
"Oh iya lupa, Daddy lom cerita ya? maaf-maaf sayang... jadi menurut dokter Richard Mommy kamu sedang hamil."
Fadhil mencoba memberi tahu putranya dengan bahasa yang mudah untuk dipahaminya, ia takut kalau menggunakan bahasa formal, Zi akan menjadi bingung, makanya ia pun langsung mengatakan bahwa Nisa sekarang sedang hamil.
"Maksud Daddy aku akan segera menjadi seorang kakak?" tanya Zi penasaran sekaligus terkejut.
"Iya sayang, sebentar lagi kamu akan mempunyai adik, jadi sekarang kita harus menjaga Mommy dan calon adik kamu." Ucap Fadhil dengan bahagia.
Bagaikan disambar petir di siang bolong, dirinya kini bak sedang di ujung tanduk. Antara bahagia atau bersedih, ia pun juga bingung merasakan hatinya sendiri. Disatu sisi ia bahagia akan mendapatkan teman bermain, disatu sisi ia takut akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya.
Sejak kecil Zi selalu sendiri bahkan ia telah menjadi anak tunggal selama tujuh tahun lebih. Selama ini ia pun hidup dalam kasih sayang Nisa dan Fadhil seutuhnya tanpa terbagi. Lalu setelah ini ia harus berbagi kasih sayang dengan adiknya? apakah ia mampu?
Kini Zi kecil dalam dilema yang cukup besar. Akankah ia bisa menghadapi berita bahagia ini dengan ikhlas. Entahlah... hanya Zi dan Tuhan lah yang tau.
Melihat sorot mata kosong yang ditunjukkan Zi, Fadhil mulai merasakan sesuatu. Mungkinkah Zi tidak bahagia mendengar kabar bahagia ini? apakah ia belum siap untuk memiliki adik? Meskipun curiga, Fadhil tetap berbaik sangka pada anak sambungnya tersebut.
"Zi ... kamu melamun sayang ?" tanyanya lembut.
"Hah ... aku? enggak Dad, aku gak melamun kok, hanya teringat sesuatu saja."
"Apakah itu?"
"Ehm, itu ... tentang study tour yang kapan hari kita bicarakan, aku sudah bertanya pada guru pendamping di kelas. Kalau mereka memang sudah merencanakan hal ini sejak lama dan sudah mendapat persetujuan dari dewan sekolah beserta wali murid."
"Owh gitu? jadi semua wajib ikut ya? kira-kira berapa hari acaranya?"
"Sekitar empat harian, dua hari diperjalanan dan dua hari jalan-jalan full, siapa yang mau ikut juga mewajibkan untuk mendapatkan surat ijin resmi dari kedua orangtua wali murid."
"Oke, kalau begitu biar Daddy yang menandatangani surat tersebut, tapi Daddy akan tetap mengirim satu pengawal buat jagain kamu selama perjalanan."
"Ta-tapi Dad, enggak perlu segitunya?"
"Tenang sayang, pengawal Daddy enggak pake baju tugas kok, dia akan pakai baju santai sama kaya kalian, jadi enggak akan ada siswa lain yang curiga, oke?"
"Oke lah, tapi aku enggak mau karena kehadiran mereka menjadikan acara liburanku berantakan."
"Pasti sayang."
"Ya sudah Dad aku permisi ke kamar dulu, mau mengerjakan PR."
"Iya sayang, hati-hati."
Lalu sesudahnya Zi langsung meninggalkan kamar kedua orangtuanya dengan perasaan campur aduk. Fadhil yang melihat kepergian anaknya seolah merasa Zi sekarang menjaga jarak dengannya. Fadhil bingung menjalani situasi ini. Ternyata menikah serumit ini, terlebih ia menikahi seorang janda yang sudah memiliki anak.
Meskipun ia mencurahkan segala kasih sayangnya pada anak sambungnya dengan ikhlas, tetapi seorang anak kecil pasti bisa merasakan perbedaan itu. Apalagi sebelumnya Zi anak tunggal dan sekarang harus mulai belajar berbagi kasih sayang. Fadhil tau betul rasanya menjadi seorang kakak yang tertua, yang meskipun ia berbuat kebaikan sebanyak apapun selalu kalah dengan apa yang dilakukan adiknya.
