
Semua persiapan telah selesai dilakukan, kini ia pun bersiap untuk menyambut kedatangan Alexa bersama keluarganya.
Sejak lima menit lalu ia sudah mondar mandir di lobby hotel, ia memang sengaja menunggu calon istrinya itu disana karena ia tidak mau terlalu kelihatan tegang di depan calon mertuanya.
"Hmm, kenapa lebih menegangkan ketimbang mau meeting sih."
"Tenang-tenang Yo, semua akan baik-baik saja," ucapnya terus memberikan minset yang positif pada dirinya.
Beruntung saat Alexa tiba, ia sudah berhenti mondar-mandir tidak seperti strikaan tadi.
"Hai sayang," sapa Alexa ramah.
"Hai ... sudah siap?" tanya Yo kemudian.
"Sudah, ayo kita berangkat."
Ahirnya setelah lima belas menit menunggu, mereka bersama-sama berangkat menuju kediaman Nisa.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Nisa...
Suasana rumah itu sudah terlihat agak ramai. Dari dua hari lalu, segala persiapan sudah dilakukan disana. Banyak hal yang dilakukan para penghuni rumah itu untuk menyambut calon keluarga baru mereka.
Dokter Richard dan Zein juga ikut serta dalam acara itu. Untungnya Aaron tidak rewel meskipun di rumahnya terjadi keramaian seperti itu. Rumah mereka juga ikut ramai ketika dokter Richard membawa putri kecil mereka Aluna yang berusia dua tahun.
Balita berusia dua tahun itu tampak bahagia ketika bersama Zi. Maklum saja orangtua mereka bersahabat satu sama lain sejak mereka belum ada, hingga anak-anaknya pun sudah bersahabat sejak dalam kandungan.
Aaron tampak anteng ketika ia berada di dalam stroller. Sedangkan Zi dan Aluna bermain di dekatnya. Tetapi mereka tetap dalam pengawasan pengasuh Zi yang kini berpindah tugas mengasuh Aaron.
Malam itu semuanya sudah siap menunggu calon anggota keluarga baru Fadhil. Berbagai makanan sudah siap di meja. Aneka kue dan camilan juga berada disana.
Karena jam belum terlalu malam, anak-anak masih sibuk bermain. Sedangkan untuk menyambut mereka, para orangtua muda itu saling berbincang di ruang tengah.
"Kamu aja lah, katanya mau cetak Richard junior sebanyak kesebelasan, ini kan baru satu."
"Haduh enggak dulu deh, Aluna masih kecil," ucap istri Richard.
"Mas juga, tanyanya gak boleh begitu."
"Loh aku kan mengulang perkataannya aja, enggak ada maksud apa-apa juga."
"Nah itu liat, si Aluna aja seneng banget ketika disuruh jagain Aaron."
Ahirnya semua mata tertuju pada anak-anak di area tempat bermain.
"Ya juga ya mas?"
"Eh gak gitu juga kali."
"Kalau aku tentu saja gak mau bebani istri dengan keinginan konyol seperti itu, lagi pula dua putra sudah cukup bagiku."
"Enggak-enggak bisa, Zi anak gue."
Zein pun jadi ikut-ikutan membahas anak. Meski ia tau saat ini ia tidak mempunyai pasangan, tetapi setidaknya ia sudah memiliki seorang putra.
"Uhukkk, kena semprot ayah biologisnya kan?" kelakar dokter Richard.
"Hmm, iya maaf Zein, aku gak bermaksud buat ngambil Zi dari kamu."
"Sudah-sudah, bahas apa sih, udah Zi anak kita semua, begitu pula dengan Aluna juga bagian dari keluarga besar kita," ucap Nisa menengahi.
"Baik ibunda ratu."
"Ha ha ha ...."
Semua orang yang berada di ruang tengah itu tertawa bersama-sama. Mereka tidak menyangka persahabatan mereka bisa langgeng sampai saat ini. Tetapi intinya, apapun perbedaan pendapat diantara mereka tidak akan pernah bisa memutus tali persaudaraan ataupun ikatan keluarga diantara mereka.