After Married

After Married
PERASAAN APA INI



......................


Dokter Richard pun mengubah mimik wajahnya yg tadi sempat tak suka dan meminta maaf pada Fadhil.


"Maaf aku sudah berpikiran buruk tentangmu." Ucap dokter Richard sambil menyalami tangan Fadhil.


"Tak apa dok, saya paham." Ucap Fadhil tersenyum sambil menyalami tangan dokter Richard.


Nisa pun menghela nafas lega. Lalu dokter Richard menanyakan kondisi Nisa, mereka pun berbicara panjang lebar dan sementara Fadhil mendudukan dirinya di sofa yg ada dikamar rawat Nisa.



Sejak tadi Nisa merasa terusik karena bagiamana pun saat ini Fadhil berbeda dengan Fadhil yg ia kenal satu tahun yg lalu. Perhatiannya masih sama seperti dulu, tetapi penampilan dan kharisma yg ia bawa sungguh lain. Sesekali ia masih mencuri pandang kepadanya. Dan saat manik mata mereka bertemu ada getaran-getaran aneh yg berdesir di dalam hati Nisa.


Sedangkan dokter Richard sesekali memandang ke arah Fadhil ataupun Nisa.


"Ehem ... mereka berdua terpecah dari lamunannya.


"Bagaimana Nis? apa perlu aku hubungi keluargamu sekarang?" tanya dokter Richard kemudian.


"Mm ... jangan sekarang." Ucapnya panik.


"Ok, kamu jangan panik ya, beberapa jam lagi kamu akan melahirkan bukan? biar nanti aku berbicara pada dokter Wenny agar melakukan tindakan terbaik untukmu. Kalau kamu butuh apa-apa hubungi aku saja ok. Em, biar temanmu saja yg menghubungiku, pasti kalau kamu akan lupa nanti ... he ... he ... he." Tawa dokter Richard pecah ketika membayangkan Nisa mengejan dan harus menghubunginya, pasti dia akan lupa.


Nisa mendengus sebal, ya jelas saja ia akan lupa, dia kan yg melahirkan, mana sempat berpikir untuk menghubungi orang lain.


"Ya sudah, aku permisi dulu, ingat nanti suruh temanmu untuk menghubungiku jika kamu ada apa-apa."


Dia pun mendekati Fadhil di sudut ruangan. "Ini no telponku, kalau nanti Nisa butuh bantuanku kamu hubungi saja no ku, aku mau kembali bertugas lagi." Ucapnya sambil menepuk bahu Fadhil.


"Ok." Jawab Fadhil singkat. Lalu ia pun mendekati Nisa. Karena perutnya lapar sedari sore ia belum makan, ia pun meminta ijin untuk membeli makan sebentar. Nisa pun menyetujuinya. Tapi Nisa juga berpesan jangan lama-lama.


"Ok, aku permisi dulu Nis, jika ada apa-apa, hubungi aku, ini no nya." Ucapnya sambil memberikan kartu namanya pada Nisa.


Nisa mengangguk, lalu Fadhil pun segera keluar. Saat ia melihat kartu namanya Nisa tersenyum, sekarang Fadhil bukan karyawan lagi, ia sudah memiliki posisi di sebuah perusahaan penting di kota ini. Sepertinya ia pernah mendengar nama perusahaan itu, tapi dimana ya?


"Ah sudahlah, aku mau berbaring sebentar, mumpung si kecil lagi tenang."Ucapnya sambil mengelus-elus perutnya.


Karena ia juga harus menyiapkan tenaga agar saat nanti melahirkan ia tidak mengantuk seperti penuturan dokter Wenny. Ia masih ingat betul semua informasi tentang semua hal yg harus ia persiapkan nanti.


Beberapa waktu kemudian, Nisa merasa perutnya sangat sakit, tendangan si kecil dalam perutnya sungguh terasa sekali. Ia tak bisa menahannya kali ini. "Sakit mas ..." ucapnya sambil memejamkan matanya.


Sementara itu Fadhil yg entah sejak kapan sudah kembali ke kamar Nisa segera menghampirinya. "Bagian mana yg sakit Nis?" tanya pelan.


Nisa enggan membuka matanya, karena di dalam mimpinya saat ini Zein yg memegang tangannya dan menemaninya berjuang melahirkan anak mereka.


"Mas jangan pergi, temani Nisa berjuang ya, aku kangen, hiks ... hiks ... hiks ...."


