After Married

After Married
BAB 200. TERPUKAU



Setelah beberapa saat ahirnya Sheril menemukan ruangan Yo. Diketuknya pintu itu secara perlahan.


Tok, Tok, Tok ...


"Selamat siang..."


Yo yang mendengar ruangannya di ketuk segera mempersilahkan masuk tamunya.


"Silahkan masuk!"


Ceklek ...


"Terimakasih Yo."


"Sama-sama."


Suara yang beberapa tahun lalu sempat muncul dan kemudian menghilang kini mulai terdengar lagi. Di tatapnya perempuan cantik di depannya kali ini.


Yo pun kaget karena penampilan dan sikap Sheril yang terlihat jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kini bagaikan melihat orang lain, Yo merasa bertemu orang asing.


"Selamat siang Tuan Yo," sapa Sheril ramah sembari tersenyum ke arahnya.


Yo sempat terpukau akan kehadiran Sheril. Tetapi ia pun menepis semua lamunan tentangnya hingga ia pun kembali sadar.


"Selamat siang, silahkan duduk."


"Terimakasih, oh ya, sebelumnya saya meminta maaf karena telah mengusik jam kerja Anda."


"Iya tidak mengapa, yang terpenting saat ini adalah kita sudah bertemu disini."


Sheril terkekeh kecil, tetapi ia sangat ingat pada kehebatan Yo dalam mengelola perusahaan selama beberapa tahun belakangan ini. Terbukti perusahaan milik Fadhil berkembag cukup pesat dan mampu bertahan dari tahun ke tahun.


"Benar, kau juga terlihat semakin tampan Yo."


"Terimakasih ulet bulu."


Sheril melotot tajam, ia tak menyangka kalau Yo masih mengingat sebutan "sakral" beberapa tahun yang lalu.


"Sama-sama bebek sawah."


Hingga ahirnya kedua musuh bebuyutan itu kini saling melempar tawa renyahnya. Mereka tak menyangka kalau dulunya mereka adalah sepasang musuh, tetapi kini mereka malah berteman.


"Apakabar?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Oh ya, ada angin apa yang membawamu kesini?"


"Hm, jadi begini Yo, sebenarnya aku penasaran dengan salah satu temanmu, yang bernama Leon."


"Leon?"


"Ya aku mengingatnya, memangnya kenapa?"


"Sungguh?" tanya Sheril memastikan tidak ada yang salah dengan pendengarannya.


"Iya, sungguh, memangnya apa yang ingin kamu ketahui saat ini?"


"Hm, itu ..."


Lalu secara detail Sheril mulai menceritakan segalanya tentang kecurigaan-nya pada Yo.


.


.


Sementara itu di rumah sakit.


Nyatanya menunggu itu memang sangat menyebalkan. Bahkan karena terlalu lama menunggu, Zein tertidur pulas di atas brankar rumah sakit.


Beberapa waktu lalu, sang Presdir memang sudah terlalu lama tidak chek up, hingga dengan terpaksa prosedur pengambilan sample darah pun harus dilakukan oleh dokter Fariz untuk memudahkan pengecekan dan mendeteksi bagaimana keadaan sesungguhnya tubuh pasien.


Dokter Fariz mulai memasuki kamar inap milik Zein. Ia melihat kalau Zein masih tertidur pulas. Oleh karenanya ia pun tidak mau mengusiknya. Hingga ia memilih pergi dan kembali ke ruangannya.


.


.


Di ruangan Fadhil.


Nisa sudah terlalu lama menunggu suaminya meeting, ia pun sudah cukup bosan berada di kantor itu. Untuk mengusir kebosanannya ia pun memandang ke arah luar kantor. Bahkan Aaron terlihat tenang di atas stroller.


Sehingga Nisa pun dibuat gemas oleh tingkah putra dan suaminya tersebut.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


KRING... KRING... KRING...


"Hallo ..."


"Moms, ini Zi, bukankah mom janji akan jemput sekolah siang ini, kenapa belum datang?"


"Astaga iya sayang, maafkan mama, sebentar lagi mama akan kesana bareng ayah, oke?"


"Oke ma, Zi tunggu kedatangannya. Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikum salam sayang."


.


...🌹Bersambung🌹...