After Married

After Married
LIBURAN ZI



"Akh.. ahirnya aku bisa merasakan study tour ... leganya ..." ucap Zi sesaat ia sampai di tempat tujuan.


Semua rombongan sudah sampai di lokasi sepuluh menit yang lalu. Dari kedua bus yang mengantar mereka, ada sekitar seratus siswa yang ikut dalam acara ini.


Acara tahunan yang memang diadakan oleh pihak sekolah itu sudah berjalan lancar selama lima tahun terahir. Kebetulan angkatan Zi adalah angkatan kelima.


Setelah pembagian kamar berlangsung lancar. Anak-anak dan seluruh guru sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Mereka segera mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah karena perjalanan jauh yang barusan mereka tempuh.


Tak lupa para pengawal Zi sudah melapor pada Fadhil tentang perjalanan Zi seharian tadi.


"Alhamdulillah kalau sudah sampai, semoga kamu menyukai liburan kali ini nak." Ucap Fadhil setelah mendapat laporan dari anak buahnya.


Lalu Fadhil kembali ke ranjangnya dan menemani istrinya untuk beristirahat. Beruntungnya hari ini janin dalam kandungan Nisa tidak terlalu rewel. Jadi ia bisa lebih lama menikmati hari libur ini bersamanya.


...***...


Keesokan harinya, para siswa sudah berbaris rapi di depan hotel. Rencananya setelah sarapan pagi mereka akan menuju Pantai Parangtritis terlebih dahulu. Mumpung masih pagi jadi cuaca tidak terlalu panas dan terik. Baru sesudahnya mereka akan menuju Kraton Yogyakarta.


Rombongan berangkat jam setengah tujuh pagi, jalanan pagi itu masih lancar sehingga mereka sampai di lokasi cukup menghabiskan waktu setengah jam.



Setelah melihat pantai, anak-anak sudah berhamburan di bibir pantai. Mereka ada yang bermain pasir ataupun air laut. Karena mereka jarang melihat pantai, jadi anak-anak begitu suka lalu berlarian kesana kemari.



Beruntung para guru sudah mengantisipasi hal tersebut, yaitu dengan memberi pengawalan lebih diperketat saat anak-anak mulai bermain air.


Ada beberapa guru yang standby di bibir pantai dan menjaga anak-anak agar tidak ada yang melanggar garis batas, dan masuk ke dalam air. Maklum anak-anak terkadang suka melanggar aturan jika mereka sedang asyik bermain.


Apalagi anak-anak tidak terlalu sadar akan bahaya yang mengintai. Anak-anak begitu polos dan membayangkan jika pantai itu tidak berbahaya. Padahal jika ombak besar tiba-tiba datang, hal itu bisa mengancam keselamatan mereka.


Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Zi. Meskipun ia menyukai liburan kali ini, tetapi ia tidak mau mengotori tangan atau tubuhnya dengan air laut. Air laut baginya sangat lengket dan asin. Dia malas jika harus disuruh mandi lagi setelah bermain air laut.


Sharen melihat Zi dari kejauhan, ia tetap memandangi pujaan hatinya dari arah kejauhan. Meskipun ia ingin mendekati pujaan hatinya tapi ia juga takut akan mengubah mood Zi. Maka dari itu ia pun hanya berani memandangnya dari kejauhan.


"Tuan muda, ada yang perlu kami bantu?"


"Nggak usah deket-deket, aku mau sendiri."


"Baik tuan muda, kami permisi."


Lalu pengawal Zi meninggalkan Zi di bibir pantai, lalu menelpon Fadhil, "Selamat pagi Tuan, maaf tuan muda baik-baik saja dan ia ingin sendiri seperti biasanya."


"Apa ia tidak bergabung dengan yang lainnya?"


"Tidak Tuan."


Fadhil menghela nafas, "Ya sudah, awasi saja dari kejauhan."


"Baik Tuan," lalu mereka menutup kembali sambungan teleponnya.


"Ada apa mas? apa Zi mau bergabung dengan yang lainnya?" tanya Nisa dari belakang.


