After Married

After Married
BE A GOOD BOY



“Bagaimana ini Pak, mantan suami Nisa sudah kembali.”


 


“Ya mau gimana lagi Bu, mungkin sudah takdirnya begitu.”


 


“La trus, gimana nasib anak kita?”


 


“Ya gak gimana-gimana Bu, nyatanya mereka tetap adem ayem bukan?”


 


“Iya, semoga saja mereka tetap rukun.”


 


“Tapi kenapa ibu bisa yakin kalau itu Zein?”


 


“Lawong keliatan gitu Pak, dari cara bersikap ataupun gaya bicaranya sama. Mungkin saat ini ia hilang ingatan, tetapi suatu saat ia akan ingat semuanya.”


 


“Ya semoga saja saat ia ingat, ia sudah ikhlas.”


 


“Aamiin.”


 


Begitulah obrolan yang terjadi ketika kedua orangtua membahas tentang kehidupan rumah tangga anak-anak mereka. Bagaimanapun anak-anak, meskipun mereka sudah dewasa, tetap saja menjadi anak-anak dimata orangtuanya. Bahkan kebahagiaan mereka seolah menjadi prioritas mereka juga.


 


“Sudah Bu, jangan banyak pikiran, nanti darah tingginya naik, Bapak yang repot.”


 


“Iya-iya Pak, bawel amat.”


 


.


.


 


...⚜⚜⚜...


...Sekolah Zi...


 


“Hai Zi, apakabar, maaf ya kemarin saat aqiqah adik kamu aku gak bisa datang.”


 


“Iya, gak apa-apa kok, santai saja.”


 


“Ya sudah, aku pulang duluan ya.”


 


“Oke, hati-hati.”


 


“Terimakasih.”


 


Entah sejak kapan, mereka berdua sudah akur tidak seperti sebelumnya. Sharen dan Zi sebelum ini mereka jarang akur, terlebih sikap Zi yang sangat dingin pada wanita, terkadang membuatnya seolah menjadi anak yang sombong.


Di hati Sharen masih ada sesuatu yang mengganjal, maka ia pun berbalik arah dan kembali mendekati Zi.


"Bagaimana kalau kita pulang bareng?" ajak Sharen ketika melihat Zi masih berada di ruang tunggu penjemputan.


"Tidak, terimakasih, sebentar lagi sopir pasti akan datang."


"Oke kalau begitu aku permisi pulang dulu ya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati."


Tanpa ragu Sharen melambaikan tangannya pada Zi, dan untungnya Zi tersenyum ke arahnya sembari membalas lambaian tangannya. Kini mobil Sharen sudah menjauh dari sekolahnya meninggalkan Zi yang masih duduk di bangku ruang tunggu.


...🍃🍃🍃...


...Di dalam mobil...


Perasaan hangat itu masih menjalar di dalam dadanya. Entah kenapa bukannya menghilang, rasa itu sungguh semakin dalam tumbuh subur di dalam sana.


"Alhamdulillah, ahirnya kamu tidak sedingin dulu Zi," batin Sharen.


Sopir yang menjemput Sharen sesekali memperhatikan nona mudanya dari kaca spion. Ia juga turut bahagia atas perubahan yang dilakukan oleh Zi terhadap nona mudanya. Terlebih ahir-ahir ini senyuman itu selalu terbit di wajah kecil nona mudanya.


Bagaimanapun ia telah saksi bisu perjalanan panjang masa-masa sekolah nona mudanya. Bahkan tak sedikit ia yang berusaha menghibur nona mudanya tersebut agar lebih bersabar menghadapi teman-teman sekolahnya ketika ia sedang bersedih


Meskipun Sharen masih kecil, sesungguhnya sikapnya sudah lebih dewasa ketimbang anak seusianya. Ia memang dimanja oleh kedua orangtuanya, tetapi ia tumbuh dengan baik bersama pengasuh dan para pelayan.


Bukan tanpa alasan hal itu bisa terjadi, tentu saja karena kedua orangtuanya sibuk melakukan perjalanan bisnis untuk menjamin masa depan Sharen. Tak dapat dipungkiri, mereka memang gila uang, harta dan kedudukan, sampai ahirnya kasih sayang untuk putri satu-satunya itu harus terbagi dengan pekerjaan.


