After Married

After Married
ULER KEKET VS BEBEK SAWAH



Terlebih lagi Zi kecil juga sangat menempel padanya. Ia tak keberatan jika nanti ia mendapatkan seorang istri plus dapat bonus anak laki-laki yang tampan. Meskipun itu bukan darah dagingnya sendiri, ia akan menyayangi Zi seperti anak kandungnya sendiri.


πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ~πŸƒ


Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.


Kedekatan Nisa dan Fadhil sama sekali tak ada kemajuan untuk hal cinta. Tapi dalam dunia bisnis kerja sama mereka patut diacungi jempol. Fadhil dan Nisa sama-sama mengelola perusahaan mereka dengan sangat baik.


Nisa semakin fokus dalam bisnisnya begitu pula dengan Fadhil. Jika Nisa tak ada yang berani mendekatinya, justru sebaliknya Fadhil banyak sekali didekati wanita, tentu saja bukan karena keinginannya, tetapi ia telah dijodohkan oleh para kolega bisnisnya.


Meskipun pada ahirnya tidak ada yang direspon oleh Fadhil. Tapi tetap saja ada satu wanita yang tidak pernah mundur dalam hal mendekati Fadhil.


Dialah Sheril, mahasiswa jurusan sekretaris yang selalu menempel pada Fadhil. Jika tidak ada jadwal kuliah, ia akan suka rela main ke kantor Fadhil.


Dia adalah salah satu anak kolega bisnis Fadhil yang pernah berkenalan dalam sebuah pesta ulang tahun. Lebih tepatnya ulang tahun ayah Sheril.


Di haru ulang tahun ayahnya, kebetulan Fadhil dan Yo sama-sama hadir untuk memenuhi undangan tersebut. Kebetulan ia bertemu Fadhil saat ayahnya memperkenalkan mereka satu sama lain.


Dari situ muncullah rasa ketertarikan Sheril pada Fadhil. Siapa yang tidak tertarik dengan seorang CEO muda. Apalagi karisma dan auranya sangat menonjol dibanding lainnya.


Seorang CEO paling muda, dan tepatnya ia juga belum menikah, ketampanan dan kesuksesannya mampu memikat semua wanita dari setiap golongan.


Sebenarnya Fadhil tak risih dengan kelakuan Sheril, tetapi lain ceritanya dengan assisten Yo. Dia sangat risih dengan kelakuan Sheril yang selalu datang ke kantor tanpa adanya pemberitahuan terlebih dulu.


Ia sudah menganggap kantor Fadhil sama seperti kantor ayahnya yang setiap waktu bisa ia datangi sesuka hati.


Siang itu ....


"Kak, bisakah kau sedikit keras pada Sheril?"


"Memang kenapa dia?" jawab Fadhil tanpa memindahkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia teliti sambil membolak-bbalikn dokumen di depannya.


Dari sekian banyak pertanyaan yang ia lontarkan pada Fadhil hanya beberapa hal saja yang ia jawab, selebihnya hanya hmm ... saja. Sampai ia pun memiliki satu ide, agar kakaknya tersebut menanggapi pertanyaan darinya dengan serius.


"Apa kakak sudah menyerah untuk mengejar kak Nisa?"


"Maksudmu?" jawabnya sambil memandang Yo dan menghentikan kegiatannya.


"Berhasil," gumam Yo.


Kalau berbicara tentang Nisa dan Zi, Fadhil akan merespon dengan serius, lain halnya saat membahas orang lain.


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar beberapa keributan kecil. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Sheril.


"Pagi Kak Fadhil, aku membawakanmu makan siang kak." Ucapnya senang saat memasuki ruangan kerja Fadhil.


Sheril tak menyangka ada assisten Yo yang juga berada dalam ruangan yang sama dengan Fadhil.


"Eh ada ulet keket datang," sindir Yo pada Sheril sambil bersedekap.


Sheril yang tahu akan sindiran Yo pun membalas ucapanya, "Iri bilang dong, dih kasihan, jaman sekarang masih 'ga ada yang merhatiin, sana cari pacar, biar ada yang merhatiin."


"Diem kau ulat bulu!" bentak Yo.


"Dasar bebek sawah, pantes aja 'ga laku, orang galak!" balas Sheril tak kalah pedas.