Air mata Nisa tiba-tiba saja mengalir, membuat Fadhil enggan berpindah tempat. Ia masih memandang lekat wanita didepannya itu. Andai saja Nisa benar-benar istrinya, ia akan sangat bahagia menemaninya saat ini. Tapi saat ini situasinya berbeda. Nisa istri sah Zein, dan dia?


"Arghhh ...." Fadhil mengacak-acak rambutnya karena sedikit frustasi dengan kenyataan didepan matanya.


Dan Nisa yg mendengar seseorang bersuara segera membuka matanya.


"Mas Fadhil?" tanyanya panik. Ia melihat ke sekeliling ruangan, tapi tak ditemukannya suaminya.


"Maaf Nis, apa aku mengganggumu?"


"Bukan mas, maaf ...." Ucapnya lirih sembari melepas tangan Fadhil yg tak sengaja ia genggam.


Entah kenapa disaat seperti ini rasanya sulit sekali ia bersikap tegar. Ini memang bukan sifat Nisa yg biasanya, entah kenapa sejak hamil ia berubah sifat menjadi manja dan gampang berubah mood. Kadang ia bisa bersikap dewasa, kadang ia bertingkah seperti anak-anak.


Zein yg sudah mengikuti perkembangan Nisa sejak awal hamil sampai sekarang pun tak bisa menemaninya. Bahkan Nisa tak bisa mengunjunginya.


Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Nisa.


"Mas ..." ucapnya sambil memandangi Fadhil.


"Iya." Jawab Fadhil.


"Boleh minta tolong?"


"Katakan saja Nisa?"


Deg


Deg


Deg


Hening seketika.


Ngilu terasa sekali saat Nisa meminta memanggilnya hanya untuk mengantarkan pada suaminya.


"Ok, aku ambilkan kursi roda sebentar ya."


Setelah dirasa siap, mereka berdua pun menuju ruang perawatan Zein.


Setelah sampai didepan ruangan itu. Fadhil memberikan ruang pada Nisa agar ia lebih leluasa bersama suaminya.


"Nis, aku menunggu disini saja ya, nanti kamu tinggal panggil aku ketika sudah selesai."


"Makasih mas." Lalu Nisa mendorong kursinya mendekati brankar Zein.


Fadhil pun menutup pintunya dan duduk di depan ruang rawat Zein. Matanya tertunduk lesu. Entah kenapa saat ini ingin rasanya ia pergi sejauh mungkin, tapi ia tak bisa. Ada tanggung jawab besar didepannya.


Meski Nisa dan Zein adalah masa lalunya, tapi kini mereka hadir dalam masa depannya. Tak mungkin ia lari untuk kedua kalinya. Ia juga mempunyai tugas mengurai takdir rumit diantara mereka.


Kalau dia tak menyelesaikan saat ini, tak akan ada masa depan impiannya. Lagi pula untuk apa ia berharap lebih. Jika memang Nisa takdirnya tidak akan mungkin ada Nisa yg kedua.


Sementara itu diruangan lain, tepatnya diruangan dokter Richard.


"Dokter, apa diagnosa anda bisa dipertanggungjawabkan?" tanyanya pada rekan satu profesinya.


"Tentu, memang kenapa?"


"Tidak mungkin Zein mengalami kerusakan hati, satu tahun lalu aku yg mengoperasinya dan yg mengurusi chek up rutinnya, bagaimana ini bisa terjadi?" Ucapnya sedikit frustasi.


"Pasien mengalami kecelakaan yg hebat kali ini, apalagi ia memakai kecepatan maksimal saat kejadian, dan dadanya memang membentur benda keras." Terang dokter didepannya.


"Apa tidak bisa dilakukan cangkok hati?"


"Tentu saja itu beresiko, kecuali pasien dalam keadaam normal kita baru bisa bertindak, apalagi pasien pernah mengalami operasi pada tempat yg sama."


"Baiklah, berkasmu aku pinjam sementara waktu, aku mohon kamu merahasiakan hal ini pada keluarganya."


"Tapi aku sudah menjelaskan salah satu pada keluarganya."


"Siapa?"


"Kalau tidak salah namanya Pak Fadhil."


Lalu seketika raut wajah dokter Richard berubah menjadi sedikit lebih rileks.


"Baiklah tak apa, tapi aku mohon jangan katakan hal ini pada Nisa dan keluarganya yg lain."


"Ok."


Ada yg penasaran dengan dokter Richard? Ini sosoknya 🤗???



.


.


.


.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA... BAIK LIKE, KOMEN , FAVORIT ATAU GIFT ... MAKASIH BANYAK SEMUANYA 🙏😊


SEMOGA ALLAH MEMBALAS KEBAIKAN KALIAN SEMUANYA ... AAMIIN