
Berhubung jembatan kuno Arts dan Archevêché ini sangat dijaga kelestariannya, pemerintah sedang mencari jalan keluarnya untuk memindahkan gembok tersebut. Bagi wisatawan yang masih ingin melihat bukti cinta dari pasangan di seluruh dunia, sekarang bisa mengunjungi dua jembatan dengan gembok cintanya.
Sore harinya, mereka menikmati pemandangan dari sungai Saine.
Ternyata, beberapa kapal layar yang ada di sungai Saine ini menawarkan sistem menu hidangan siang dan malam. Lumayan mahal memang harga yang dipasang oleh kapal layar ini. Tapi demi membahagiakan Nisa, Fadhil melakukan semuanya dengan penuh rasa cinta.
Sebenarnya kita bisa saja memilih untuk menikmati santap siang atau malam. Bahkan menu siang lebih murah dari pada menu makan malam. Rata-rata restoran di Perancis memang seperti itu.
Jika kita memilih santapan siang, kita bisa menikmati wisata Paris dari dalam kapal. Kelebihannya jika kita memilih makan siang diatas kapal, kita dapat melihat lebih jelas tempat-tempat wisata di siang hari. Tapi memang suasananya lebih terasa romantis jika kita menikmatinya malam hari.
Tetapi karena Fadhil ingin memberikan sebuah moment yang lebih spesial untuk istrinya, maka ia memilih mengajak Nisa berlayar diatas sungai Saine malam hari.
Ahirnya, acara hari itu pun ditutup dengan makan malam romantis dari atas kapal yang mengapung di atas sungai Saine. Mereka menikmati keindahan pemandangan kerlap kerlip lampu kota yang berjejer indah di sepanjang tepi sungai Saine.
Hal itu dilakukan karena Fadhil ingin mendapatkan keromantisan total, makanya ia memilih malam hari. Berlayar dalam kapal dengan cahaya bulan yang terpantul di permukaan sungai Saine, dan cahaya lampu-lampu yang menjadikan dekor dari kota Paris membuat keromantisan cinta mereka terasa lebih totalitas.
Apalagi dari kapal tersebut juga terlihat keindahan Menara Eiffel secara lebih jelas. Menara yang dihiasi lampu membuat suasana menjadi lebih romantis.
Hari itu Nisa benar-benar dimanjakan oleh Fadhil. Makan malam romantis diatas sungai Saine, perlakuan manis yang ditunjukkan Fadhil hari itu membuat Nisa tak henti-hentinya untuk bersyukur.
Ahirnya ia bisa mendapatkan sedikit kebahagiaannya dengan benar-benar ikhlas melepas Zein untuk selamanya. Meskipun bukan dalam arti melupakan semua kenangan indah bersama suaminya dulu.
Nisa pun membiarkan kenangan bersama mendiang suaminya pergi perlahan tapi pasti, yang kini tergeser oleh cinta dan kasih sayang dari Fadhil.
Fadhil melihat genangan air mata di pelupuk kedua mata Nisa. Ia pun menjadi salah tingkah, apakah semua perlakuan itu menyakiti hati istrinya? Di tengah kegundahan hatinya, ia pun memberanikan bertanya pada istrinya.
"Sayang, kenapa kamu menangis?"
Nisa pun terhenyak, ia kaget dengan pertanyaan suaminya barusan, apakah Fadhil melihatnya melamun? ataukah melihatnya menangis?
"Hah, aku enggak menangis kok!" ucap Nisa panik sambil mengusap kedua matanya.
"Kalau kamu tidak menangis kenapa sampai ada buliran air mata yang jatuh di kedua pipimu sayang..." Ucap Fadhil sembari menghapus jejak air mata yang entah sejak kapan keluar dari mata indah Nisa.
Nisa sendiri sampai tidak sadar akan kejadian tersebut. Apakah ini efek karena bahagia, atau ini efek karena tadi sempat terlintas memory bersama Zein?
Batin Nisa terus bertanya-tanya, tapi ia juga berusaha untuk menetralkan suasana hatinya.
Ia tidak mungkin membiarkan Fadhil melihat gurat kesedihan diwajahnya. Ia pun mencoba menghangatkan kembali suasana malam itu.
