After Married

After Married
KEJELASAN



Fajar menghela nafas panjangnya, ia sungguh tidak bisa mencerna apapun perkataan Mang Dede, karena baginya saat ini rumah ini saja begitu asing untuknya, apalagi ia harus mengingat orang lain lagi. Ia sungguh belum siap untuk menerima semua kenyataan ini.


 


Beruntungnya Mang Dede hanya menceritakan garis besarnya saja untuk Fajar. Ia juga tidak bisa memaksakan memory atau ingatan seseorang. Baginya Zein tidak berontak itu sudah anugrah. Setidaknya ia juga mau mengingat kembali beberapa memory yang telah hilang.


 


Meskipun dalam mimpi Fajar ia sering memimpikan Nisa dan Zi, tapi itu hanya di dalam mimpi. Ternyata Tuhan memberikan sesuatu yang ia inginkan. Sebuah kehidupan normal seperti dulu saat ia belum kehilangan ingatannya dan sebelum kecelakaan itu terjadi.


 


Ia juga tidak boleh egois dengan pemikirannya sendiri. Jika selama ia hilang ingatan ada sebuah keluarga yang mau menampungnya dan juga memberikan kehidupan yang lumayan untuknya. Mungkin jika mereka tidak menemukan tubuhnya ia juga tidak mungkin selamat.


 


Kini ia berada dalam dua pilihan yang sangat sulit. Mang Dede sudah sedari tadi meninggalkan Zein di kamarnya. Ia memberikan ruang untuk Fajar agar mampu memberikan keputusan. Apa dia tetap tinggal disini dan sambil memulihkan kembali ingatannya atau ia memilih hidup dengan keluarga yang merawatnya selama ini.


 


Fajar mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar yang ia tempati saat ini. Ia menghela nafasnya dan mencoba menikmati udara di dalam ruangan kamarnya. Ada sesuatu yang sedang ia pikirkan secara mendalam.


 


Ia pun memilih untuk pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu seperti biasanya, lalu beribadah. Daripada bermonolog sendiri ia lebih memilih untuk berdoa pada Sang Illahi. Tentunya ia akan merasa lebih baikan setelah ia beribadah, ketimbang ia harus membagi masalahnya dengan sesama manusia.


 


Sejak Zein kehilangan ingatan sampai ia berubah namanya menjadi Fajar, ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang lebih religius.


 


.


.


...⚜⚜⚜...


 


...Rumah Cahaya...


 


Ibunya masih syok dengan semua keadaan yang terjadi hari ini. Sehingga ia lebih banyak diam dan seperti orang yang linglung. Ayah Cahaya sama sekali tidak syok dengan semua kejadian hari ini. Ia sudah bisa memprediksi kalau cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi.


 


Tetapi bukan dengan hal seperti ini yang ia harapkan. Ia lebih memilih jika Fajar akan ingat dengan sendirinya tanpa seperti penculikan seperti ini.


Memang berat jika hanya dibayangkan, tetapi kenyataan ini lebih menyakitkan untuknya. Terlebih hari ini putrinya sudah ditemukan olehnya dalam keadaan pingsan.


"Bu, ikhlaskan semua yang sudah terjadi."


"Ta-tapi Pak."


"Ini sudah menjadi jalan takdir kita selama beberapa tahun, kalaupun ingin kembali sudah terlambat."


Lidahnya begitu kelu untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Tetapi ia juga tidak tega melihat putrinya terbaring seperti itu.


"Lalu siapa yang melakukan semua ini pada putri kita?"


"Lalu siapa pula yang menculik Fajar, atau apakah ia melarikan diri dari kita."


"Hush, gak baik berprasangka buruk pada Fajar."


"Mungkin saja ia sudah bertemu dengan keluarganya."


"Tapi apakah ia tidak mau mengucap terimakasih pada kita?"


"Bu, sudahlah ... lebih baik memikirkan nasib Cahaya," gertak ayah.


Ibu Cahaya pun memilih diam seribu bahasa daripada berdebat lebih lama lagi.


.


.


...Bersambung ...