After Married

After Married
KEHANGATAN KELUARGA BARU



Setelah mengingat masa lalunya, ia pun kembali ke dapur untuk membuat teh hangat untuk dirinya dan suaminya. Ya malam itu seluruh penghuni rumah sudah tertidur kecuali kedua pasangan pengantin tersebut.


Kecanggungan kembali berlanjut saat dirinya masuk kamar dan mendapati suaminya hanya memakai celana pendek dan bagian atas tubuhnya terbuka.


Wajah Nisa memerah tetapi ia tetap melanjutkan langkahnya ke dalam kamar.


"Tehnya mas."


"Makasih sayang, maaf kamu ga biasa ya liat aku ga pake baju."


"Dah tau masih nanya." Ucap Nisa sembari cemberut.


Ia pun melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur yang masih bertabur mawar merah.


"Dih tambah manis aja si sayangku ini." Ucap Fadhil sembari mendekati Nisa yang mau membersihkan mawar-mawar yang ada di tempat tidur.


Slep ...


Fadhil pun memeluk Nisa dari belakang. dihirupnya aroma tubuh Nisa yang sedari tadi mengusik hatinya. Nisa yang tiba-tiba dipeluk pun ikutan menegang.


Maklum ia sudah lama tidak bersentuhan dengan lawan jenis, apalagi sedekat ini. Semakin lama semakin ia mendalamkan penciumannya ke leher jenjang Nisa.


Fadhil memang sengaja menggoda Nisa, awalnya si cuma menggoda, tapi ternyata dia sendiri yang tergoda. Nisa pun mencoba menikmati perlakukan suaminya. Meskipun ia juga deg-degan tapi mau gimana lagi. Kalaupun suaminya meminta haknya sekarang ia juga tidak bisa menolaknya.


Fadhil yang baru sadar akan perlakuannya pada Nisa segera melepas pelukannya perlahan. Ia pun membalikkan tubuh Nisa ke hadapnya. Kini posisi mereka berhadap-hadapan.


Wajah Nisa sudah bersemu merah, dan Fadhil pun menangkupkan wajah Nisa ke arahnya. Dan cup, Fadhil pun memberikan ciuman di kening Nisa. Kemudian ia pun menyuruh istrinya untuk tidur. Ia tak tega melahap istrinya di malam pertama.


Karena ia tau dengan pasti kondisi mereka sama-sama lelah satu sama lain. Dan ahirnya mereka pun tidur malam itu tanpa melakukan adegan panas yang dipikirkan readers. Wkwkwkwk.


...***...


Keesokan harinya, rumah Nisa mendadak ramai. Tentunya ketiga keluarga besar sedang berkumpul pagi itu di rumah Nisa. Pagi itu mereka semua sarapan bersama-sama dengan suka cita.


Tak pernah terbayangkan jika hari itu tiba, tapi mereka semua berbahagia atas pernikahan putra putri mereka, yaitu Fadhil dan Nisa. Diusia mereka yang sudah sangat matang, tentunya para orangtua menginginkan agar mereka segera menambah momongan lagi.


Tetapi mereka tidak langsung membicarakan hal tersebut, karena ini juga baru hari pertama setelah menikah. Jadi para orangtua hanya membicarakan jika tidak ada Nisa dan Fadhil diantara mereka.


Mereka juga tidak mau membebani pikiran pengantin baru, biarkan mereka menikmati masa-masa indahnya pengantin baru.


Semua anggota keluarga sangat berbahagia hari itu. Mereka saling bercerita satu sama lain. Terkadang Zi muncul dan menghangatkan suasana diantara para nenek dan kakeknya. Tak pernah terbesit hal ini bisa terjadi. Nisa hanya memandang seluruh keluarganya dari lantai atas.


Fadhil pun berada disisi Nisa ia pun menggenggam tangan Nisa saat itu. Nisa bisa merasakan kehangatan yang diberikan oleh suaminya tersebut.


"Semoga ini langkah awal kita untuk dapat selalu membahagiakan mereka semuanya ya sayang," ucap Fadhil pada Nisa.


