
"Pagi Fajar, apakabar?"
"Alhamdulillah sudah mendingan dokter, udah berada agak enakan."
"Alhamdulillah kalau begitu, kita lanjutkan obrolan semalam bisa?"
"Bisa dokter, silahkan."
Lalu mereka berdua mulai melakukan obrolan seperti semalam, Richard memang menggunakan metode yang berbeda untuk mengembalikan ingatan Zein. Ia lebih banyak sebagai pendengar ataupun sekedar tempat curhat tetapi setidaknya sedikit banyak mereka lebih dekat dari sebelumya.
Ditengah obrolannya itu, ia juga menceritakan kehidupan Nisa dan Zein, dari awal pertemuan sampai perjuangan cinta mereka hingga ahirnya mereka mempunyai seorang putra bernama Zi.
Terkadang Fajar menyimak secara serius semua cerita dari dokter Richard. Terkadang secara spontan ia juga menanggapi semua pertanyaan yang diutarakan dokter Richard ditengah ceritanya. Hal itu secara tidak langsung membangun otaknya untuk kembali mengingat sebagian memorinya yang telah hilang.
Tak terasa obrolan mereka sudah berlangsung cukup lama, lalu dokter Richard segera permisi untuk melanjutkan tugasnya. Baru setelah itu Mang Dede masuk ke ruang rawat Fajar.
Sebelumnya mereka pun sudah saling memberitahu kalau dokter Richard melakukan pengobatan dengan cara seperti ini, dan Mang Dede sudah menyetujuinya.
Ceklek
"Pagi Tuan?"
"Eh Mang Dede, silahkan masuk," Ucap Fajar ramah.
"Terimakasih Tuan."
"Jangan panggil tuan lagi dong, kan Mang Dede sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri."
"Terimakasih Tuan untuk kepercayaannya, semoga saya bisa mengabdi sampai ahir hayat saya pada Tuan."
"Mang Dede bicara apa?"
"Bicara kejujuran Tuan."
"Tapi tidak perlu berkata seperti itu."
"Ta-tapi Tuan, saya tidak enak."
"Jangan berkata seperti itu Tuan."
"Sudahlah, yang penting kita nyaman."
.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Nisa...
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal kerja?"
"Gak apa-apa mas, kan udah tanggung jawab Mas buat handle pekerjaan kantor, aku ikut aja."
"Ingat pesan mas, jangan kecapekan dan jangan banyak pikiran, kasihan Aaron kalau kamu banyak pikiran, nanti stok ASI menjadi sedikit nanti aku yang repot."
"Loh kok jadi mas yang repot?" tanya Nisa keheranan.
"Ya kan iya sayang, aku jadi harus beliin stok susu Formula buat Aaron, apa kamu rela dia minum susu gituan?"
"Gak, gak ada mas, pokoknya Aaron harus dapat ASI eksklusif dariku."
Fadhil membelai lembut rambut istrinya, "Makanya kamu harus dengerin pesan mas tadi, oke."
"Oke mas, mas tenang aja."
Lalu Fadhil segera berpamitan pada istrinya untyj kembali bekerja. Bagaimana pun sudah hampir satu minggu ia cuti kantor demi mempersiapkan acara buat Aaron kemarin.
Nisa juga sangat bersyukur bisa menjadi istri Fadhil. Semua perhatian dan cinta tulusnya membuatnya bertekuk lutut oleh karenanya.
Dulu ia menutup rapat hatinya sejak kepergian suaminya Zein, tetapi karena ia tidak enak pada Fadhil yang sudah suka rela menunggunya sampai beberapa tahun lamanya ahirnya ia pun menyambut uluran tangannya dan menerima dirinya sebagai suami dan calon imamnya.
"Assalamu'alaikum, mas pergi dulu."
Tak lupa Fadhil mengecup pucuk kepala Nisa sebelum berangkat kerja.
Setelah cukup lama berpamitan pada istrinya, Fadhil segera meninggalkan rumahnya untuk menuju ke kantor.
Tiga puluh menit kemudian ia telah sampai di perusahaan tempat ia bekerja. Kebetulan hari ini ia ada janji dengan perusahaan Pak Charless.
