
"Ha ha ha, sabar mas itu juga gak bakal lama kok, cuma di trisemester pertama aja kok, jadi setelah itu kita bisa deketan lagi."
"Sampai segitunya yah... astaghfirullah dedek.. gitu amat sama ayah..."
Rengek Fadhil yang sudah seperti anak kecil malah membuat Nisa tertawa sekaligus terhibur. Nisa tau Fadhil sangat mencintainya dan juga calon anaknya tetapi mau bagaimana lagi, sekarang sudah ada calon baby di dalam perutnya, yang kadang keinginannya pun kita tak tau dengan pasti.
Namanya orang mengidam pasti bawaannya pun berbeda satu sama lain. Tetapi selama itu tidak membahayakan ibu dan calon baby, semua itu masih dalam tahap batas aman.
Beruntungnya ini merupakan kehamilan Nisa yang kedua jadi sedikit banyak ia sudah lebih berpengalaman. Tetapi bagi suaminya ini adalah hal yang luar biasa dan menjadi pengalaman pertama baginya.
Terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah Fadhil. Tapi itu juga membuat Nisa bahagia. "I love you Fadhil," ucap Nisa dalam hatinya.
"Oh ya mas, Zi mana? apa sudah di jemput?"
"Oh iya, ia udah pulang, tadi ia kesini cariin kamu trus karena melihat kamu sedang istirahat ia permisi mau mengerjakan PR-nya."
"Ya sudah kalau begitu, nanti biar aku ke kamar Zi."
"Mas udah makan? kalau belum ayuk makan bareng." Ajak Nisa seperti biasanya.
"Oke."
Fadhil pun menggandeng Nisa untuk pergi menuju ruang makan. Beruntungnya tadi Fadhil sudah menyuruh Mbok Ijah untuk memanasi sayur yang sudah dimasak Nisa tadi pagi. Tapi sebelum Nisa ke ruang makan, ia mampir sebentar ke kamar Zi.
"Mas aku ke kamar Zi sebentar ya, bentar aja kok," Ucapnya sembari memberikan kerlingan mata pada Fadhil.
"Iya sayang."
Lalu Fadhil menuju ruang makan sendiri, sedangkan Nisa sudah di depan kamar Zi.
Tok
Tok
Tok
"Zi sayang, ini Mommy."
Zi yang mendengar suara Momnya memanggil segera berlari dan membuka pintu kamarnya. Ia pun berhambur dan memeluk tubuh Mommynya serta menghadiahi ciuman bertubi-tubi ke Momnya.
"Mommy ...."
"Iya sayang," jawab Nisa sambil mengelus puncak kepala Zi.
"Kangen..." ucapnya manja.
"Iya Mommy juga kangen Zi loh, kok tadi Zi enggak bangunin mommy sih?"
"Kata Daddy biarin Moms istirahat aja."
Zi memandangi Mommynya dengan aneh," Kenapa Moms pakai masker? emang Zi bau ya Moms?"
Nisa menahan tawanya, "Bukan sayang bukan kamu, tetapi hidung Moms lagi bermasalah jadi biar gak mual-mual sama dokter disuruh pakai ini."
"Owh..."
Zi masih memandangi tubuh Mommynya dari atas sampai bawah.
"Kata Daddy Moms hamil? benarkah ?"
Nisa kaget tapi ia berusaha menetralkan kembali raut wajahnya dan mencoba memberi pengertian pada anaknya itu.
"Sayang, meskipun nanti kamu mempunyai adik baru, kasih sayang Moms enggak akan berubah sama sekali, malah akan semakin bertambah."
"Kok bisa sih Moms?"
Nisa pun berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan sang putra. Sambil membelai tubuh anaknya ia mulai memberi pengertian.
"Sayang, setiap manusia tidak bisa hidup sendiri bukan?"
"Iya..."
"Maka dari itu Allah menitipkan satu teman baru lagi untuk Zi, sebagai teman bermain, teman berbagi suka dan duka dan ia akan selalu ada untuk membela Zi suatu saat nanti."
Zi mulai mencerna satu persatu perkataan Momsnya. Hatinya mulai terbuka dengan sendirinya.