"Aamiin, makasih mas, terimakasih untuk semuanya."


"Iya sama-sama."


Lalu mereka pun kembali memandangi seluruh orangtua mereka. Dan beberapa waktu kemudian mereka pun turut bergabung dengan para orangtua di ruang keluarga. Semuanya terlihat akrab satu sama lain. Siang itu akan menjadi salah satu kenangan manis yang tak akan dilupakan Nisa.


...***...


Awalnya mereka menolak, tetapi karena Fadhil yang terus memohon, ahirnya mereka pun mengabulkan permintaan Fadhil.


Acara pamit pun dipenuhi haru biru, Nisa seperti kehilangan sesuatu, begitu pula dengan mereka. Ibu dan Ayah Nisa terharu, ahirnya putri mereka akan memulai kehidupan barunya bersama suami barunya. Sedangkan mertua Nisa merasa kehilangan menantu yang amat baik juga cucu kesayangan mereka.


Jam delapan pagi ahirnya mereka semua berangkat meninggalkan rumah Nisa. Sekarang tinggallah Nisa, Fadhil dan Zi yang tinggal di rumah itu. Sedangkan rumah Fadhil belum ditinggali mereka.


Nisa masih ingin tinggal beberapa lagi di rumah peninggalan sang suami. Sedangkan Fadhil juga ingin segera memboyong Nisa ke rumahnya. Apalagi semua persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari.


Rumah Fadhil sudah di renovasi bagian taman belakang agar Nisa bisa berkebun disana. Ia tau kalau Nisa mempunyai hobby baru, yaitu menanam tanaman hias.


Maklum sejak Fadhil mengutarakan maksud hatinya untuk meminang Nisa, ia pun memberitahukan agar Nisa berhenti bekerja, ia cukup mengawasi kerja dari rumah sembari mengurus rumah tangganya dan merawat anak-anaknya saja.


Jadi untuk mengusir rasa bosan, ia pun mulai melirik sebuah hobby baru, yaitu merawat tanaman hias. Apalagi saat ini tanaman hias lagi menjadi trending kembali.


Selama itu masih bersifat positif, Fadhil akan memberikan restu pada Nisa. Apalagi Zi yang mendengar rencana itu dari ayahnya sangat bahagia sekali.


Sudah lama ia memimpikan agar kembali merasakan kasih sayang yang utuh dari ayah dan ibunya. Tak dapat dipungkiri hal yang paling diimpikan setiap anak adalah kasih sayang kedua orangtua.


Seringkali kita melihat anak-anak tumbuh dengan kekurangan kasih sayang. Mereka menjadi anak yang susah diatur dan sering berbuat seenaknya.


Tentunya hal itu ingin dihindari Fadhil, oleh sebab itu ia melarang Nisa bekerja. Nisa juga paham hal itu, sudah saatnya ia merawat Zi di rumah. Mungkin kemarin adalah saat-saat ia berjuang hidup untuk dirinya dan anaknya.


Dan sekarang tinggallah ia untuk berbahagia dengan memiliki keluarga baru. Cinta untuk Zein memang tidak pernah terganti, tetapi saat ini ia juga ingin mencintai dan dicintai orang lain, yang tidak lain dan tidak bukan Fadhil, suaminya.


Fadhil memang sosok sempurna dan seorang penyelamat Nisa. Ia hadir dalam setiap waktu, setiap Nisa membutuhkan bantuan. Bahkan saat kelahiran Zi dialah yang menemani proses kelahirannya di ruang operasi.


Mungkin sebuah kebetulan yang tidak disengaja, tapi garis takdir mereka memang terhubung satu sama lain. Dulu mereka menjadi teman, tetapi di masa depan, ternyata mereka menjadi sepasang suami istri.


Itulah rahasia Illahi, tak ada manusia yang bisa menebak garis takdir mereka. Apa yang kita inginkan mungkin tidak dikabulkan secara instant olehNya, tetapi jika kita terus berusaha, berikhtiar, menyelipkan namanya dalam doa-doa kita, insya Allah pasti Allah mengabulkan doa kita.


...~Bersambung~...


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...