Assalamu'alaikum ..." ucap seseorang di sebelah sana.


"Wa'alaikumsalam," jawab Fadhil.


"Ibu dan ayah sedang dalam perjalanan ke kotamu nak, kamu yang sabar dan banyakin doa ya."


"Iya Bu."


"Lalu sekarang Nisa dimana?"


"Nisa ada di dalam kamar Bu, aku ga boleh masuk sebelum dokter memanggil."


"Ya sudah kalau begitu, semoga ibu dan ayah bisa datang tepat waktu."


"Aamiin."


Setelah beberapa saat kemudian, ada beberapa dokter dan bidan yang lalu lalang di depannya. Fadhil juga ikutan panik, karena ia kira Nisa-lah yang mau melahirkan.


Tetapi ternyata bukan, karena seorang calon ayah yang berada di sampingnya-lah yang dipanggil terlebih dahulu.


"Pak Fadhil maaf saya duluan ya," ucapnya.


"I-iya ..." ucapnya agak malu.


Betapa tidak malu, ia sepertinya salah mendengar saat ada panggilan nama tadi. Pikirannya tidak bisa berfikir jernih disaat-saat seperti ini.


Ia pun kembali mondar-mandir di depan pintu masuk.


"Andai bisa melihat wajahmu meski hanya untuk sesaat, pasti pikiranku bisa sedikit tenang," gumam Fadhil sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


.


.


.


Aduh.. kok perut othor jadi ikut-ikutan mules ya... maaf mau ke belakang dulu ya.. meskipun hanya nulis tapi beneran ikut mules nih othor..


.


.


.


Jangan lupa tekan tombol ❤ nya ya.. biar saat update tidak ketinggalan.. terimakasih banyak readers kesayangan 😍