Meski begitu, beruntungnya Sharen tumbuh di lingkungan yang tepat. Kasih sayang dari orang-orang terdekatnya sekaligus dari para pelayan membuatnya tidak kekurangan kasih sayang. Tetapi yang namanya hati, tidak dapat ditipu. Sebanyak apapun kasih sayang orang lain, tidak akan lebih besar dari pada kasih sayang orang tua kita sendiri.


Ia memang menunjukkan sikap lain saat bersama-sama teman-temannya atau saat bersama orang tuanya. Tetapi saat sendiri atau di dalam mobil seperti ini ia akan menjadi dirinya sendiri.


"Pak Sur, terimakasih sudah memberikan saran-saran yang baik untuk saya selama ini."


"Sama-sama non, yang penting nona konsisten menunjukkan sikap yang seperti ini, pasti tuan muda Zi akan lebih dekat dengan nona."


"Iya, terimakasih banyak."


"Sama-sama nona."


Mata kecil itu terus memandangi jalanan dengan penuh senyuman. Kini ia amat bahagia karena ahirnya ia memiliki teman di sekolah.


.


.


...🍃🍃🍃...


...Sementara itu di sekolah....


"Siang Tuan Muda," ucap sopir yang menjemput Zi siang itu.


"Hmm."


"Mari saya bawakan tas sekolahnya tuan."


"Tidak usah terimakasih."


Tanpa memandang sopirnya yang datang terlambat ia melajukan jalannya menuju mobilnya yang terparkir di depan sekolah. Entah kenapa ia begitu geram untuk seseorang yang tidak disiplin.


Baginya waktu adalah hal terpenting. Karena menghargai waktu sama saja menghargai diri kita sendiri. Semua yang kita lakukan haruslah tertata rapi dan berjalan sesuai jadwal.


Zi kecil memang tumbuh berbeda. Dari kecil ia memang sudah terlihat berbeda. Oleh karena itu ia pun bersekolah di tempat yang sangat bagus, pilihan kedua orangtuanya.


.


.


Saat perjalanan menuju mobilnya, Zi tetap menunjukkan keramahannya pada semua orang, kecuali pada sopirnya sendiri.


Tak lupa ia memberi salam pada satpam sekolah yang masih asyik menjaga sekolah dari pos tempat ia bekerja.


Setelah itu, barulah ia masuk ke dalam mobil, kemudi pun ahirnya di gerakkan menjauhi sekolahnya untuk menuju rumah. Tanpa ada percakapan yang berarti mobil itu segera melaju kencang membelah jalanan ibu kota siang itu.


Matahari semakin menunjukkan kegagahannya. Cuaca siang itu begitu terik, terlihat dari langit yang sebiru lautan tampak membentang di atas sana tanpa adanya sedikitpun awan putih yang menemaninya.


Tiga puluh menit kemudian ahirnya ia sampai di rumahnya. Dengan segera Zi segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Zi ketika pertama kali memasuki rumahnya.


"Wa'alaikumsalam sayang, sudah pulang?" sambut Nisa sembari memeluk putra pertamanya itu.


"Alhamdulillah sudah Moms, oh ya adek Aaron mana?"


"Adek sedang bubuk sayang, maklum dia kan masih beberapa hari jadi masih lebih banyak waktu untuk istirahat ketimbang terjaga."


"Oke Moms, kalau begitu aku boleh dong bermanja dengan Mommy."


"Oh tentu boleh sayang."


Lalu sepasang ibu dan anak tersebut segera menuju kamar Zi untuk membantunya memilih baju rumah lalu makan siang bersama. Saat ini Nisa sedikit bernafas lega karena ia bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.


Fadhil benar-benar memenuhi janjinya sebagai suaminya. Ia tidak pernah memaksakan keinginannya ataupun mengekang Nisa. Hanya satu pintanya yang kadang membuat hati Nisa tersentuh. Satu keinginan Fadhil adalah bersama Nisa sampai nanti.


Ia juga berjanji kalau ia tidak akan pernah meninggalkan Nisa sendirian ataupun terluka. Hal itu juga berlaku untuk Zi, Aaron dan terutama untuk Nisa. Fadhil benar-benar mencurahkan kasih sayangnya untuk mereka melebihi rasa cintanya pada dirinya sendiri.


Semoga saja kehidupan pernikahan mereka menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Aamiin.