
Hari ini adalah hari dimana Zivanna berangkat ke Los Angeles bersama Kenzo. Sesuai rencana mereka akan bertemu dengan nenek Kenzo untuk memperkenalkan Zivanna dengan dirinya.
Tuan Charles tidak dapat ikut karena ia harus memimpin perusahaannya selama Zivanna pergi. Apalagi ia sama sekali tidak percaya dengan bawahannya dan hanya percaya pada putri satu-satunya itu.
Dulu ia masih mempunyai Zein sebagai tangan kanannya tapi kini Zein sudah sibuk dengan perusahaannya sendiri. Pernah terbesit rasa jika ia ingin menjodohkan kembali Zivanna dengan Zein tapi ternyata ia sudah memiliki calon pendamping sendiri. Hingga akhirnya ia tak lagi memaksa Zivanna untuk selalu mengikuti keinginannya.
Sebuah pernikahan atau cinta memang tak bisa dipaksakan. Karena cinta itu murni dari hati, biarkan cinta memilih takdirnya sendiri. Seperti air yang terus mengalir mencari jalannya sendiri untuk bisa sampai ke muara.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Permisi Tuan, ada Pak Zein yang ingin bertemu dengan Anda di luar."
Tuan Charless tersentak dari lamunannya lalu mengiyakan pertanyaan dari sekretarisnya.
"Iya, suruh dia masuk!"
"Baik!"
Setelah mendapat ijin, Linda kembali ke meja sekretarisnya.
"Pak Zein, mari saya antar ke ruangan Tuan Charles, beliau sudah menunggu kedatangan Anda."
"Terima kasih."
"Selamat datang Zein, bagaiman kabarmu?"
"Alhamdulilah lumayan Tuan."
"Hei, jangan panggil aku Tuan, kau adalah anakku."
"Hahaha, Tuan bisa saja."
"Duduk, ayo duduk."
Tuan Charles menepuk bahu Zein lalu mengajaknya untuk duduk di sebelahnya.
"Aku bersyukur kau masih selamat, Nak. Tidak disangka setelah kau pergi selama hampir lima tahun, kita bisa bertemu lagi."
Tuan Charles tampak menitikkan air matanya. Meski banyak hal yang coba ia sembunyikan, tapi mata tua itu tak bisa berbohong jika saat ini dirinya sangat rapuh.
"Maaf, jika kedatanganku membuat Anda bersedih."
"Bukan, bukan karena itu. Andai waktu bisa terulang kembali, aku pastikan kau bersanding dengan Zivanna."
"Tapi, bukankah Zivanna sudah bahagia?"
Mata tua itu melihat ke arah Zein.
"Ternyata kau mengikuti perkembangan tentang kabar putriku?" ucapnya sambil tertawa.
"Bagaimanapun juga, Zivanna sudah aku anggap sebagai adikku sendiri."
"Terima kasih Zein untuk perhatianmu, aku sangat bersyukur karena kau tidak melupakan kami."
Zein memegang kedua tangan Tuan Charless.
"Sampai kapan pun, aku tetap mengingat kebaikan Anda, jadi jagalah kesehatan Anda seperti dulu."
"Oh, iya. Meski kau bukan anakku, tapi aku sudah menganggap kau sebagai anakku. Jadi, jika nanti aku pergi, tolong bantulah Zivanna untuk mengurus perusahaan ini."
"Jangan berkata begitu Tuan, Anda akan baik-baik saja."
.
.
...⚜⚜⚜...
...Los Angeles...
"Akh, akhirnya sampai juga!" teriak Zivanna bahagia.
"Kamu senang?"
"Tentu saja bodoh, perjalanan ke kotamu sungguh membuat punggungku encok!"
"Wkwkwk, maaf sayang. Tenang saja, setelah ini, kita nggak perlu perjalanan jarak jauh lagi, nanti ayah serta perusahaanmu bisa kita pindahkan ke sini."
Mata Zivanna sontak melotot tajam karena ucapan Ken seolah memutus sebuah perkara secara sepihak. Tangannya mendorong tubuh Ken hingga ke belakang.
"Nyebelin!"
"Tapi makin sayang, 'kan?"
"Enggak."
Zivanna berlari meninggalkan Ken, tapi berhasil di susul oleh Ken.
Grep.
Tangannya memeluk tubuh Zivanna, lalu memberinya kecupan di keningnya.
"Love you Zivanna."
"Love you too Kenzo."
.
.
...⚜⚜⚜...
...Bali, Indonesia...
Saat ini Fadhil sedang memeluk tubuh Nisa sambil memandangi anak-anak mereka yang sedang bermain di area kolam renang. Fadhil sangat bahagia melihat keluarganya tetap utuh sampai saat ini.
Meski harus berbuat seperti ini, tapi setidaknya Zein tidak mendekati keluarganya lagi.
"Mas, kau tidak usah khawatir, di dalam sini hanya ada aku, kamu dan anak-anak kita. Jangan pernah meragukan kesungguhanku padamu."
"Maafkan untuk kesalahpahaman kemarin ya, maafkan untuk semua kebodohanku. Love you Annisa Faiha."
"Love you too, suamiku sayang."
Dibawah cahaya senja sore itu, semuanya bahagia karena telah menemukan kebahagiannya masing-masing.
...-TAMAT-...
...⚜⚜⚜...
..."Keluarga yang baik dibagun dengan cinta, dimulai dengan kasih sayang, dan dipelihara dengan kesetiaan."...