"Boro-boro mau bergabung dengan lainnya, disuruh liburan di pantai saja, ia hanya berdiri di pinggir pantai tanpa mau menyentuh airnya."


Fadhil menepuk jidatnya, "Sebenarnya keturunan siapa sih? gitu amat hidupnya."


Gerutu Fadhil yang masih bisa di dengar Nisa.


"Apa mas barusan bilang? gitu-gitu ya anakku juga mas," ucapnya tidak terima.


"Ampun sayang, maaf mas lupa, bukan maksudku berkata begitu, itu lo, sifatnya yang perfeksionis itu mirip siapa?"


"Ya ayahnya mas, siapa lagi, aku dulu juga gak gitu-gitu amat."


Entah kenapa dari nada bicara Nisa saja sudah bisa dibaca kalau moodnya sedang buruk. Lebih baik diam dan mengalihkan pembicaraan, pikir Fadhil.


Sedangkan Nisa masih sibuk dengan membantu Mbok Ijah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Sedangkan Yo masih berada di kamarnya, ia masih asyik berbalas pesan email dengan Alexa.


Ternyata Alexa baru sampai negaranya satu jam yang lalu, maka dari itu ia baru bisa membalas pesan Yo. Aura Yo pagi itu benar-benar bahagia apalagi pesan dari orang yang dicintainya sudah terbalas.


Karena pagi itu waktunya singkat, Yo pun mengakhiri chatnya dengan Alexa, dan memilih untuk segera berangkat ke kantor bersama Fadhil, ia bahkan melewatkan acara sarapan paginya.


Untungnya Nisa sudah menyiapkan bekal dan makan siang untuk mereka di kotak nasi.


"Ingat ya, yang biru punya mas, dan yang kuning punya Yo," pesan Nisa.


"Iya sayang, aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumsalam sayang."


Setelah Yo dan suaminya berangkat, Nisa masuk kembali ke dalam rumah. Karena Fadhil melarang Nisa untuk pergi ke kantor, ia pun lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan bercocok tanaman hias.


Saat itu kebetulan lagi musim tanaman janda bolong, Nisa pun membeli beberapa jenis aneka tanaman itu. Beberapa diantaranya bahkan dikirim dari kampung halaman Fadhil.


Karena bibi mereka juga seorang petani tanaman hias. Jadi ia tak kesusahan dalam mencari tanaman tersebut.


...***...


Sesuai rencana setelah dari pantai Parangtritis, rombongan Zi berangkat ke Kraton Yogyakarta. Disana anak-anak akan belajar tentang banyak sejarah jawa, khususnya tentang keraton Ngayogyakarta.



Banyak peninggalan sejarah yang bisa mereka pelajari disana. Mulai dari aneka musik gamelan jawa, berbagai macam koleksi mulai dari peralatan rumah tangga, keris, tombak, wayang, naskah kuno, foto dan lukisan diantaranya ada yang berusia sampai 200 tahun.



Banyaknya koleksi yang dimiliki oleh museum Keraton Yogyakarta, perlengkapan jumenengan atau penobatan raja paling banyak menarik perhatian pengunjung di tempat ini.


Peralatan atau ubo rampe penobatan raja terdiri dari dalang, sawung, galing, hardawalika, kutuk, kandil, kacu mas, dan cepuri yang dibuat dari bahan kuningan sehingga semua peralatan tersebut berwarna kuning keemasan.


Koleksi benda-benda pusaka milik Museum Keraton Yogyakarta terbuat dari berbagai macam bahan baku mulai dari, dari perunggu, kayu jati, kertas, kaca besi dan kulit.


Dari tempat inilah para siswa diharapkan bisa lebih mencintai budaya negeri sendiri ketimbang budaya luar yang sudah merajalela.


Menanamkan rasa cinta pada budaya sendiri sejak dini, merupakan langkah awal yang harus dikembangkan agar kedepannya anak-anak bisa menikmati warisan budaya leluhur dan tidak dengan mudahnya menjual budaya negeri sendiri pada negara asing.


...~Bersambung~...


.


.


.


.


.


...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...