
Sebelum Fadhil mengakuisi perusahaan Zein ia sudah mempelajari siapa saja rival atau patner bisnisnya. Jadi langkah yang akan ia ambil sudah pasti lebih aman dan terjaga demi kelangsungan hidup perusahaan Nisa dan dirinya.
π~π~π~π~π
Beberapa bulan kemudian.
Zi kecil sudah bisa berjalan, dan sekarang Nisa hanya tinggal bersama putranya dan pengasuh anaknya saja. Ibu Nisa pun sudah kembali ke kampung halaman Nisa.
Sejak perusahaan Zein dibawah naungan Fadhil, perusahaan mereka sudah kembali stabil. Dan Nisa juga sudah mulai masuk kembali dalam jajaran direksi. Meskipun tidak aktif tapi delapan jam waktunya tetap ia gunakan untuk bekerja.
Ia tak mau terlalu banyak membebani Fadhil. Sudah banyak hal yang ia lakukan demi keluarga Nisa.
Hubungan Nisa dan Fadhil pun semakin akrab, begitu pula Fadhil bersama Zi kecil.
Pernah suatu ketika, saat Fadhil mampir ke rumah Nisa sehabis pulang kerja, ia menemukan Zi kecil tengah tertidur lelap dalam dekapan Fadhil.
Mungkin mereka sama-sama lelah setelah puas bermain bersama. Tapi memang kebiasaan Zi kecil sehabis mandi sore, biasanya ia akan langsung tidur. Nah beda ceritanya kalau Fadhil, mungkin ia terlalu capek bekerja yang pada ahirya ikutan ketiduran bersama si kecil.
Ia pun tersenyum melihat keakraban mereka. Setetes air mata pun mengalir tanpa permisi dikedua pipi Nisa. Ia pun segera menghapus air mata itu sebelum hatinya kembali nyeri.
Ia pun berbalik arah ingin meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba ia berpapasan dengan Mbok Iyem.
"Non?"
"Eh mbok, aku ke kamar dulu, mau mandi."
"I-iya non."
Lalu Nisa pun meninggalkan kamar Zi dan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia pun tertunduk lesu.
Bagaimana tidak? hal yang barusan ia lihat seharusnya dilakukan oleh suaminya sendiri. Bukan orang lain seperti Fadhil, tapi takdir kejam telah merenggut paksa kebahagiaannya.
Disaat ia harus menikmati kebahagiaan bersama keluarga kecilnya, ia harus menikmati takdir kejam. Putranya bahkan belum sempat menikmati kasih sayang dari ayah kandungnya. Dan kini limpahan kasih sayang ia terima dari pamannya.
"Tuhan, kenapa kau begitu kejam padaku? apa salahku, apa salah anakku, sehingga engkau memisahkan kami dengan ayahnya?"
Nisa sungguh tak kuasa menahan kerinduan terhadap suaminya. Banyak kenangan manis yang tak bisa ia hapus dalam sekejap mata.
Zein yang sangat sempurna dimata Nisa, kepergian yang mendadak, bahkan sampai saat ini jasatnya tidak diketemukan dan dinyatakan hilang bersama puing-puing pesawat. Membuatnya semakin terpuruk dalam kesedihan yang mendalam.
Mbok Iyem yang melihat majikannya kembali terpuruk hanya bisa mengelus dada. Dan meninggalkan kamar majikannya tersebut.
Sebenarnya ia ingin menawarkan makan pada majikannya tersebut sekembali dari kamar Zi. Tapi tak sengaja ia mendengar majikannya menangis, membuat ia mengurungkan niatnya dan ia pun kembali ke dapur.
πKamar Zi
Fadhil yang baru saja tertidur terasa terusik tatkala merasakan ada sesuatu yang berat menindihnya. Ia pun menyipitkan matanya, dan melihat apa yang telah menindihnya saat ini. Ternyata Zi kecil terlelap didalam pelukannya.
"Huft, untung saja aku tak melempar kamu sayang, he he he ... paman kira kamu boneka yang biasa paman peluk sewaktu tidur."