Fadhil yang mendengar perdebatan mereka, hanya mengacuhkannya tanpa mau melerainya. Toh tidak ada gunanya juga. Biarkan saja mereka melepas kerinduan satu sama lain, batin Fadhil.


Baginya saat ini pekerjaan adalah hal utama, karena sebentar lagi ia ada janji untuk menjemput Zi di sekolahnya.


"Sudah selesai berdebatnya? kalau belum silahkan dilanjutkan, aku pergi dulu," ucap Fadhil tatkala ia sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mulai beranjak pergi.


"Loh, Kak Fadhil mau kemana? tanya Sheril yang tiba-tiba sadar maksud dan tujuannya datang ke kantor Fadhil.


"Maaf Sheril, siang ini aku ada janji dengan anakku, jadi maaf, dan terimakasih makan siangnya."


"Lah, ga bisa begitu kak, aku sudah memasakkan makanan spesial untuk kakak, masa ga dimakan sih?" tanyanya mulai panik dan sewot.


"Maaf aku buru-buru, lain kali saja ya, Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Oh ya, Yo, makanan ini buatmu saja ya, jangan lupa berterimakasih pada Sheril." Ucap Fadhil sembari memberikan kotak makanan pada Yo.


"Terimakasih kak, pergilah, biar aku urus uler keket ini." Ucapnya senang sambil tersenyum smirk ke arah Sheril.


"Lah, kok gitu ... siniin makanannya," ucap Sheril sewot sambil menarik kotak makanannya.


"Kembalikan ... ih ..."


Dan terjadilah aksi rebut merebut antara Yo dan Sheril, sampai ahirnya Sheril terpeleset dan malah jatuh diatas tubuh Yo. Tentu saja Yo sangat sigap atas apa yang terjadi, tapi ia membiarkan Sheril tetap berada diatas tubuhnya.


Sepatu Sheril yang berhak tinggi membuatnya kesulitan menyeimbangkan tubuhnya saat merebut kotak makanan tadi, sehingga membuatnya terjatuh dalam dekapan Yo.


Sempat terjadi adu pandang satu sama lain, sampai ahirnya kontak mata mereka terputus karena Sheril tersadar akan hal yang terjadi barusan.


"Ih, lepas, kamu ngapain aku, mau cari untung ya!" Ucap Sheril mulai sewot.


Sebenarnya ia sempat terpana akan ketampanan Yo, tapi semua kecanggungannya ia alihkan agar ia tak terlalu kentara dalam mengagumi ketampanan Yo.



Visual Han Sheril



Visual Kim Yosua alias assisten Yo.


"Makanya kalau mau ribut jangan sama gue," ucap Yo sambil merapikan jasnya yang sempat berantakan akibat kejadian barusan.


"A-awas saja kau ...." ucap Sheril kikuk.


Sheril yang sudah merapikan bajunya sudah mulai melangkahkan kaki meninggalkan Yo yang masih senyum-senyum sendiri.


"Dasar assisten sinting, bisa-bisanya Kak Fadhil mempekerjakannya di kantor ini."


"Kalau dia bekerja di kantor ayah, sudah pasti dipecat duluan sama ayah."


Dan begitulah kira-kira omelan Han Sheril sepanjang perjalanan menuju tempat parkir mobil.


Saat di lobby kantor ia sempat berpapasan dengan Nisa.


"Wah siapa wanita cantik itu?" tanya Sheril dalam hatinya.


"Sangat cantik dan berkarisma pula seperti kak Fadhil. Huaaa ... aku juga pengen kayak gitu." Ucapnya dalam hati.


Nisa pun sudah sampai di lantai ruangan CEO. Ia pun berpapasan dengan assisten Yo.


"Siang kak, mau cari Kak Fadhil kah?"


"Eh iya Yo, kita tadi barengan mau jemput Zi di sekolahnya."


"Baru saja Kak Fadhil keluar kantor, mungkin dia terburu-buru, jadi lupa mengabari kakak."


"Oh ya, kalau begitu aku langsung saja menyusulnya."


"Hati-hati kak."


"Siap, makasih Yo, oh ya, sebaiknya kamu hapus lipstik yang menempel di kerahmu dulu sebelum kamu pergi."


"Hah ..." ucapnya panik.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAKπŸ™πŸ˜Š...