"Pagi Pak."
"Pagi ..."
"Permisi Pak, urusan dari Pak Charles sudah datang, bolehkah ia masuk?" tanya sekretaris itu hati-hati.
"Iya, persilahkan ia masuk."
"Baik Pak, saya permisi."
Beberapa menit kemudian sekretaris datang dan membawa utusan dari perusahaan Tuan Charles. Sesosok wanita bertubuh seksi datang ke ruangan Fadhil.
"Selamat pagi Pak, ini Nona Zivanna Putri Tuan Charles."
Fadhil berdiri dan menyambut kedatangan kolega bisnisnya pagi itu.
Mereka ahirnya berbincang-bintang tentang kerjasama bisnis yang akan mereka jalin sebentar lagi. Karena waktu yang digunakan cukup lama, dan sudah selesai, Zivanna ahirnya undur diri.
"Baiklah Nona, Anda bisa meninggalkan berkas-berkas disini dan berikan waktu saya untuk mempelajarinya."
"Baik terimakasih Pak untuk waktunya."
"Sama-sama."
Lalu Zivanna segera meninggalkan ruangan Fadhil untuk kembali ke kantornya. Mulai saat ini ia memang sudah ditugaskan untuk menggantikan posisi ayahnya. Ia sudah cukup bermain di luar sana. Kini usianya juga sudah tidak muda, permintaan ayahnya beberapa hari lalu sempat membuatnya pusing.
Baginya usia dua puluh tujuh tahun masih muda untuknya, tetapi desakan ayahnya yang menyuruhnya untuk segera menikah seketika membuatnya pening.
Sempat terlintas ia ingin mengikuti sebuah program mencari jodoh, tetapi ia cukup gengsi untuk melakukan hal itu.
"Yah, kenapa permintaanmu seketika membuat pusing, memangnya kenapa harus segera menikah, bukankah menikah itu butuh perjalanan panjang sebelum ahirnya memutuskan untuk menikah."
Zivanna sesekali memukul-mukul stir kemudinya yang tidak bersalah, tetapi sindiran pemuda di samping mobilnya membuatnya tersentak.
"Maaf Nona, sebaiknya jika Anda kesal, luapkan saja pada dengan jalan-jalan atau shopping, jangan mukulin stir kemudi, ia kan tidak bersalah," ucap pemuda itu dengan santainya.
Zivanna sempat menoleh pada pengendara di sampingnya. Sepertinya menarik sekali jika bisa berkencan dengannya, pikirnya.
"Hmm, terimakasih Tuan untuk sarannya."
Karena lampu merah sudah berganti dengan warna hijau, maka kedua mobil itu sudah berpisah menuju tujuan masing-masing.
Tak disangka Yo sudah kembali dari perjalanan bisnisnya dari luar negeri. Sebelum berangkat ke kantor ia memang menuju apartement-nya terlebih dahulu. Kebetulan tadi di lampu merah ia bertemu dengan seorang gadis yang sedang memukul stir kemudi, sehingga memberinya hiburan di siang itu.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Nisa...
Oek ... oek ...
Suara Aaron menggema di lantai bawah, membuat Nisa berlari kecil agar cepat sampai di kamar Aaron.
"Nyonya, tuan muda lapar."
"Iya Bik, sini biar saya yang menyusuinya, Bibik bisa bantu Mbok di dapur saja."
Setelah menyerahkan Aaron pada majikannya ia pun permisi ke dapur.
"Sayang lapar ya, sini sayang mik dulu ..."
Sambil menimang-nimang Aaron, ia pun menyusuinya. Sejak lahir memang Aaron belum pernah tersentuh oleh susu formula, jadi hanya ASI dari ibunya-lah yang selama ini menjadi sumber nutrisi untuknya.
Benar saja, baru sebentar diberi ASI, Aaron sudah terlelap kembali. Suasana seperti ini memang dinantikan Nisa sejak dulu. Impiannya setelah menikah adalah menjadi ibu rumah tangga sederhana, dan kini berkat ijin dan restu suaminya kini ia bisa fokus menjaga Aaron tanpa terbebani dengan urusan kantor.
.
.