After Married

After Married
BAB 210. KEPANIKAN



Mendengar Zein masuk Rumah Sakit membuat Nisa khawatir, ia pun berinisiatif untuk mengunjungi Zein. Sepulang menjemput Zi, Nisa menyuruh sopir untuk mengantarkannya pergi ke kediaman Zein.


"Pak, tolong antarkan kami ke Rumah Pak Zein, ya?"


"Oh, oke, Nyonya."


"Emang kita mau ke rumah, Papa Zein, ya, Ma?"


"Iya, kita akan ke rumah Papa Zein. Jadi kamu bersiap ya?"


"Siap, makasih, Mama."


Zi segera memeluk tubuh Nisa. Begitu pula Nisa yang reflek langsung memeluk tubuh putranya itu. Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah Zein. Kebetulan memang Zein ijin tidak masuk kerja karena masih ingin beristirahat.


Dari dalam kamarnya, Zein mendengar suara mobil yang berhenti di depan kamarnya. Karena penasaran ia pun membuka tirai jendela miliknya.


"Nisa?"


"Sebaiknya aku segera turun," ucap Zein senang.


Belum sempat ia turun, ternyata Mang Dede udah membuka pintu utama.


"Selamat datang, Nyonya Nisa."


"Terimakasih, Mang."


Belum sempat bertanya, Zi sudah memberi salam pada Mang Dede, dan bersalaman dengannya.


"Assalamu'alaikum, Mamang."


"Wa'alaikum salam, sayang."


Mang Dede melihat Zi, memang benar Zi sangatlah mirip dengan Zein. Darah Zi memang berbeda, ia perpaduan yang pas dari Nisa dan Zein saat itu.


Tetapi tidak dengan Zein yang sudah cukup matang saat itu. Bahkan ia sudah sampai di posisi seorang ayah siaga dan idaman. Sayangnya diantara hubungan Nisa dan Zein selalu ada cobaan yang menderanya.


Sedangkan saat itu Zein memang sudah sedikit lebih dewasa ketimbang Nisa. Sikap perfeksionis dan kedewasaannya sudah stabil. Jadi mungkin saat membuat adonan Zi, dua gen yang bercampur itu mempunyai porsi yang seimbang. Buktinya cetakannya benar-benar sempurna.


Jadilah Zi tumbuh menjadi anak yang manis, comel, tampan, ceria dan sudah mewarisi sikap mandiri sejak kecil. Nisa memang beruntung masih memiliki Zi, setidaknya rasa kangen pada mendiang suaminya sedikit terobati jika ia melihat kehadiran Zi disisinya.


Tetapi kini Nisa tidak terlalu bergantung dengan Zi ataupun Zein. Saat ini cinta dan kasih sayangnya juga terbagi pada Aaroon dan Fadhil. Nisa tumbuh menjadi sosok ibu dan istri yang sempurna.


Zein dan Fadhil tidak pernah salah dalam memilih. Tak ada hal yang melebihi cinta untuk Nisa. Jika diperbolehkan mungkin Zein ataupun Fadhil akan menjadi suami Nisa. Tetapi mereka tak mau harus merelakan Nisa untuk memilih yang terbaik untuk dirinya dan anak-anaknya.


Zein memandang bahagia kedatangan Nisa dari lantai atas. Zi yang melihat ayahnya segera berteriak, "Papa Zein."


Zi pun sudah berlari untuk naik ke lantai atas, tetapi baru beberapa langkah kakinya terpeleset hingga ia berguling ke bawah. Ketiga orang dewasa itu berteriak secara bersama-sama, "Ziii ...."


"Aargggghhhh, papa ..."


Sebelum jatuh pingsan nyatanya Zein sudah berhasil memeluknya. Sedangkan Nisa lebih histeris saat itu. Ia pun segera berlari menuju tempat Zi terjatuh.


"Mang, cepat panggil dokter!" seru Zein setengah berteriak.


"Ba-baik Tuan."


Mang Dede segera mengambil ponselnya lalu menelpon dr. Richard.


"Hallo ...."


"Sebentar lagi aku kesana," ucap dr. Richard.


Tak mau berasumsi lebih lama, dr. Richard meninggalkan pekerjaannya lalu menuju rumah Zein.