
"Sokor kena omel kan." Cibir Yo untuk Sheril.
"D-diam kau bebek sawah."
"Sudah ... sudah ... kalian ini ... seperti kucing dan anjing saja, kalau ketemu 'ga pernah akur."
"Dia yang mulai .....!"
Sheril dan Yo sama-sama saling menunjuk satu dengan yang lain. Tak ada yang mau mengalah satu sama lain.
đSheril dan Yoshua POV
Sheril memang masih ke kanak-kanakan, ia sudah terbiasa dimanja sejak kecil. Apapun keinginannya selalu dipenuhi kedua orangtuanya.
Ia pun tak pernah merasakan kehidupan susah seperti yang dialami Yoshua.
Berbanding terbalik dengan Yo. Dia sejak kecil sudah dibuang oleh kedua orangtuanya. Ia diketemukan di depan sebuah Yayasan Panti Asuhan. Ia hanya ditemani sebuah surat sebagai temannya.
Hidup susah dan mandiri sejak kecil membuatnya tumbuh berbeda dengan anak-anak lain. Ia sangat tekun dalam hal teknolgi dan ilmu keuangan. Semua buku bertema bisnis dan teknologi sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Yayasan yang ia tempati merupakan sebuah yayasan yang lumayan bagus karena memiliki sebuah perpustakaan dan lembaga pendidikan. Donatur yang menyumbangkan sebagian rupiahnya tak pernah absen dalam mencukupi semua kebutuhan anak-anak panti.
Beruntung saat ia remaja ia bertemu dengan Fadhil yang kini membawanya keluar dari Yayasan Panti Asuhan tersebut. Ia bertemu dengan orang yang tepat dan sangat baik.
Untung saja saat menemukannya Fadhil masih single, jadi tak ada yang cemburu saat ia diangkat adik olehnya. Jaman sekarang kalau yang mengangkat anak panti sudah menikah, pasti ada saja yang tidak menyukai kehadirannya.
Tetapi Fadhil dan Nisa berbeda. Mereka sungguh orang-orang baik dan berhati mulia. Mereka tak mempermasalahkan tentang jati diri dan asal usulnya.
Memang saat ia diangkat adik, Nisa baru saja kehilangan suaminya. Dan ia masih belum mengenal Nisa secara pribadi. Tetapi semua hal sudah diceritakan padanya secara bertahap, apalagi Yo tinggal satu rumah dengan Fadhil.
...***...
"Sudah kak, lebih baik aku ke ruanganku saja, ingat rapat satu jam lagi, jangan terlambat kak." Pamit Yo pada atasannya.
"Ok."
Dan Yo pun keluar dari ruangan Fadhil, tak lupa pelototan tajam ia hunuskan pada Sheril. Jangan ditanya lagi ekspresi Sheril saat melihatnya.
Setelah Yo keluar, Sheril pun mulai mendekati Fadhil.
"Stop disitu ... katakan ada keperluan apa?"
"A-aku pengen ngajak kakak makan siang nanti, apa kakak punya waktu?"
Fadhil mulai melangkah kembali menuju kursinya.
"Menurutmu?"
"Jangan bilang kakak 'ga punya waktu."
"Kamu tau sendiri, pekerjaanku banyak sekali, kalau aku menemanimu, lalu siapa yang akan mengerjakan semua pekerjaanku ini?"
Fadhil pun menunjukkan tumpukan map di depan mejanya ke arah Sheril.
"Ka-kak, jangan banyak alasan deh, kakak kan punya karyawan banyak, kenapa bukan mereka yang mengerjakan?"
"Kamu tau kenapa? Karena semua ini hanya CEO yang boleh menandatangani dan memeriksa semua proyek-proyek ini." Ucapnya tegas.
Kini Sheril yang kehilangan kata-kata. Kalau sudah begitu ia tak mempunyai alasan untuk mengajak Fadhil makan siang. Dia pun terduduk lesu di sudut sofa ruangan kerja Fadhil.
"Kamu kenapa? Kenapa tak memberi kabar lewat telepon kalau mau mengajak aku keluar?"
"I-itu karena ponselku disita ayah." Ucapnya tertunduk.
"Ha ha ha ... memangnya kenapa lagi? Kau membuat ulah lagi?"
"I-itu ... hhh lebih baik aku pulang, lain kali awas saja kalau kakak menolakku lagi!" ancamnya.
"Ok gadis kecil." Ucap Fadhil.
Sheril pun berbalik, "STOP mengataiku anak kecil, aku calon istri kakak, TITIK!"
Dan Sheril pun segera meninggalkan ruangan Fadhil dengan tergesa-gesa. Ia sudah muak, karena semua usahanya untuk mendekati Fadhil sia-sia saja.
