
"Iya sayang, ayuk kita sarapan dulu."
Dan mereka pun segera turun ke lantai satu untuk bergabung dengan Fadhil untuk sarapan pagi.
"Pagi Daddy ..." teriak Zi sesaat mereka sampai di ruang makan.
"Pagi sayang," Ucap Fadhil sembari mengelus puncak kepala Zi.
Lalu pandangan Fadhil pun beralih pada Nisa.
"Pagi Nisa."
"Pagi juga."
Lalu setelah semuanya duduk, mereka pun mulai sarapan pagi.
"Bagaimana tidurnya nyenyak?"
"Iya Daddy, nyenyak sekali. Ternyata menginap di hotel menyenangkan ya Dad?"
"Oh ya? kenapa bisa begitu?"
"Iya, di hotel Mommy ga pernah marah-marah atau teriak, dan pagi-pagi Mommy bisa menemani aku sarapan seperti ini."
"Memangnya setiap pagi Mommy tidak selalu menemani Zi sarapan?"
"Cuma kadang-kadang Dad, karena Mommy selalu sibuk dengan pekerjaannya."
"Hmm, jangan sedih sayang, sebentar lagi akan Daddy buat Mommy kamu seharian ngurusin kamu di rumah, bagaimana?"
Nisa menghentikan makanannya dan melototkan matanya ke arah Fadhil. Fadhil hanya membalasnya dengan kedipan mata genit ke arah Nisa.
"Setuju dong, makasih Daddy." Ucap Zi senang.
Nisa paham akan maksud Fadhil, tapi ia tak menyangka kalau Fadhil akan ngomong blak-blakan didepan Zi.
Lalu mereka pun melanjutkan sarapan pagi mereka dan segera menuju pantai untuk menikmati keindahan pantai pagi itu.
Sesaat sampai di bibir pantai, Zi sudah berlarian kesana-kemari untuk bermain pasir. Ia juga sesekali bermain air. Fadhil dan Nisa masih mengawasi Zi saat bermain.
Nisa yang fokus memandangi putranya bermain, tak sadar jika tangan Fadhil sudah merangkul pinggangnya. Saat sudah tersadar ada tangan yang melingkar dipinggangnya, Nisa melotot ke arah Fadhil.
"Mas, lepas ga?"
"Engga mau," Canda Fadhil.
"Lepas sekarang atau aku teriak."
"Engga mau weekkk ..." ucap Fadhil masih mengeratkan rangkulannya ke Nisa.
Nisa masih saja berontak dan berusaha melepas tangan Fadhil dari pinggangnya. Dan terjadilah adegan yang tak disengaja.
Karena Nisa yang terus berontak dan Fadhil malah mengerjainya dengan semakin mengeratkan pelukannya, Nisa pun sempat mau terjatuh, untung saja Fadhil cekatan dalam merengkuh tubuh Nisa.
Dan terjadilah aksi saling memandang satu sama lain. Kedua manik mata mereka bertemu satu sama lain dan saling mengunci.
"Ternyata semakin lama aku memandang Fadhil, ia sangat tampan." Batin Nisa.
"Andai kau tau seberapa dalam cintaku padamu, pasti semua ini tidak akan terjadi."
"Eh, maaf mas, aku 'ga sengaja."
"Eh iya, maaf aku tadi hanya ingin menolongmu agar tidak terjatuh saja."
Dan Fadhil pun membantu Nisa berdiri.
"Maaf soal yang tadi ya?"
"Iya mas, lain kali jangan seperti itu ya."
"Ga janji lah kalau soal itu."
"Memang mas ga takut ada media yang akan memberitakan kita berdua?"
"Maunya sih malah lebih bagus dibuat berita sekalian, biar bisa cepet di kawinin."
"Hust ... ngomong kok ga bener si, nikah dulu baru kawin."
"Oh, jadi mau dinikahin dulu nih, baru di ehem ... ehem ..."
"Ah au ah ..."
Nisa pun menjauh dari Fadhil karena pipinya sudah bersemu merah, tentunya ia tidak mau keliatan tersipu atau merona karenanya.
Lalu Nisa pun mencari Zi di pinggir pantai. Karena tadi Zi sudah menjauh dari jangkauan pandangan Nisa dan Fadhil. Untungnya ia segera menemukan putranya, dan untungnya ia bermain bersama para pengawal Fadhil.
