After Married

After Married
KENYATAAN



Sesuai dengan arahan Richard sore harinya ia pun membawa istrinya untuk segera chek up ke dokter. Sebenarnya hari ini bukan jam chek up rutinnya, tetapi karena ada hal kejadian tak terduga yang terjadi pada istrinya, ia pun segera membawa istrinya pergi ke rumah sakit.


Kekhawatirannya kini lebih mendominasi ketimbang akal sehatnya. Hal sekecil apapun yang terjadi pada Nisa sudah bisa memicu kekhawatiran yang berlebihan pada Fadhil.


Tadi siang ia sudah membuat janji dengan dokter Wenny. Dokter Obgyn yang sudah menangani kehamilan Nisa selama delapan bulan terahir ini.


Bagi Fadhil, hal sekecil apapun harus ia teliti, agar Nisa dan bayinya baik-baik saja. Karena ini dilakukan di rumah sakit, maka Zi tidak ikut serta. Ia sedikit trauma dengan rumah sakit.


Terakhir kali ia ke rumah sakit saat mengunjungi kakeknya. Seminggu kemudian sang kakek memang sembuh dan dibawa pulang ke rumah. Tetapi Tuhan berkehendak lain, sang kakek meninggal setelah tiga hari pulang dari rumah sakit.


Bagi Zi rumah sakit itu ibarat pintu gerbang kematian yang tidak terlihat jelas. Meskipun pada kenyataannya tidak semua orang yang pulang dari rumah sakit meninggal tetapi tetap saja hal itu membuat Zi sedikit trauma.


Padahal Nisa dan Fadhil sudah memberi pengertian tetapi hal itu tidak mengurangi rasa di hati Zi. Zi juga hawatir pada mommy-nya yang mengalami hipertensi saat kehamilannya.


Kata teman-temannya hal itu bisa membahayakan ibu dan janinnya. Sebagian teman-teman Zi mengatakan kemungkinan hal itu terjadi karena "bawaan" bayi.


Setelah bayi lahir maka hal itu akan membaik seiring berjalannya waktu. Karena rasa penasarannya Zi sempat mencari-cari informasi dalam situs google. Ia mencari kata kunci hipertensi pada kehamilan.


Benar saja, semua artikel mengatakan hal itu jauh-jauh lebih berbahaya ketika dialami oleh ibu hamil. Kekhawatirannya terhadap kesehatan mom dan calon adiknya kian bertambah. Tetapi ia tidak mau menunjukkan hal itu di depan kedua orangtuanya.


Ia hanya mengatakan masih trauma dengan rumah sakit sejak kakeknya meninggal. Jauh dari hal itu sebenarnya ia tidak mau mendengar kabar yang buruk dari sang dokter yang memeriksa mommy-nya nanti.


Ahirnya sore itu Fadhil dan Nisa segera berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Nisa sebenarnya sudah merasa baik-baik saja.


Ia bahkan merengek untuk membeli rujak di pinggir jalan. Entah kenapa buah kedondong yang berbaris rapi di gerobak penjual rujak begitu menggodanya.


Dengan sedikit terpaksa ahirnya Fadhil membelikannya buah kedondong dan buah lainnya untuk keperluan rujak nanti. Sedangkan eksekusi ahirnya biar Mbok Jah yang membuatnya di rumah nanti.


Nisa setuju akan hal itu, ia pun tidak biasa makan rujak di malam hari, ia ingin mencicipi rujaknya besok siang sambil bersantai di taman belakang rumahnya.


Setelah selesai membayar semuanya, Fadhil kembali ke mobil, pedal gas pun diinjak Fadhil dan mobil kembali melaju menuju rumah sakit internasional.


Tepat pukul lima sore, mobil yang dikendarai mereka sampai di tempat parkir rumah sakit. Dengan sedikit kesusahan Nisa keluar dari mobil.


Mereka kemudian menggunakan lift untuk sampai ke lantai sembilan tempat dimana dokter Wenny bekerja.


Ting


Ahirnya lift yang mereka naiki telah sampai di tujuan. Tepat beberapa langkah dari lift sudah terlihat ruang kerja dokter Wenny.


Setelah menyapa suster penjaga disana, mereka dipersilahkan untuk masuk ke ruang praktik. Di dalam ruangan sudah menunggu dokter cantik tersebut.


Ceklek.


.


.


"Selamat sore dokter?" sapa Nisa ramah.


"Selamat sore Ibu Nisa dan Bapak Fadhil, silahkan duduk," balasnya dengan tersenyum.