Saat di perjalanan menuju lift ia kembali berpapasan dengan Nisa.
"Hah, wanita itu lagi?" tanya Sheril dalam hatinya.
"Siapa sih dia, kok selalu ketemu aku disini."
"Tunggu dulu, aku harus mencari tau semuanya tentang wanita itu."
Saat ia mau mengejar Nisa, bayangan Nisa sudah tidak kelihatan lagi. Sheril pun menoleh ke kanan dan kekiri untuk mencari keberadaa Nisa. Tetapi nihil, tak ada jejak yang ia tinggalkan.
"Hih, jadi ngeri sendiri, apa dia penunggu disini ya?"
...***...
Nisa sudah sampai diruangannya kembali. Ia baru saja dari pantri untuk membuat teh hijau kesukaannya. Entahlah beberapa tahun terahir ini ia sangat menyukai teh hijau.
Beberapa manfaat teh hijau yang ia ketahui adalah sebagai berikut.
đManfaat teh hijau untuk wajah dan kulit terawat
1.Melawan penuaan dini. Teh hijau sering dijadikan sebagai masker wajah.
2.Mengatasi jerawat dan kulit berminyak.
3.Melembapkan kulit.
4.Membantu melawan kanker kulit.
5.Meredakan kulit kemerahan dan iritasi
6.Mengurangi sebum berlebihan.
7.Mengatasi area mata sembap.
Jika dikonsumsi secara rutin, teh hijau dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, antara lain:
1.Mencegah penyakit jantung dan stroke.
2.Menghambat pertumbuhan sel kanker.
3.Mencegah diabetes.
4.Menurunkan berat badan.
5.Menstabilkan tekanan darah.
Karena banyaknya manfaat yang ia dapatkan dari seringnya mengkonsumsi teh hijau, ia pun tak pernah absen untuk mengkonsumsi 1 cangkir teh setiap pagi. Dari harumnya saja sudah membuatnya rileks, sehingga ia akan lebih bersemangat untuk mengerjakan tugas-tugas di kantornya.
Sejak ia menggantikan posisi Zein dalam perusahaan, ia sudah sangat jarang mengurusi pekerjaan rumah tangganya, tetapi kadang kala ia masih membuatkan masakan untuk anak semata wayangnya tersebut. Bahkan kalau weekend ia akan menghabiskan waktu dengan menemani anaknya di rumah.
Ia sadar semakin lama putranya akan tumbuh dewasa, masa anak-anaknya akan segera berganti dengan masa pendidikan, yang mungkin nanti akan membuat jarak diantara mereka karena kesibukan masing-masing.
Maka dari itu ia tidak mau kehilangan moment bersama putranya tersebut. Untungnya Zi tidak pernah protes dengan kesibukannya. Single Mom membuatnya harus bekerja keras untuknya.
Sifat kemandirian Nisa sudah keterlaluan. Sampai saat ini ia terlalu menutup mata untuk cinta yang lain. Padahal sudah jelas-jelas Fadhil selalu ada disisinya, bahkan semua cinta dan perhatian darinya tak pernah absen untuknya dan Zi. Mungkin ketakutan akan kegagalan cintanya membuatnya takut untuk menjalin sebuah hubungan lagi.
Cinta keduanya membuat Nisa harus berpisah paksa dengan suaminya. Disaat mereka baru berbahagia mempunyai putra, kecelakaan maut harus memisahkan mereka. Tapi apa yang sudah terjadi tidak bisa dihindari.
Masa depan didepan sana menanti kita untuk tetap bisa bertahan. Jika satu kehidupan telah hilang, kita harus mencoba bangkit dan meneruskan kehidupan lain yang sudah diamanahkan untuk kita. Masih ada orang lain yang juga harus kita bahagiakan.
Kita tak pernah sendiri, waktu terus berjalan. Jika kamu terus berada dalam lubang yang sama dan tak mencoba bangkit. Bukankah kita akan semakin jatuh terperosok dan semakin dalam.
Maka bangunlah, dan teruskanlah kehidupanmu, jadilah orang yang bermanfaat untuk sesama. Kira hidup berdampingan, masih ada kehidupan lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Mungkin dibalik semua musibah yang kita hadapi, Tuhan sedang mendewasakan kita.
Agar kita mampu berdiri tegak lagi dan lebih banyak mengucap syukur.
...đ~đ~đ~đ~đ...
Terimakasih Ya Allah untuk nafas yang telah engkau berikan hari ini
Terimakasih engkau telah membuatku kembali bisa melihat mentari hari ini
Jadikanlah hamba makhluk yang senantiasa bersyukur untuk semua nikmat dariMu
~Bersambung~
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKđđ...