
Beberapa tahun yang lalu, di pinggiran pantai tergeletak seorang lelaki tampan dengan badan yang penuh luka dan pakaian yang sobek disana sini. Tetapi beruntungnya detak jantungnya masih ada. Sehingga ayah dan ibu Cahaya membawanya pulang ke rumah untuk diobati.
Dengan penuh kasih sayang ia merawat pemuda itu hingga sembuh. Bahkan waktu yang digunakan untuk merawat mereka cukup membutuhkan waktu yang lumayan lama. Tentu saja keterbatasan alat dan obat menjadi kendalanya.
Tetapi berkat keuletan dan kegigihan mereka Fajar kini bisa hidup sampai saat ini. Meskipun ketika ia sadar ia sudah tidak bisa mengingat masa lalunya. Bahkan identitasnya saja ia tidak ingat. Oleh karena itu, kedua orangtua Cahaya memberikan nama padanya Fajar.
Sesuai waktu mereka menemukan Fajar di tepi pantai. Ya saat fajar mulai menyingsing dari ufuk timur, muncullah ia ditepi pantai.
Dan inilah pemuda yang sudah merebut cinta Cahaya.
Seorang pemuda yang entah dari mana asalnya selama beberapa tahun ini menemani kesehariannya dan telah menjadi bagian dari hidupnya. Perlahan tapi pasti, kehidupan Cahaya menjadi lebih berwarna setelah kehadiran pemuda itu.
Setiap hari ia selalu bersama dengan Cahaya. Mereka juga mempunyai kebun bunga yang indah di pulau itu. Karena memang Cahaya sangat menyukai bunga sejak kecil. Kedua orangtuanya pun membawakan bibit-bibit bunga untuk ditanam di pulau itu.
Meskipun keseharian mereka hanya dihabiskan di pulau itu tetapi kehidupan mereka aman dan damai. Tinggal di sebuah pulau yang terpencil tak membuat mereka sedih. Karena justru kebahagiaan yang mereka dapatkan saat ini tidak mungkin tercapai jika mereka masih berada di tempat tinggal mereka yang dulu.
Suatu hari pemuda itu merasakan sakit kepala yang tidak tertahankan. Saat itu kebetulan ada pesawat yang melintasi pulau mereka. Ia melihat sebuah pesawat yang melintasi pulau itu dengan perasaan yang aneh dan entah kenapa membuat Fajar mengalami sakit kepala.
"Kamu kenapa Fajar?" tanya Cahaya melihat temannya kesakitan.
"Aku tidak apa-apa kok, cuma agak sakit sedikit di sebelah sini." Ucapnya sambil menunjuk kepalanya.
"Memangnya yang barusan melintas itu apa?" ucapnya sambil memandang ke arah langit.
"Oh yang barusan itu namanya pesawat Fajar."
"Lalu kok bisa terbang kaya burung tetapi suaranya bising sekali sehingga membuat kepalaku sakit."
"Kamu tenang saja, pesawat seperti tadi hanya sesekali melintas disini, enggak setiap hari kok."
"Jadi kamu tidak usah hawatir akan hal itu," ucap Cahaya menenangkan sahabatnya itu.
"Eh iya juga ya, terimakasih Cahaya."
"Sama-sama Fajar, oh ya ... ayo kita kembali ke rumah, lagian ikan yang kita tangkap sudah lumayan banyak."
"Siap."
Lalu kedua muda-mudi itu segera membawa hasil tangkapan mereka untuk diolah di rumah kedua orangtua Cahaya.
...***...
Sedangkan di tempat lain, seorang ibu rumah tangga dengan kondisi perut yang sudah lumayan besar sedang menyiapkan makan siang untuk dirinya dan suaminya.
Sejak kehamilan Nisa menginjak tujuh bulan, berat badannya semakin bertambah banyak. Tetapi masih dalam tahap wajar. Karena yang bertambah besar adalah perutnya saja, sedangkan tangan dan lainnya tidak mengalami pembengkakan yang signifikan. Kalau tempat stok ASI tentu saja bertambah besar karena usia kandungannya juga bertambah.
Ia pun sudah meminta cuti lebih awal karena pergerakannya pun sudah sedikit susah. Tubuhnya yang mungil dan perutnya yang membuncit membuat Nisa sedikit kepayahan. Oleh karena itu ia pun mengajukan cuti lebih awal. Untung saja itu perusahaan suaminya jadi ia bisa dengan mudah mendapatkan ijin.
Sejak hamil, Fadhil juga mulai menerapkan kebijakan baru untuk karyawan wanita di kantornya.
Ia menambahkan beberapa peraturan baru untuk mereka. Diantaranya dengan memberikan ijin cuti tiga bulan untuk karyawan wanita yang mau melahirkan.
Ada ruangan yang dibangun khusus untuk tempat Lactasi. Penyediaan ruang menyusui sesuai standar yang memenuhi persyaratan kesehatan, seperti:
- Tersedianya ruangan khusus dengan ukuran minimal 3x4 meter kuadrat dan atau disesuaikan dengan jumlah pekerja perempuan yang sedang menyusui.
- Ada pintu yang dapat dikunci, yang mudah dibuka atau ditutup
- Lantai berupa keramik, semen atau karpet
- Memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang cukup
- Bebas potensi bahaya di tempat kerja termasuk bebas polusi
- Penerangan dalam ruangan cukup dan tidak menyilaukan
- Kelembapan berkisar antara 30-50%, maksimum 60%, dan
- Tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci
Semua itu dilakukan demi kenyamanan para karyawan. Mengingat istrinya juga sedang hamil. Sebelum ini ia tidak memikirkan hal seperti ini, tetapi saat ini semuanya muncul secara tiba-tiba.
Ia pun merealisasikan idenya itu dan mencoba untuk lebih memperhatikan kesejahteraan para karyawannya. Yang namanya kebijakan baru selalu ada pro dan kontra, jadi semua bisa terjadi asalkan kebijakan itu diawasi secara ketat di awal realisasinya.
...***...
Sedangkan di rumah, istri Fadhil yang sudah cuti itu tidak bisa diam begitu saja. Ada-ada saja hal yang selalu ia lakukan agar ia bisa sedikit mengurangi rasa jenuhnya itu.
Nisa memang masih cekatan dalam berbagai hal. Tetapi sekarang pergerakannya terbatas. Jadi ia hanya menghabiskan waktunya untuk membantu pekerjaan orang rumah dan sesekali membuka da memeriksa file kerja dari rumah.
Karena ia tidak mau istirahat ahirnya terjadilah percekcokan kecil dengan asisten rumah tangganya.
"Non anda sebaiknya duduk saja, biar saya yang menyiapkan makanannya," ucap Mbok Ijah yang tidak tega melihat kepayahan yang dialami majikannya itu.
"Ga apa-apa mbok, lagian aku juga enggak terbiasa diam kan?"
"Iya non."
Lalu muncullah Fadhil dari arah pintu luar ruang makan.
"Kenapa ribut-ribut lagi sayang?" tanya Fadhil menghampiri istrinya dan ART-nya itu.
"Begini lo mas, aku kan bete kalau disuruh diam aja sambil ngeliatin simbok begitu, makanya aku bantu-bantu simbok untuk memasak, tetapi simbok gak mau aku kecapekan jadi aku disuruh duduk aja tapi aku gak mau ... he he he..."
"Ya ampun sayang, kamu tu ya, dibilangin jangan capek-capek, diam aja kok bandel sih," geram Fadhil pada istrinya itu.
"Tapi yang namanya bosen ya gak bisa diatasi lagi kalau gak mencoba mencari kegiatan mas." Bantah Nisa sambil memalingkan muka dari suaminya.
Fadhil berjongkok dan memandang istrinya, ua meraih kedua tangan Nisa agar istrinya yang lagi ngambek itu bisa melihat wajahnya, terbukti istrinya lalu memandang wajah suaminya itu.
"Bagaimanapun kesehatan kamu dan dia sangat penting bagi mas, kamu gak boleh kecapekan atau mas akan marah, setidaknya kamu bisa bersabar sampai dia lahir sayang ..."
Benar saja ucapan suaminya membuatnya sedikit berubah keinginannya. Kini ia tidak boleh egois lagi, karena ada kehidupan lain di dalam perutnya, ia harus sedikit bersabar untuknya.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...