After Married

After Married
BAB 213. MAAFKAN AKU



Hari ini, Sheril memang sengaja datang lagi ke apartemen Leo tidak sesuai jadwal biasanya. Kali ini ia datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sayang, kali ini sepertinya nasib buruk sedang menghantui Leo.


Saat ini ia sedang sibuk membersihkan sisa-sisa pertempurannya dengan Sovia beberapa saat yang lalu. Kini tenaganya sudah pulih kembali. Tak lupa ia membuang semua tisu yang ia gunakan ke tempat sampah rahasia.


Karena mendengar derap langkah menuju tempatnya. Leo segera menendang tempat sampah rahasia miliknya tadi ke kolong tempat tidur.


Tapi ia melupakan satu hal, dan pasti jika Sheril melihatnya ia akan marah. Derap langkah itu semakin jelas terdengar saat ini.


"Sayang ...." panggilan sakral itu terdengar sangat jelas kali ini.


Apalagi kini ia sedang bersedekap dada di ruang tamu milik Leo.


"Iya, Sayang, sebentar ...." ucapnya sambil membasuh mukanya di kamar mandi.


Setelah dirasa cukup, ia pun berlari menuju ruang tamu.


"Sayang!" ucap Leo kaget.


Sheril tersenyum lalu mendekati kekasihnya itu.


"Kenapa kau tak menyambutku?" tanya Sheril.


"Eh, iya, " Leo mengusap keningnya karena tiba-tiba ia merasa ketakutan.


"Kenapa? kamu habis ketemu siapa, hm!"


Sheril memicingkan matanya, ia melihat tanda merah pada leher Leo. Hingga tiba-tiba ia pun melayangkan tamparan keras pada pipi Leo.


"Dasar lelaki bangs**, kurang apa aku ini, huh! beraninya menduakan cinta dariku!"


Sheril memukul-mukul dada Leo dengan kesalnya.


"Stop, Sayang, please dengarkan aku!"


Ia pun menahan pukulan Sheril dengan kedua tangannya.


"Buat apa dengarkan kamu, kamu benar-benar membuatku muak!"


Setelah melampiaskan semua kemarahannya, tubuh Sheril limbung, ia pingsan. Entah kenapa wajahnya terlihat memucat. Karena panik, Leo segera menggendongnya ke dalam kamar.


Karena Sheril belum siuman, ia pun mengoleskan minyak kayu putih pada pelipis, tangan dan kaki Sheril. Tetapi setelah beberapa saat, ia juga belum siuman juga.


"Hh, kenapa belum siuman juga sih?"


"Sayang, bangun dong, aku minta maas, please."


.


.


Sementara itu, Fadhil dan Nisa telah sampai di tempat parkir. Ia mendorong tubuh Nisa ke dinding mobil. Nisa menunduk, ia begitu takut dengan tatapan suaminya.


"Kini kamu tinggal memilih, mau kembali padaku atau bersama mantan suamimu!" Fadhil menekankan pada kata "mantan".


"Mas, kamu salah paham, aku nggak pernah bermaksud untuk menduakanmu, tidak pernah sama sekali."


"Salah paham apa? Jika aku salah paham, lalu kenapa yang memberi tahu kalau Zi di rawat di Rumah Sakit bukan kamu atau Zein tetapi kenapa harus dr. Richard?"


"Tatap aku Nisa! Aku ingin kamu jawab sejujurnya, kamu masih mencintai dia kan!"


"Nggak, aku sama sekali sudah tidak mencintai dia, aku hanya mencintaimu, Mas."


"Beginikah caramu mencintaiku? Dengan diam-diam menemuinya tanpa meminta ijin dariku!"


"Mas, dengarkan aku, aku sungguh sangat mencintaimu, dengarkan semua penjelasan dariku."


Fadhil memejamkan matanya. Lalu menghembuskan nafas kasarnya.


"Pulang sekarang, Aaron sangat membutuhkanmu, urusan Zi biar aku yang mengurusinya."


"Tunggu di sini, lima menit lagi supir dari rumah akan menjemputmu di sini."


Setelah mengatakan semuanya, Fadhil meninggalkan Nisa sendirian di tempat parkir Rumah Sakit. Nisa menatap nanar punggung suaminya itu, tetapi sepertinya kecemburuan darinya mengalahkan semua fakta yang terjadi.


Dalam perjalanan ke dalam, pikiran Fadhil terus membayangi langkahnya, "Maafkan aku Nisa, Sayang."


...🌹Bersambung🌹...