
Fadhil tertawa terbahak-bahak.
"Coba saja kalau berani ..." ancamnya kembali ia tujukan pada Nisa.
"Siapa bilang tidak berani, awas saja nanti." Ucap Nisa geram.
Pagi-pagi mood sudah bagus, tiba-tiba rusak gara-gara ketemu Fadhil. Tapi begitulah mereka, kadang bisa akur, kadang bisa bertingkah seperti anak-anak.
"Sudah-sudah ... pagi-pagi tidak baik bertengkar." Ucap Yoshua yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Yosh ..." ucap Fadhil dan Nisa berbarengan.
"Tu kan ... sebenarnya kalian itu kompak, cuma terkadang kalian satu sama lain tak menganggap hal itu, sudah yuk masuk kantor dulu," ajaknya pada Nisa dan Fadhil.
Tanpa sengaja Yoshua merangkul Fadhil dan Nisa. Sontak saja Fadhil menyikut perut Yosh.
"Haduh ... kakak ini kenapa lagi sih?"
"Jauhkan tanganmu dari Nisa!" bentak Fadhil pada Yo disertai pelototan tajam ke arahnya.
"Hah ...!" ia memang tak sadar telah merangkut Nisa.
Barulah ia tersadar telah merangkul Nisa dan kemudian meminta maaf.
"Maaf ya Kak Nisa, tadi aku tak sengaja melakukannya." Ucapnya tulus.
"Iya, ga apa-apa Yo, mari kita segera masuk." Ucap Nisa menengahi keduanya.
Dan ahirnya Fadhil pun menarik Nisa dan menggandeng tangannya memasuki lift di samping tempat parkir mobil. Lebih tepatnya lift itulah yang akan membawanya cepat sampai ke ruangan CEO di lantai paling atas di Perusahaan D'Corp ini.
Tentu saja di dalam lift sudah ada 3 orang di dalamnya, yaitu Fadhil, Nisa dan Yo. Di dalam lift sama sekali tak ada perbincangan diantara mereka.
Sampai ahirnya Yo mau angkat suara, tetapi keburu pintu lift terbuka. Dan Fadhil dan Nisa pun segera keluar dari lift menuju ruangan mereka masing-masing.
Meskipun Nisa tak bekerja disini, tetapi ada satu ruangan khusus untuknya jika ia berkunjung ke kantor Fadhil. Fadhil sendirilah yang mendesain ruangan Nisa, agar saat ia disini ia merasa nyaman. Lagi pula kalau tidak ada jadwal penting atau Zi sudah pulang sekolah, terkadang ruangan itu juga digunakan Zi.
Kedudukan Nisa dan Zi sudah seperti anggota keluarga Fadhil. Sebenarnya keinginan Fadhil hanya sederhana, segera menikahi Nisa dan bisa menjadi ayah sambung dari Zi. Tetapi sampai saat ini Nisa belum mau menerimanya.
Tok
Tok
Tok
"Pagi kak." Ucap Yo langsung masuk ke dalam ruangan Fadhil.
"Hmm ..."
"Kakak tak bertanya kapan aku pulang?" protes Yo saat ia merasa kedatangannya tak dirindukan.
"Selamat datang adikku, kapan kamu kembali ...?" tanya Fadhil dengan senyuman dipaksakan.
"Dih, senyumnya aja 'ga ikhlas gitu."
"Iya, iya, maaf salah sendiri tadi kamu menyentuh calon kakak iparmu."
"Ya ampun kak, cuma sedikit aja lo, lagian juga 'ga menyentuh kulitnya langsung." Protes Yo.
"Oke, oke, bagaimana masalah disana, sudah beres?"
"Alhamdulillah sudah kak, semua proyek yang aku tangani aku jamin akan selesai pada waktunya."
"Good, kamu memang adikku yang bisa aku banggakan."
"Terimakasih kak."
"Andai saja keluargaku ada yang sepertimu, pasti aku lebih bangga lagi." Ucapnya sembari tertunduk.
🍃FLASH BACK ON
Memang kesuksesan Fadhil tak pernah ada sangkut pautnya dengan keluarganya. Karena memang Fadhil memutuskan hijrah dan pergi ke kota ini sebagai wujud kekecewaannya karena ia tidak bisa memiliki Nisa.