Nisa tersenyum, " Moms tidak mempunyai adik, tetapi mempunyai kakak laki-laki yang selalu melindungi Moms sebelum ada ayah kamu."
"Oh ya? kenapa ia tidak melindungi Moms lagi sekarang?"
"Karena sudah ada Daddy kamu sayang."
"Jadi jika sudah menikah nanti kita akan memiliki pasangan hidup sendiri-sendiri pada ahirnya nanti dan orang itulah yang akan menjaga kita ataupun sebaliknya Zi yang akan menjaga istri Zi kelak."
"Jadi Zi mau kan jagain calon adik Zi dan Moms bersama ayah mulai saat ini?"
Zi mengangguk dan memeluk ibunya itu, "Zi janji bakal jagain semuanya, love you Moms."
"Love you sayang, ya udah makan siang dulu yuk sayang," ajak Nisa lalu menggandeng tangan anaknya menuju ruang makan.
Disana sudah ada Fadhil dan Mbok Iyem yang masih sibuk menata makanan diatas meja.
"Hai boy ..."
"Hai Daddy ..."
"Sini sayang duduk deketan sama Daddy," ajak Fadhil pada putranya.
Lalu Zi pun duduk disebelah Daddynya dan juga Mommynya. Mereka pun makan siang dengan bahagia siang itu. Karena tidak biasanya mereka bisa makan siang bersama-sama.
Tetapi baru beberapa suap, perut Nisa serasa diaduk-aduk kembali. Akibatnya ia pun berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga.
Beruntungnya saat itu di dekat kamar mandi masih ada Mbok Ijah di sana, jadi beliaulah yang membantu memijit Nisa. Zi memandang aneh pada Daddynya. Fadhil yang tau akan maksud putranya pun mendekati sang putra.
"Daddy bukan enggak mau bantuin Moms, tapi kalau Daddy deket sama Mommy bisa-bisa nanti Moms tambah muntah-muntah."
"Hah, kok bisa Dad?"
"Itu bawaan calon adek kamu sayang, tanya aja sama Moms, Daddy aja sampai sekarang masih bingung," ucapnya sambil tertunduk.
Memang tak bisa dipungkiri, ini adalah pengalaman pertama Fadhil melihat kebiasaan orang hamil. Jadi apapun yang ia lihat masih berasa aneh dan kurang masuk akal. Tetapi saat ini ia yang mengalaminya sendiri, jadi mau tak mau ia pun berada disituasi yang membingungkan baginya.
Setelah Nisa merasa baikan, Mbok Ijah memberinya segelas teh hangat. Agar perut Nisa tidak terlalu kosong. Kasihan kalau hal itu berlangsung lama, bisa-bisa calon baby mereka tak akan mendapat asupan gizi yang cukup dari ibunya.
Fadhil sangat hawatir pada Nisa. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya. Ia pun segera menelpon pihak rumah sakit, tentunya menelpon ke bagian OBGYN untuk segera mendaftar untuk pemeriksaan sore nanti.
Beruntungnya ia masih mendapat no antrian yang awal, jadi ia pun menyuruh Nisa dan Zi untuk bersiap-siap ikut ke rumah sakit. Setelah semuanya siap dan Nisa juga sudah berganti pakaian, mereka pun pergi ke dokter OBGYN.
Zi pun turut serta Nisa dan Fadhil untuk pergi ke dokter OBGYN. Ia juga ikut hawatir dengan kondisi Nisa. Bagaimana seorang ibu hamil harus melewati semua itu? Batin Zi pun bertanya-tanya. Apalagi Zi adalah seorang anak yang kritis. Terhadap hal-hal yang baru pasti rasa keinginannya begitu tinggi.
Siang tadi Fadhil sudah membuat jadwal kunjungan dengan dokter Wenny teman dokter Richard. Makanya sorenya mereka langsung pergi kesana tanpa perlu mendaftar lagi.
Beruntung mereka mempunyai kenalan seorang kepala rumah sakit, jadilah mereka mudah mendapatkan no ponsel dokter yang ia butuhkan. Seperti kondisi yang dialami mereka saat itu.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...