Lalu dengan telaten dan perlahan, Fadhil memindahkan Zi kecil dalam kasurnya. Dan dengan perlahan ia pun keluar kamar Zi. Niatnya ia ingin numpang mandi, karena badannya sudah terlalu lengket apalagi sehabis kerja ia belum mandi.
Dan ia pun menuju dapur. Disana ia menemukan Mbok Iyem.
"Eh den Fadhil sudah bangun?" sapa Mbok Iyem.
"I-iya mbok."
"Maaf Nisa dimana ya mbok?"
"Nyonya ada dikamar den, apa perlu saya panggil?"
"Ndak usah mbok, saya mau mandi dulu trus pulang."
"Jangan pulang dulu den, mbok sudah menyiapakan makan malam lo, sayang kan kalau mbok buang lagi."
"Iya mbok, sebentar ya."
"Oh ya, Zi sudah saya tidurkan di kamarnya."
"Sama-sama mbok."
Lalu Fadhil pun menuju kamar tamu untuk membersihkan diri sekalian buat berganti baju. Meskipun Fadhil bukan anggota keluarga Nisa, tetapi Nisa sudah menyiapkan beberapa kaos dan celana ganti buatnya. Memang karena frekuensi Fadhil bertamu cukup banyak saat ini.
Sesudah siap ia pun turun dan menuju ruang makan. Dan disana sudah ada Nisa yang menunggu.
"Sudah bangun kak?" sapa Nisa.
"Sudah lah, maaf ya malah ketiduran."
"Ga apa-apa, yuk makan dulu."
"Oke."
Lalu mereka berdua pun makan dalam kesunyian.
Tak ada obrolan sama sekali, tapi memang begitulah adanya. Sampai saat ini Nisa masih canggung kalau disuruh berbicara banyak dengan Fadhil, begitu pula sebaliknya.
"Aku pulang dulu Nis, sudah malam, engga enak sama tetangga."
"Iya kak, makasih sudah meluangkan waktu untuk menemani Zi bermain tadi."
"Iya, sudahlah jangan banyak fikiran, lagian itu sudah menjadi kewajibanku juga untuk menjaga kalian."
"I-iya, hati-hati kak."
"Iya, assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikumsalam kak."
Lalu Nisa pun segera masuk rumah. Sedangkan Fadhil langsung mengemudikan mobilnya menjauhi pekarangan rumah Nisa.
Sebenarnya malam ini ia sangat lelah, sehingga ia ingin sekali menginap di rumah Nisa. Tapi ia sadar diri, tak mungkin memaksakan kehendaknya untuk bermalam.
Saat di jalan raya, mungkin karena efek lelah. Mobil yang dikendarai Fadhil hampir saja ditabrak oleh pengemudi dari arah berlawanan. Sehingga ia pun memutar stir kemudi ke arah kiri, sedangkan mobil dari arah berlawanan menabrak dinding pembatas jalan.
Fadhil yang mempunyai rasa empati tinggi lalu membuka pintu mobilnya dan mencoba mengecek mobil yang hampir saja menabraknya. Ditengoknya pengemudi dari kaca mobil. Terlihat seorang gadis yang mengalami cedera kecil karena ulahnya tadi.
Ia pun mengetuk pintu kaca mobil, tapi tidak bisa terbuka. Dengan cara lain ahirnya pintu mobil bisa terbuka. Dan ia pun menggendong pengemudi mobil yang pingsan tersebut. Ia lalu menelpon ambulans dan kantor polisi untuk menangani kasus tersebut. Dan sesaat kemudian ambulans datang bersamaan dengan mobil polisi.
Dengan segera ia membuat laporan kecelakaan dan menyerahkan korbannya. Ia pun segera mengikuti mobil ambulans dan menuju rumah sakit untul mengurus administrasinya kemudian ia berniat pulang.
Dalam hal kecelakaan Fadhil sudah sedikit paham tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi hal seperti tadi, maka oleh karena itu ia segera melakukan hal-hal tadi.
Sesudahnya ia pun menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia pun tak memberi tahu assisten pribadinya tentang hal yang terjadi barusan. Karena hari memang sudah sangat larut dan ia pun sudah sangat lelah. Tidak butuh waktu yang lama, 10 menit kemudian ia sudah tertidur.
~BERSAMBUNG~
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAKππ...