
Sebuah kenyataan jika Nisa sudah menikah lagi dua tahun yang lalu, masih menyisakan sebuah pertanyaan di hati Zein, apakah benar cinta untuknya telah musnah. Atau Nisa sengaja membuang jauh perasaannya dan lebih mementingkan kebahagiaan Zi dan Fadhil.
Zi memang membutuhkan sosok ayah, belum lagi perusahaan Nisa semakin berkembang mau tidak mau ia harus memiliki pasangan hidup yang bisa membantu untuk menghandle perusahaan peninggalan Zein.
Andai saja saat itu ia tidak kecelakaan sudah pasti ia tidak akan repot seperti saat ini.
"Sial, kenapa jadi seperti ini, Nisa jika kamu memang tidak bahagia, maka maaf Fadhil aku akan merebut apa yang seharusnya memang menjadi milikku."
Mang Dede juga bercerita kalau setelah Zein pergi, Nisa merasa sangat terpuruk. Ia hampir depresi karena cinta sejatinya meninggalkannya. Beruntungnya Fadhil selalu berada di sisi Nisa. Begitu pula dengan pengasuhan Zi. Fadhil bahkan sudah menganggapnya sebagai putranya sendiri. Mungkin karena kasih sayangnya dan seluruh perhatian untuknya dan Zi. Maka ahirnya satu setengah tahun yang lalu Nisa ahirnya luruh dan mau menjadi pendamping hidup untuk Fadhil.
Entah kenapa meskipun ingatannya belum pulih kembali, tetapi hatinya merasakan getaran lain meski hanya dengan menyebut namanya saja.Tetap saja hatinya tidak tenang jika mendengar nama Nisa ataupun Zi. Zein sangat bingung dengan perasaanya kali ini. Tetapi ia harus secepatnya memastikan segalanya. Agar setidaknya ia bisa bernafas dam berpikir lebih jernih lagi.
Mang Dede juga tidak bisa membantu banyak dalam hal ini, posisinya kini hanyalah perantara untuknya dan Nisa. Bagaimanapun nanti hasil ahirnya ia serahkan pada Allah.
Setelah menentukan tanggal pertunangan, Kenzo meminta ijin pada Zivanna untuk kembali ke Los Angeles.
"Jadi malam ini kamu jadi berangkat?"
"Iya, karena tiket juga sudah aku di tangan, maka kamu jangan bersedih lagi sayang."
"Tapi jangan lama-lama ya, aku nggak bakal kuat."
"Iya, Sayang, aku janji."
"Apapun yang kamu inginkan pastu aku akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik."
"Terima kasih, Sayang."
.
.
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya permisi, Dokter."
Mendapat penjelasan dari dokter, setidaknya memberikan ketenangan pada Leo. Beberapa saat tadi ia memang membawa Sheril ke Rumah Sakit karena demamnya tak kunjung menurun dan belum siuman.
Leo menutup pelan pintu kamar ruang rawat Sheril. Kedua matanya tertuju pada seorang gadis yang terbaring lemah di atas brankar. Dengan perlahan ia mendekati brankar itu. Ia duduk disampingnya dengan kedua tangan yang memegang erat salah satu tangan Sheril.
"Maaf, aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu, setelah kamu sembuh, aku akan mempertemukan kamu dengan Sovia agar kamu bisa mendapatkan kejelasan untuk hal itu."
"Satu hal yang perlu kamu ketahui adalah sampai kapanpun aku akan tetap menjadi milikmu dan hanya dirimu yang akan menjadi pemilik hatiku untuk selamanya."
Karena hari semakin larut, tak terasa Leo ikut tertidur di samping brankar Sheril. Bahkan di saat ia mulai mendapati kesadarannya, Leo masih belum bangun.
...🌹Bersambung🌹...
Oh ya jangan lupa dukungan like, rate dan favorit ya kak. Jangan lupa 🌹☕ dan VOTE untuk menyemangati Author, makasih banyak🙏🤗