Dari arah kejauhan Zi melambaikan tangannya ke arah mamanya. Nisa pun membalas lambaian tangan putranya. Ahirnya Nisa pun ikut bermain air bersama putranya.
Mereka membuat istana pasir, berlari-larian mengejar ombak dan banyak lagi yang mereka lakukan bersama. Fadhil masih memandangi mereka berdua dari bibir pantai.
"Daddy sini, ayo bermain bersama aku dan Mommy ..." teriak Zi.
Fadhil pun melepas kemejanya dan segera ikut bergabung dengan Zi dan Nisa. Mereka kembali bermain air dengan memercikan air laut ke tubuh lawannya. Mereka bertiga tertawa lepas saat satu sama lain terkena air pantai.
Pagi itu mereka habiskan dengan bermain di bibir pantai. Dan karena jam sembilan pagi udara sudah panas dan hari mulai terik, mereka pun kembali ke hotel.
"Daddy, nanti siang kita jadi snorkling kan?"
"Iya dong, sehabis makan siang kita akan snorkling."
"Hore ..."
Dan mereka pun berpisah satu sama lain. Mereka membersihkan diri dari pasir dan air laut yang sempat menempel pada mereka.
"Mom, Daddy sangat baik sama kita ya?"
"Alhamdulillah iya sayang." Jawab Nisa sembari mengeringkan tubuh Zi dengan handuk.
"Memang kenapa?"
"Aku ingin Om Fadhil menjadi ayah Zi, bolehkan mom?"
"Apa Zi beneran sayang sama Om Fadhil?"
"Iya mom, Zi sangat sayang sama Om, seperti Zi menyayangi Mommy dan Daddy Zein."
Nisa terenyuh mendengar pengakuan putranya tersebut. Ia tak menyangka putranya sangat bisa diajak bekerja sama. Selama ini ia terlihat seperti anak kebanyakan. Tak pernah merasa kekurangan kasih sayang meskipun ayahnya telah tiada. Tapi ternyata di usia yang sekarang ia sudah menjadi anak kecil yang mandiri.
Zi kecil tumbuh menjadi anak yang kuat dan bertanggung jawab. Mungkin juga semua ini berkat kehadiran Fadhil dalam hidup mereka.
Disaat Nisa kesulitan atau atau tak bisa menghadiri acara sekolah Zi, Fadhil selalu meluangkan waktu untuk Zi. Ia pun tak pernah merasa kerepotan saat dimintai tolong Nisa.
"Mommy?"
"Yes, boy."
"Kenapa Mommy melamun? apakah Mommy keberatan dengan permintaan Zi?"
"Ti-tidak sayang, Mommy hanya memikirkan persaanmu saja selama ini, maafkan mom yang tak pernah bisa menemani Zi setiap saat," ucapnya sambil menahan air mata yang akan jatuh dari kedua matanya.
"Really Mom?"
"Yes, of course. Mommy malah senang ahirnya Zi dan Mommy bisa memiliki Daddy kembali."
"Makasih Mommy, emmmuuaacchhh."
Dan Zi pun menghadiahi kecupan bertubi-tubi di kedua pipi Nisa.
"Sudah sayang, cukup! Sekarang Mommy mau mandi dulu."
Nisa pun menoleh," Eh jangan pergi kemana-mmaa ya sayang."
"Siap Mommy."
Dan Nisa pun meninggalkan Zi untuk pergi mandi.
🍃Sedangkan di kamar Fadhil.
Fadhil masih membayangkan setiap moment yang barusan ia lakukan bersama Nisa.
"I love you Nisa ..." Ucapnya dalam hati sembari tersenyum kecil.
Setelah itu Fadhil pun ikut membersihkan diri seperti Nisa. Tetapi tetap berbeda kamar masing-masing, tentunya karena saat ini mereka belum menjadi sepasang suami istri.
Sesudah mandi, Nisa pun memakai terusan santai dan tak lupa memakai sunscreen/sunblock untuk melindungi kulitnya dari kejahatan sinar matahari.
Sedangkan Zi masih bermain gadget diatas tempat tidur.
"Sayang, kamu beneran mau belajar snorkling?"
"Tentu Mommy."
"Emang Zi ga takut tenggelam?"
"Mommy ... perlengkapan snorkling itu sangat lengkap, jadi tidak mungkin terjadi apa-apa."
"Oh ya?"
"Really Mommy."
~Bersambung~
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...