Saat itu dia berada diatas ambang kekecewaan yang mendalam. Dia memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Nisa. Tetapi ternyata cinta untuk Nisa tak pernah terhapus begitu saja.
Semakin lama ia ingin melupakan, tetapi takdir benang rumit yang pernah ada diantara mereka membuat mereka bertemu kembali di kota ini. Bahkan disaat Fadhil memulai kembali merintis.
Saat ia bertemu Nisa, ia masih karyawan biasa, statusnya hanya assisten CEO. Kinerjanya yang bagus saat itu membuatnya cepat belajar dan cepat memahami dunia bisnis.
Sampai ahirnya ia menanam saham di perusahaan dan dari keuntungannya itulah ia bisa memiliki perusahaan D'Corp ini. Dan sampai ahirnya dengan kebaikan hatinya bertemulah ia dengan Yo yang kini menjadi adik angkatnya sekaligus assistennya.
Sedangkan dalam keluarga besar Fadhil tak pernah ada yang mendukung keputusannya. Hanya ayahnya saja yang selalu mensupportnya hingga saat ini.
Karena ibunya selalu menganggap adik Fadhil lebih menurut dan lebih disayang tentunya ketimbang Fadhil yang notabene anak pertama. Setiap keinginan adiknya selalu dituruti dan diusahakan oleh ibunya.
Sedangkan keinginan Fadhil selalu ditentang oleh ibunya. Fadhil dianggap anak yang tidak pernah menurut nasihat orangtuanya. Bahkan keinginan ibunya untuk melihat Fadhil menikah saja belum bisa dipenuhi olehnya.
Meskipun setiap Hari Raya ia selalu pulang dan berkumpul dengan keluarga besarnya, tetapi jarak diantara ibu dan anak tetap kentara. Itulah alasan kenapa sampai saat ini tidak ada bagian dari keluarganya yang bekerja di perusahaan D'Corp.
🍃 FLASH BACK OFF
Yo melambai-lambaikan tangannya ke arah Fadhil, tetapi tak ada respon darinya.
"Ka-kak, woi ...!"
"A-ah iya ..." Ucap Fadhil sembari memandang ke arah Yo.
"Kakak sedang memikirkan apa? bukankah kemarin kakak habis liburan dengan kak Nisa dan Zi, kenapa murung?"
"Bukan karena mereka."
Fadhil pun berdiri dan menuju jendela disebelah kursi kerjanya. Pandangannya lepas memandang cakrawala pagi itu.
"Kakak, masih ada aku disini, janganlah merasa kesepian, aku yakin sebentar lagi Kak Nisa pasti akan menerimamu."
Yo pun mendekati kakaknya dan berdiri di sampingnya dan ikut melihat apa yang dipandang Fadhil.
"Maafkan aku Yo, terkadang aku lemah disisi ini."
"Aku paham kak, dulu sebelum aku bertemu denganmu, aku juga bukan siapa-siapa."
"Dan hanya kakaklah yang menganggap aku bagian dari keluargamu, sejak saat itu, kau sudah aku anggap keluargaku kak, janganlah bersedih."
Yo pun menepuk-nepuk punggung Fadhil, agar ia bisa menyalurkan ketenangan pada kakak angkatnya tersebut.
"Terimakasih Yo."
"Sama-sama kak."
Dan dari arah pintu, terdengarlah pintu ruangan Fadhil terbuka. Siapa lagi kalau bukan Sheril pelakunya.
"Pagi kakak ..." ucapnya dari arah pintu.
Fadhil dan Yo pun menoleh ke belakang.
"Ya ampun, uler keket datang." Ucap Yo sambil menepuk jidatnya.
"Kalau masuk ruangan orang lain sebaiknya kamu mengucap salam terlebih dahulu, bukan say "Hai ..." ucap Fadhil.
"Tumben Kak Fadhil marah padaku, biasanya juga enggak." Batin Sheril pada dirinya sendiri.
"Ma-af kak, lain kali tidak akan aku ulangi kembali."
"Sokor kena omel kan." Cibir Yo untuk Sheril.
"D-diam kau bebek sawah."
"Sudah ... sudah ... kalian ini .....
~Bersambung~
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...