Selama ini Fadhil menjalani kehidupannya dengan sulit, bahkan sekarang ia bisa berdiri tegak di tempat ini pun karena semua berkat kerja kerasnya di masa muda. Kegigihan untuk membuktikan bahwa dia layak dihormati dan dihargai kini ia raih. Bahkan satu impiannya untuk menikahi Nisa pun tercapai.
...***...
Hidup seseorang tak selamanya indah. Terkadang untuk bisa sampai ke tempat tujuan kita harus mendaki dan berusaha lebih keras ketimbang yang lainnya. Rumput tetangga boleh lebih hijau, tetapi kita wajib menjaga rumput kita sendiri agar tetap hidup dan berwarna hijau.
...***...
FLASH BACK ON
Masa lalu Fadhil yang suram, kini membuatnya dapat berdiri tegar seperti saat ini. Gertakan, cacian yang ia dapatkan di masa lalu masih terngiang indah di telinganya. Bila ia mengingat itu membuatnya kembali bangkit dan bersemangat untuk kembali bekerja.
Tapi mungkin saat kini mereka melihatnya sukses akankah mereka tetap menghinanya seperti dulu? Entahlah... lagi pula Fadhil jarang sekali pulang ke kampung halamannya. Ia lebih memilih untuk pergi dan menjauh dari tempat kelahirannya tersebut.
Bukan berarti ia tak mencintai kampung halamannya atau bahkan melupakan saudaranya yang ada di kampung, tetapi hatinya belum siap untuk terus berada disana. Banyak sekali kenangan manis dan pahit disana, yang sampai saat ini masih ia kubur dalam-dalam. Bahkan Nisa pun belum sepenuhnya mengenal dirinya.
Adik angkatnya lah yang malah mengetahui semua latar belakang dan kisah kelam hidup Fadhil. Maka dari itu hubungan mereka jauh melebihi hubungan sedarah. Karena mereka saling mengisi satu sama lain.
Sebenarnya Fadhil masih memiliki adik kandung, bahkan ia pula yang membiayai sekolah adiknya sampai lulus. Tetapi mereka tidak terlalu dekat satu sama lain.
Fadhil sibuk mengejar karir, sedangkan adiknya menjadi anak penurut sekaligus kesayangan ibunya. Sebenarnya ayah Fadhil juga sangat merindukannya, tetapi ia memendam kerinduan pada anak pertamanya sendirian. Terkadang kalau ia kangen dengan Fadhil ia hanya melepas rasa kangennya dengan telepon atau video call.
FLASH BACK OFF
Sepeninggal Zi ke dalam kamarnya, Fadhil masih betah di balkon kamarnya. Karena kangen, Nisa pun mencari suaminya ke seluruh ruangan kamar tidurnya. Ia melihat pintu ke arah balkon terbuka, mungkin suaminya ada disana.
"Mas, ngapain disitu?" tanya Nisa setelah menemukan sang suami.
Fadhil menoleh, "Sayang, ngapain kamu kesini, sudah engga apa-apakah?"
"Mendingan lah, apalagi aku pakai masker, jadi aman kalau mau deketan sama mas."
"Eh iya juga ya, maaf karena aku pikir itulah satu-satunya cara agar aku bisa dekat denganmu," terang Fadhil.
"Iya mas, aku paham kok, dulu waktu hamil Zi, aku juga pernah ngerasain kayak gini."
"Hah, masa? trus gimana respon suami kamu?"
Nisa menoleh, "Ya hampir mirip kaya kamu mas, cuma dia lebih bisa deket dengan aku, jadi aku gak perlu pakai masker kayak sekarang ini."
"Owh, lalu kenapa calon baby kita enggak mau deketan ayahnya sih, kan aku jadi gemes..."
"Ha ha ha, sabar mas itu juga gak bakal lama kok, cuma di trisemester pertama aja kok, jadi setelah itu kita bisa deketan lagi."
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...