"Mas, terimakasih ya sudah membuat moment-moment indah di hari ini. Aku bahagia banget hari ini." Ucap Nisa sembari menggenggam jari Fadhil.
"Aku mencintaimu Nisa, apapun akan aku lakukan asal kamu bahagia, aku sangat mencintaimu, I Love You Forever..." Ucap Fadhil sembari mencium punggung tangan Nisa berkali-kali.
Membuat sang empunya merona karena tingkah romantis yang dilakukan suaminya tersebut.
...***...
...Dalam diam, di dalam keheningan malam...
...Kedua bola mata itu bertemu...
...Mengisyaratkan betapa besarnya cinta mereka saat ini...
...Membuat siapa saja yang melihatnya iri...
...Nisa, semburat merah di kedua pipimu semakin menambah indah ayumu...
...Bak cakrawala jingga yang menghiasi langit di sore hari...
...Kecantikanmu alami...
...Semua tingkah lakumu selama ini...
...Semakin membuatku jatuh cinta semakin dalam padamu...
...Biarkan aku menjadi pelabuhan cinta terahirmu...
...Jadilah bidadari surgaku untuk selamanya...
...Raihlah tanganku selalu...
...Agar aku bisa selalu menuntun setiap langkahmu...
...Berjalanlah berdampingan bersamaku...
...Agar aku tetap tegar dikala badai menerjang nanti...
...Aku tau mungkin diriku tak seperti dirinya...
...Aku tau aku bukan sosok yang kamu cari...
...Tapi ijinkan aku menjagamu dan anak-anak kita nanti...
...Menjaga keutuhan cinta kasih kita...
...I love you Anisa Faiha...
...Fadhil, Paris...
...***...
Ahirnya moment acara makan malam saat itu diahiri dengan romantis. Sepasang anak manusia itu melepaskan semua perasaannya dan semakin terhanyut akan suasana romantis yang tercipta malam itu.
Selepas makan malam Fadhil mengajak Nisa menikmati indahnya sungai Sine dari atas kapal. Fadhil memeluk pinggang Nisa dari belakang, dagunya ia sandarkan tepat di bahu Nisa. Sesekali mereka beradu pandang, lalu kembali melihat kerlap kerlip lampu kota.
Malam itu dan semua kenangan yang terjadi hari itu akan Nisa kenang untuk selamanya. Kisah cinta dan kehidupan yang baru untuk Nisa dan Fadhil baru saja dimulai.
Akankah mereka mampu menjalani setiap ujian dan cobaan dalam pernikahan mereka?
...***...
"Rumah tangga sakinah bukanlah yang terbebas dari ujian. Rumah tangga sakinah adalah yang mampu menghadapi ujian bersama seraya berpegang teguh pada syariat-Nya."
Ujian juga harus dipandang sebagai rahmat dari Allah swt. Karena tak ada manusia yang lepas dari dosa, maka Allah menetapkan salah satu cara pembersihan dosa manusia dengan ujian-ujian yang diberikannya. Jika tak ada ujian, manusia akan sulit bersyukur dan jarang terbersihkan dosanya.
“Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap Muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya,” (HR Bukhari).
Meski tak selalu, ujian dalam pernikahan juga hadir sebagai bentuk teguran Allah terhadap pelanggaran di masa terdahulu. “Saya sangat yakin bahwa kebahagiaan itu adanya di dalam jiwa kita. Dan hanya Allah yang bisa memberikan rasa bahagia itu. Maka semua proses sejak awal (niat dan caranya) harus selalu memenuhi tuntunan-Nya,”
Ujian juga merupakan bentuk perhatian Allah kepada hamba-Nya. Firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216).
Ujian rumah tangga kadang datang berupa keterbatasan atau bahkan keterpurukan ekonomi keluarga. Di sinilah sifat qana’ah (menerima apa adanya dalam hal kebendaan atau duniawi) sangat dibutuhkan. Ia adalah rahasia kebahagiaan, yang tidak menjadikan kesempitan duniawi sebagai sumber percekcokan apalagi perceraian.
...~Bersambung~...
.
.
.
.
.
...DUKUNG SELALU AUTHOR DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK🙏😊...