"Bagaimana ada yang bisa saya bantu?"


Sebelum Nisa membuka mulutnya, Fadhil sudah lebih dulu bercerita tentang hal yang dialami istrinya tadi siang. Ia menceritakan dengan detail tanpa mengurangi kebenaran kejadian tersebut.


Setelah mendengar penjelasan dari Fadhil maka Nisa diajak untuk menuju brankar agar ia dapat diperiksa dengan segera.


Sebuah gel segera dioleskan diatas perut Nisa, dan sebuah alat deteksi digerak-gerakkan dengan lembut diatas sana.


Di layar monitor terlihat dengan jelas, keadaan bayi dalam perut Nisa. Disana terlihat seorang bayi yang meringkuk di dalam perutnya.


Sesekali ia bergerak-gerak lincah saat alat itu digerak-gerakkan diatas sana. Mengisyaratkan seolah-olah ia tau kalau dirinya sedang dimonitor.


Fadhil menatap kagum pada ciptaan Allah yang terlihat di dalam perut Nisa. Bersyukur ia bisa mendampingi Nisa dalam setiap perkembangan kehamilannya.


Jadi di setiap bulannya ia tau dengan pasti kesehatan istri dan calon anaknya itu.


Fadhil pun membantu istrinya untuk bangkit dan kembali duduk di depan meja kerja dokter Wenny.


Lalu sesudah ia menaruh kembali alat-alat kerjanya ia pun kembali ke tempat duduknya.


"Bagaimana dok? apa ada masalah yang serius disana?"


"Alhamdulillah Bu, Pak ... tidak terjadi apa-apa dengan istri bapak? Hanya saja ...."


"Hanya saja sesuai prediksi awal dari saya, Ibu Nisa memang mengalami pre-eklampsia."


"Ha-ah...! apa itu dokter?" tanya Fadhil penasaran.


"Pre-eklampsia adalah sebuah komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya yang ditandai dengan tekanan darah tinggi."


"Pre-eklampsia biasanya dimulai setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita yang tekanan darahnya telah normal. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan fatal, bagi ibu maupun bayi jika tidak ditangani dengan tepat!"


"Tetapi seperti di awal bulan lalu, Ibu Nisa sebenarnya sudah saya beri obat untuk mengurangi hal itu, tetapi nyatanya hal itu masih tidak bisa menunjukkan hasil yang siginifikan, oleh karena itu...." dokter Wenny menggantung kalimatnya sambil menatap Nisa dan Fadhil secara bergantian.


"Tetapi apa dok?"


"Sesuai prediksi awal, jika hal ini tidak ada perkembangan sampai minggu depan, maka dengan sangat terpaksa Ibu Nisa harus melahirkan dengan segera."


"Apa tidak ada cara lain lagi dokter?"


"Tentu saja hanya hal itulah kemungkinan yang bisa saya ambil."


"Lakukan apapun yang terbaik untuk saya dan bayi saya dokter, saya akan mempersiapkan semuanya dengan baik kali ini," ucap Nisa dengan sungguh-sungguh.


Ia justru kelihatan sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya nanti.


"Tunggu dulu, apa bisa istri saya melahirkan sebelum waktu HPL dokter?" tanya Fadhil dengan harap-harap cemas.


"Bisa Pak, yaitu dengan melakukan prosedur caesar."


"Oh NO, tidak ada cara lain kah?"


Dokter Wenny tertawa kecil, "Ada ... yaitu dengan memberikan Ibu Nisa obat induksi."


"Astaga apa lagi ini?" tanya Fadhil semakin dibuat cemas karenanya.


"Obat induksi ini akan diberikan disaat Ibu Nisa sudah siap untuk melahirkan. Saat ia sudah dirawat dan bersiap untuk melakukan persalinan."


"Apa tidak sakit?" tanyanya kembali.


"Tentu sakit Pak, memangnya ada kelahiran yang tidak melalui rasa sakit?" tanya dokter Wenny menahan senyum.


Tiba-tiba ingatan tentang persalinan Nisa beberapa waktu lalu terngiang-ngiang di kepala Fadhil. Membuat si empunya meringis ngilu ketika membayangkannya.


.


.


.


...~Bersambung~...


.


.


.


...Terimakasih sudah setia menunggu kelanjutan Novel ini, maaf jika ahir-ahir ini tidak bisa uodate tepat waktu ......


...Dikarenakan memang kondisi yang naik turun mengakibatkan harus banyak istirahat... terimakasih banyak untuk pengertiannya.....